On Thu, 25 Oct 2001, Eko Raharjo wrote:

> Saya kira pak Ibnu sedikit mencampur adukkan antara penemuan yang berhak
> untuk di patenkan dengan karya ilmiah yang bisa merupakan idea, teori, ataupun
> dalil.
> 
> Definisi penemuan yang dapat dipatentkan adalah sebagai berikut.:
> In the language of the statute, any person who �invents or discovers any new
> and useful process, machine, manufacture, or composition of matter, or any new
> and useful improvement thereof, may obtain a patent,� subject to the conditions
> and requirements of the law. The word �process� is defined by law as a
> process, act or method, and primarily includes industrial or technical processes.
> 
> The term �machine� used in the statute needs no explanation. The term
> �manufacture� refers to articles which are made, and includes all manufactured
> articles. The term �composition of matter� relates to chemical compositions
> and may include mixtures of ingredients as well as new chemical compounds.
> These classes of subject matter taken together include practically everything
> which is made by man and the processes for making the products. (USA Patent
> Service)
> 
> Jadi penemuan tsb harus tuntas sampai ke aplikasi dan kegunaannya termasuk
> bisa dioperasikan. Suatu mesin yang tidak bisa dioperasikan tidak bisa dikatakan
> berguna jadi tidak bisa dipatenkan. Dalil bejana berhubungan dari Archimedes,
> dalil segitiga siku dari Pitagoras, teori Kapitalisme dari Adam Smith dan segala
> macam idea dari Plato bahkan rancangan model pesawat terbang dari Da vinci
> tidak bisa digolongkan sebagai penemuan baru yang tuntas sampai diproses
> menjadi suatu alat atau mesin atau operation system yang mempunyai kegunaan
> dan terbukti bisa dioperasikan. Bukan berarti dalil dan teori mereka tidak
> berharga. Tentu saja sangat berharga sekali, bahkan banyak mesin atau alat
> elektronik/komputer kompleks yang berdasar pada dalil fisik , kimia atau
> matematika basik.

IW:

Pak Eko, memang secara umum dan yang diterapkan oleh pihak Barat
(baca:penemu) adalah seperti yang diutarakan pak Eko di atas. Bahkan dalam
diskusi WTO itu merupakan klausul yang standar. Namun, masalahnya
kita(bangsa Indonesia atau orang Asia) khan tidak biasa untuk melakukan
riset sehingga kita tertinggal dalam segala bidang. Lha untuk itulah
justru konsep-konsep yang dikembangkan oleh Barat seharusnya mulai
diredefinisi kalau tidak dijungkir balikkan.

Contoh kongkret adalah bagaimana Internet Explorer yang
dengan jitunya "nyonto" Netscape. Dan sekarang malah Explorer yang
merajai.

Jadi intinya, mungkin yang dilakukan itu tidak sesuai dengan prinsip
Barat, ie. hak cipta dls. Tapi pembajakan itu harus dilakukan dengan smart
way. Maksudnya, kekeliruan mendasar pembajak itu adalah merancukan konsep
cloning dan imitasi en adaptasi. Misalnya saya clone Windows XP. Tentunya
hasil cloning itu hanya untuk kalangan kecil/ terbatas dulu. Baru ketika
sudah ada modifikasi, entah bentuknya imitasi atau adaptasi,
dikembangkanlah segmennya. Lha yang terjadi khan hasil cloning
disebarluaskan untuk segmen besar. Ya bubrah... Ini terjadi karena yang
melakukan cloning itu malas... nggak mau bermodifikasi..... 

Jadi konsep ini yang mestinya dikenal dulu. Baru kita bicara teknologi
tinggi. 



> 
> 
> Eko Raharjo:
> Dalil, teori, pemikiran adalah dianggap sebagai karya ilmiah yang memperoleh
> hak cipta (copy right) termasuk didalamnya adalah karangan sastra, musik dan
> drama). Jadi mencegah orang lain untuk menggunakan rumusan yang sama
> untuk menggambarkan pengamatan misalnya mengenai energy. Rumusan
> E=MC2 adalah eksklusif milik Einstein. Namun tidak berarti mencegah orang
> untuk menggunakan dalil tsb untuk membuat bom atom. "Die Kleine Nacht
> Musik" adalah hak cipta Wolfgang Amadeus Mozart namun tidak mungkin
> untuk mencegah orang untuk memainkannya. Demikian pula Bengawan
> Solonya Gesang. Rumusan poro gapit, aritmatik, kalkulus semua merupakan
> hasil penemuan namun bukan patent maka anak-2 sekolah bisa dengan gratis
> memakainya. Sekali lagi pak Ibnu agak mencampur adukkan antara patent.
> 
IW:

Contoh yang pak Eko lupa sebutkan kenapa distribusi t disebut student t.
Kok tidak disebut nama penemunya? 

Siapa sih yang membayar royalti lampu? padahal itu digunakan secara luas.
Siapa sih yang membayar royalti komputer? Padahal jelas dibajak sana-sini.
Siapa sih yang membayar royalti sepeda, mobil dls.....

Intinya kalau sesuatu itu digunakan generiknya maka nggak berhak dong
penemu mengklaim hak cipta....
Windows XP itu generic platform (software)...mestinya Bill Gates nggak
berhak dong ngeklaim royalti. Itu apa tidak karena dia merasa menang
bersaing lawan OS yang lain....Coba dulu ketika Win 3.1 muncul apa Bill
Gates mbayar royalti ke MAC.


