Taliban artinya pelajar (dalam bentuk jamak) dalam
bahasa Afghan. Sebagian
besar adalah tamatan atau pernah sekolah di
madrasah-madrasah di pengungsian
di Pakistan.
Sebagian besar adalah etnik Pashtun (atau Pushtun),
etnik mayoritas di
Afghanistan (bahkan nama Afghan pun berasal dari
bahasa Pushtun). Orang-orang
Arab adalah sebagian dari anggota Taliban (dan
Mujahidin juga) yang datang
saat terjadi peperangan dengan Uni Soviet.
Ada info yang belum dikonfirmasi
bahwa, orang-orang Arab semakin banyak berdatangan
setelah Osama
terlibat semakin intensif dalam perang pembebasan
Afghanistan dari Uni Soviet,
terutama dengan kemampuan finansialnya.
Organisasi Al-Qaeda berdiri setelah
Taliban dibentuk.
Soal sebutan adalah masalah politik, bergantung ada
di pihak mana yang yang
memberi sebutan itu. Tapi yang jelas
terlihat, pemerintah Taliban tidak goyah
selama bertahun-tahun (bandingkan dengan masa
sebelum Taliban yang penuh
perpecahan), dan keterkekangan (tampaknya)
masyarakat dibayar dengan
keamanan yang terkendali.
Aliansi Utara adalah sebutan yang baru saja muncul,
sebutan mereka dulunya
Mujahidin, mereka sebagian besar terdiri dari etnik
minoritas di Afghanistan
seperti Uzbek, Hazara, Tajik dll. Menurut
sejumlah analis politik kesuksesan
Taliban adalah karena latar-belakang pendidikan
mereka (walau tidak tinggi
tapi cukup signifikan) dan asal etnis mereka.
Ingat saja, selama berabad-abad
Afghanistan selalu dikendalikan oleh etnis Pushtun,
dan masa kejayaan Afghanistan
(abad 15 - 17) pun dicapai saat pemerintahan
dipegang kuat oleh etnis Pushtun.
Budaya Afghan pun didominasi oleh budaya
Pushtun. Saat Mujahidin berhasil
menguasai Kabul, isu etnis ini telah menjadi
pemecah paling sukses. Saat Taliban
muncul pun salah satu inti kesuksesannya adalah isu
etnis, di mata rakyat
awam datangnya Taliban bagaikan suatu keharusan dan
dilihat memang seharusnya
orang Pushtun yang bisa membawa kemakmuran bagi
Afghanistan. Walaupun
pasukan Mujahidin banyak juga yang beretnis
Pushtun, tetapi para pemimpin Mujahidin
banyak yang bukan etnis Pushtun, contohnya panglima
perang legendaris Mujahidin
Ahmad Shah Massoud, adalah orang
Tajik.
Jika memang itu yang dipraktekkan Taliban, memang
jelas bertentangan total dengan
ajaran Islam. Yang jadi masalah, bisakah kita
percaya begitu saja informasi yang
datang dari media yang belum tentu memiliki
pemahaman bagus tentang Islam, Afghanistan
dan Taliban dan atau tidak memiliki prasangka buruk
terhadap Islam, pemerintahan Islam
atau hal-hal yang berbau penegakan syariat
Islam?. Setiap pemerintahan memiliki musuh
yang bisa dikorek habis-habisan komentar buruknya dan setiap pemerintahan yang
lemah
bisa ditekan agar
selalu gagal dalam setiap programnya sehingga dia
bisa jadi bulan-bulanan
cacian dan makian. Ingat media-media yang sama juga yang memberitakan
pembantaian
Sabra dan Shatila (korban tewas adalah ribuan orang sakit-sakita, pria, wanita dan
anak-anak)
sebagai "peristiwa
biasa" bahkan ada yang dengan keji menuduh pejuang Palestina
sendiri
yang melakukannya.
Di sisi lain, saya juga belum memperoleh keterangan
yang menyakinkan bahwa
Taliban tidak melakukan praktek-praktek keji yang
anda sebutkan.
Di abad 19, sejarah Afghan adalah sejarah
perjuangan untuk mempertahankan
kemerdekaan terhadap dua kekuatan besar yang sedang
berekspansi yaitu Kekaisaran
Rusia dan Kerajaan
Inggris (pada waktu inilah terjadi perang Anglo-Afghan yang penuh
darah dan penaklukan daerah utara oleh Abdurrahman
Khan). Pergantian Dinasti
Romanov di Rusia (1917) dan mundurnya Inggris dari
India (1947) tidak mengubah
keadaan di Afghanistan, karena segera setelah
itu Perang Dingin berkecamuk.
Afghanistan betul-betul terjepit, sejarah
peperangan yang panjang dengan kekuatan
kekuatan raksasa benar-benar memundurkan semua
sendi negara Afghanistan.
