Assalamu'alaikum, memang benar,asal mula perbedaan pendapat berakar dari ulama2 ataupun mursyid2 terdahulu. yang jadi pertanyaan, mursyid mana yang kita ikuti jika ada perbedaan antara mursyid terdahulu dengan yang sekarang, yang masih hidup dengan yang sudah mati. misal Kalau mursyid terdahulu tidak mengatakan haram, sedangkan yang sekarang mengatakan haram mana yang kita pilih.
kepada moderator, bolehlah kirannya angkat masalah guru mursyid ini, misalnya apa ciri2 wali/ mursyid yang haq. sehingga kita bisa menilai apakah pantas kita mengikutinya atau tidak. Wassalamu'alaikum. Pada tanggal 28/04/08, S Sabry <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Setuju... > > Ilmu itu sendiri ada 4. Syariat, Tareket, Hakikat dan Makrifat. Setiap satu > banyak pula cabangnya.. Bagi wali-wali Allah keempat-empat ilmu ini telah > pun mereka pelajari dan fahami. Maka para wali Allah pada kebiasaannya akan > berbicara dengan orang lain sesuai dengan duduk atau faham ilmu > seseorang itu. Ini adalah supaya tidak menimbulkan salah faham antara satu > dengan yang lain.. Itulah antara ciri-ciri seorang yang mursyid. > > Pada pandangan saya , Syekh Nazim itu menyampaikan begitu, sesuai dengan > kefahaman orang-orang yang mendengar ceramahnya ketika itu. Kerana > kebanyakkan posting dari Tarekat Haqqani ini diambil dari ceramah-ceramah > Syekh Nazim. Tambahan, sememangnya dari sudut sains (salah satu cabang ilmu > syariat) telah dibuktikan kesan-kesannya pada kita. Begitu juga dari sudut > ekonomi (juga salah satu cabang ilmu syariat). > > Bagi wali-wali Allah yang lain mungkin mereka memandang dari sudut ilmu yang > lain pula. Makanya, mereka tidak menyalahkan pendapat-pendapat > seperti (sebagai contoh) dari Syekh Nazim. Kerana sememangnya tidak salah. > Makanya tidak timbul betul atau salah disini kerana semuanya adalah benar > dari sudut ilmu masing-masing. > > Tapi malang sekali bagi kita yang mengaku sebagai murid kepada guru-guru > kita, kita tidak mahu mencontohi perlakuan guru-guru kita. Hanya sekadar > ikut-ikutan tanpa mahu menyelami ilmu yang ada pada guru-guru kita itu. > Lihat saja Abah Anom & Syekh Nazim (betulkan saya kiranya salah). Syekh > Nazim sendiri pernah bertemu dengan Abah di Tasik. Bagaimana mereka saling > hormat menghormati bahkan mengiktiraf antara satu sama lain. Kenapa kita > kita tidak begitu. > > Maka rugilah kita.. Sebagai contoh, bertahun-tahun berzikir tetapi masih > belum tahu apakah rahsia atau ilmu zikir yang kita amalkan itu tadi. > Bagaimana mahu bersolat kalau begitu? Kerana rahsia SOLAT itu ada di dalam > zikir. Rahsia Puasa juga ada dalam zikir. Begitu juga dengan Zakat dan > Haji.. > > Bagi saya, soalan yang selalu bermain difikiran saya "KENAPA BEGITU? APAKAH > ILMUNYA ?". Kerana saya adalah seorang murid dan tugas atau tujuan saya > adalah mencari ilmu. Tidak salah untuk mempersoalkan.. tetapi mempersoalkan > tentang apa? Itu yang harus kita tahu. Mempersoalkan tentang ilmu yang kita > pelajari bagi tujuan mendalami... Bukan untuk menegakkan siapa yang betul > atau siapa yang salah.. > > Mohon maaf kiranya pandangan saya ini menyinggung perasaan sesiapa di sini.. > Hanya sekadar pandangan.. > > Salam > > > > --- On Sun, 4/27/08, triwibs <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: triwibs <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [tqn] Re: Siapapun Merokok, maka Solatnya Tidak Diterima - my final > statement > To: [email protected] > Date: Sunday, April 27, 2008, 11:13 AM > > ya, tul mas sabri > sebenarnya persoalan beda pendapat ini sudah selesai dari dulu dan > sudah ada titik temu, yakni sama-sama sepakat untuk berbeda pendapat, > dan karenanya ini bukan soal signifikan. Lha kalau jadi ramai, ya > mungkin rekan2 di sini sedang pada "iseng" mengeluarkan unek-uneknya > dan pendapatnya. saya sih senang, ini bahasan biasa kok, karena selama > tidak saling mengkafirkan, ya ga papa, jadi biar milis ini agak rame > gitu. Saya seneng baca unek-unek dan pandangan mbak Ros, mas Bambang, > mas HUda, mas Sabri dll. kadang2 kan keakraban dimulai dari berantem > dulu.. hehehehehe > > sebenarnya kalo mau diobrolin, ada yg lebih menarik ketimbang adu > argumen ttng mudharat-manfaat rokok, yakni soal beda pendapat antar > Wali Allah. > > Pertama-tama, mudah2an saya tidak salah terka, statement "anti-rokok" > ini datang dari Syekh Nazim Haqqani - yg sudah masyhur sebagai Wali > Allah, dan bahkan diyakini sebagai Qutub - dan saya termasuk percaya > Syekh Nazim adalah Qutub. Saya pernah bertemu dengan seorang kYai desa > yg sudah lebih dari 10 tahun "ngendon" saja di ruangannya, tak pernah > baca koran atau nonton TV, apalagi internet. Kyai desa ini, seorang > kyai perokok, dikenal sebagai Wali Allah (Wa Allahu a'lam, tapi saya > percaya). Dan karena "Hanya Wali yg tahu Wali" maka kepada beliau saya > iseng-iseng menanyakan kedudukan Syekh Nazim Haqqani dari Cyprus. Kyai > desa yg sudah belasan tahun mengurung diri ini menjawab singkat bahwa > memang ada Qutub di Cyprus. > > artinya, jika memang pernyataan "anti-rokok" ini datang dari seorang > Wali Allah, maka dipastikan ada kebenaran di dalamnya. Tapi > persoalannya adalah ada sebagian Wali ALlah lain yng tidak mengatakan > rokok haram bahkan menghalalkannnya. salah satunya adalah, yg sering > saya sebut, almarhum Kyai Ihsan Jampes Kediri, seorang Wali Allah yg > amat masyhur. > > Apakah dengan demikian Syekh Nazim (atau Syekh Hisyam yg merilis > statement ini) menuduh Wali Allah lain yg merokok sebagai tidak > diterima shalatnya? Saya kira tidak. > > Sebuah pendapat, sependek pengetahuan saya, biasanya ada latar > belakang yg mendasari ijtihad semacam ini. Selain dalil naqli dan > aqli, juga ada konteks di mana pernyataan itu diberikan. Saya tak tahu > dalam konteks apa pernyataan "anti-rokok" ini diberikan, tetapi > mengingat bahwa latar belakang Syekh Nazim dan Syekh Hisyam yg > intelektual (dan sama-sama ahli kesehatan, dan dokter) maka pernyataan > itu bisa dipahami. Tetapi, pernyataan ini tidak bermakna "absolut" > sebab ia adalah salah satu dari tafsir, dan sebagaimana bentuk ijtihad > pada umumnya, selalu ada kemungkinan untuk tidak disetujui, bahkan > oleh sesama kyai. Maka betul yg dikatakan sebagian teman kita, bahwa > debat ini tidak bakal selesai, dan masing-masing pihak boleh menganut > keyakinannya sendiri, sesuai dengan pilihannya. Tetapi pernyataan ini > bisa jadi bermakna "absolut" bagi murid-muridnya, sebab dalam tradisi > tarekat manapun, perkataan Mursyid haruslah dipatuhi - meski tak > jarang ada perkecualian. Jadi mungkin bagi ikhwan tarekat > Naqsyabandi- Haqqani, rokok dilarang keras, tetapi bagi ikhwan tarekat > lain, yg mursyidnya tidak mengharamkan rokok, bisa jadi rokok dihukumi > mu'bah, atau makruh. > > Sebagaimana di lingkungan TQN Suryalaya, meski dikenal dengan Inabah > yg menyembuhkan narkoba, tak jarang para santri TQN, atau ikhwan TQN > Suryalaya, yng merokok. > > jadi, perbedaan pendapat ini lazim terjadi di level "eksoteris", sebab > satu-satunya otoritas yng paling benar 100 persen dalam menafsirkan > persoalan hukum Islam, yakni Kanjeng Rasulullah SAW, sudah tak lagi > ada bersama kita. Yg tinggal adalah para pewarisnya, para ulama dan > Wali Allah. Setinggi-tingginya kedudukan Wali Allah, ia akan tetap > berada di bawah level Rasulullah. dan karena Wali ALlah tidak menerima > wahyu, maka selalu ada kemungkinan untuk berbeda pendapat - bahkan > para sahabat generasi awalpun berbeda pendapat, hingga sempat pecah > perang antara Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah melawan Aisyiah > radiyallahu anha, sebuah pertempuran yang melibatkan banyak sahabat2 > Rasul generasi awal dalam posisi yang berseberangan. Sebagian sahabat > yg ikut perang itu, yg tidak tewas, belakangan menyatakan bahwa perang > itu terjadi karena persoalan "tafsir" > > Sebagian ulama yg mumpuni menyebutkan bahwa inilah salah satu > kekayaan tradisi intelektual Islam. tanpa perbedaan pendapat, dan > tanpa fleksibilitas, barangkali ISlam tidak akan berkembang begitu > luas dan mempesona. > > ah, mudah2ann kita semua kelak sama-sama berjumpa di sorga dan > berjumpa Kanjeng Rasulullah SAW, penghulu dan kekasih kita semua, > meski di dunia ini kita berbeda pendapat. Dan semoga dengan haq dan > keagungan Rasulullah kita mendapat syafaatnya dan diperkenankan > mengikuti beliau masuk ke hadhirat Ilahi. > > Ilahi anta maqshudi, wa ridhaka mathlubi a'thini mahabbataka wa > ma'rifataka. amiiin > > salam > triwibs > > > ________________________________ > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it > now. >