Afghanistan benar-benar butuh bantuan, dan Uni
Soviet-lah yang mau menaburkan
bantuan ke Afghanistan. Kenapa? karena
Afghanistan sering bersitegang dengan
Pakistan dan India mengenai tapal batas selatan
Afghanistan, dan keduanya saat itu
adalah sekutu
penting Amerika Serikat. Banyak masyarakat kelas Afghanistan
atas
muncul karena bisa
mengakses bantuan Soviet.
Di bulan April 1978, Raja Muhammad Daud dikudeta
oleh kaum komunis Afghan terutama
dari partai Khalq yang dipimpin Nur Muhammad
Taraki. Kenapa terjadi kudeta? Sebagian
karena semakin tidak populernya kerajaan, dan usaha
pemberantasan komunis yang dilakukan
Daud. Daud, adalah raja yang lemah tetapi
seorang muslim yang taat. Kepopuleran komunis
membuatnya gerah, dan ia mengundang SAVAK (dinas
rahasia Shah Iran yang saat itu
sangat dekat dengan Amerika) untuk menghancurkan
komunis. Bencana terjadi
setelah
Mier Akbar Khybar, seorang intelektual ulung dan
pemimpin kharismatik kaum komunis dibunuh
oleh agen pemerintah. Komunis memiliki
momentum untuk menggulingkan kerajaan.
Tetapi kenyataan bahwa Daud adalah seorang muslim
yang taat menjadikan negara
terpecah-belah, komunis menang tetapi tidak
total. Dimana-mana timbul perlawanan
sporadis yang dipimpin para kepala suku, ulama
terkemuka, politikus terkenal dsb.
Bahkan dalam tubuh kaum komunis pun timbul
huru-hara yang berujung pada tergulingnya
Taraki dan digantikan oleh Hafizullah Amin.
Moskow yang sempat bahagia dengan
suksesnya pemberontakan komunis mulai tidak suka
dengan Amin karena Amin mulai
menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari orbit
Soviet.
Bulan Desember 1979, tentara merah secara
besar-besaran membanjiri Afghanistan
dan mengeksekusi Amin dan memburu anggota
Khalq. Soviet lalu memasang pemerintahan
boneka yang sebagian di isi anggota partai komunis
lain Parchami. Sebagian anggota
Khalq akhirnya bergabung dengan milisi-milisi Islam
yang kemudian terkenal dengan nama
Mujahidin.
[Sumber utama : M. Hassan Kakar, The Soviet
Invasion and the Afghan Response, University of California Press,
1995]
dan berbagai sumber lainnya.
Ya paling tidak mempertahankan kehormatan
Islam. Soal aliansi utara, setahu
saya mereka pun menentang jika Amerika sampai
menginjakkan kaki terang-terangan
di Afghanistan, jika hanya membantu senjata dan
logistik mereka masih menerima.
Bagi semua orang Afghan, bumi Afghan harus dimiliki
oleh orang Afghan, bangsa asing
yang coba-coba mengurangi hak itu pasti merasakan
kemurkaan orang Afghan.
Afghanistan bukannya tidak pernah dikalahkan tetapi
mereka tidak pernah
ditaklukkan. Alexander the Great dari
Macedonia dan Jenghiz Khan dari Mongolia
pernah menduduki Afghanistan tetapi selamanya
bangsa Afghan membenci
bangsa asing itu dan budaya Afghan tetap tidak
berubah. Keteguhan luar-biasa
pada budaya nenek-moyang ini pula yang kata
sebagian analis membuat
keislaman orang Afghan pun sangat dipengaruhi tradisi dan budaya pra-Islam.
Apalagi hal ini diperparah dengan sejarah
peperangan yang hampir tidak putus-
putus sehingga masalah pendidikan menjadi
terbengkalai termasuk pendidikan
keislaman.
Sebaiknya cari data jangan dari satu sumber, dan
jangan dari satu sudut pandang,
manusia itu penuh kesalahan, jadi mungkin saja sumber kita itu membuat
kesalahan
baik sengaja atau
tidak sengaja.
|
- [UNDIP] klarifikasi masalah afghanistan HERI HERWANGGONO
- Re: [UNDIP] klarifikasi masalah afghanistan Taufan
- Re: [UNDIP] klarifikasi masalah afghanistan Benny Ohorella
- Re: [UNDIP] klarifikasi masalah afghanistan Eko Raharjo
- Re: [UNDIP] klarifikasi masalah afghanistan Benny Ohorella
- Re: [UNDIP] klarifikasi masalah afghanistan Eko Raharjo
- Re: [UNDIP] klarifikasi masalah afghanis... HERI HERWANGGONO