ER berpendapat:
> Apa arti membajak??.  Kalau grup band Kere-Ria memainkan lagu Mawar
> Berdurinya ciptaan Arianto di suatu acara sunatan ya tidak membajak..
> Namun kalau lagu mawar berduri yang telah direkam dan dikemas dalam
> cassete atau CD diproduksi dan diedarkan oleh PT Remako sesuai dengan
> aturan perdagangan yang ada. Kemudian PT Sewu Telu menggandakan
> tanpa ijin ybs dan dijual itu namanya PT sewu telu adalah Maling property
> Aryanto dan hak rekam/jual PT Remako. Pembelinya adalah penadah barang
> malingan.

IW: 
Sekali lagi konsep cloning dan imitasi dirancukan...



> Eko Raharjo:
> Saya kira tidak begitu mudah untuk menafsirkan sepihak pembajakan mana
> yang legal atau yang ilegal. Orang harus betul membaca hukum patent yang
> telah secara internasional disetujui. Saya kira Indonesia adalah termasuk
> negara yang mengakui hak paten.

IW:

Setuju. Namun bagi pihak yang kalah khan dia harus mencari jalan supaya
bisa mengejar ketinggalan.



Pak Eko berpendapat: 
> Buku karangan pak Ibnu atau publikasi yang saya buat misalnya di JBC
> (Journal of Biological Chemistry) punya hak cipta (copy right) bukan patent.
> Boleh dirujuk sebagian dengan menyebutkan nama namun tidak boleh dengan
> cara penguraian yang sama otherwise orang yang bersangkutan melakukan
> plageurism yang merupakan pelanggaran intelektual property yang serius.
> Kalau pak Ibnu setuju dengan pengkopian/penjaplakan sebagian atau seluruhnya
> dari buku karangan pak Ibnu, konsekuensi pak Ibnu harus menerima kalau
> murid anda membuat skripsi dengan menyalin dari skripsi murid yang terdahulu.

IW
Plagiarsm itu cloning bukan imitasi. Kalau ada murid saya yang cloning
berarti dia belum siap untuk defense thesis in public.  Khan begitu...

> Wassalam
> Eko Raharjo
> 

Walaikum salam,


Ibnu Widiyanto







> > >>      Kapan Bangsa Kita Punya Rasa Malu
> > >>      ****************************
> > >>
> > >>      Sesungguhnya orang disini (Kanada) juga keberatan untuk
> > >>      untuk membeli
> > >>      software sendiri. Namun ada cara lain untuk dapat
> > >>      mempergunakan software
> > >>      yang diperlukan tanpa perlu membajak. Seperti saya sebagai
> > >>      staf di U of C
> > >>      memperoleh supply software dari pihak university. Rupanya
> > >>      pihak university
> > >>      punya purchase deal untuk bisa menyebarkan software yang
> > >>      dibelinya
> > >>      ke staf nya. Hanya perlu melakukan pelaporan sesuai dengan
> > >>      perjanjian;
> > >>      dan diperbolehkan pula untuk menginstal ke komputer dirumah.
> > >>      Tentu saja
> > >>      software-2 yang sophiscated seperti Delta Vision tidak bisa
> > >>      disediakan
> > >>      oleh university melainkan pihak (lab) yang bersangkutan
> > >>      membelinya sendiri
> > >>      dengan grant money.
> > >>
> > >>      Untuk student pihak university menyediakan terminal komputer
> > >>      hampir
> > >>      disetiap sudut (karena saking banyaknya) dan pula sudah
> > >>      disediakan
> > >>      software basic yang diperlukan seperti microsoft office
> > >>      bundle: microsoft
> > >>      word, power point, excell; yang selalu diupgrade dengan
> > >>      edisi yang terbaru.
> > >>      Walaupun demikian saya kira ada juga kegiatan membajak
> > >>      disini namun
> > >>      jumlahnya amat sedikit karena sudah menjadi kesadaran disini
> > >>      bahwa
> > >>      membajak software merupakan kegiatan kriminal yang punya
> > >>      konsekuen
> > >>      sama seperti kalau "ngutil" di supermarket ataupun
> > >>      mengedarkan sabu-sabu.
> > >>
> > >>      Melihat situasi di Indonesia tentunya orang bisa menduga
> > >>      bahwa kegiatan
> > >>      pembajakan software pasti amat santer. Namun orang tidak
> > >>      akan percaya
> > >>      melihat kenyataan sesungguhnya bahwa kegiatan pembajakan di
> > >>      Indonesia
> > >>      sudah sangat kelewatan. Tidak saja computer software, tetapi
> > >>      juga VCD,
> > >>      CD dll. Baru-baru ini orang dihebohkan dengan beredarnya VCD
> > >>      mesum
> > >>      bajakan.
> > >>
> > >>      Disatu pihak saya menyadari bahwa tidaklah fair untuk
> > >>      menyamakan
> > >>      purchase power dari orang Indonsia dengan orang di negara
> > >>      barat yang
> > >>      makmur. Namun dipihak lain saya punya kekuatiran besar bahwa
> > >>      kit! a
> > >>      akan berkembang menjadi bangsa MALING, yakni addicted to
> > >>      piracy.
> > >>      Side effect ini bisa jauh lebih merugikan dari pada kalau
> > >>      bangsa Indonsia
> > >>      dikenal sebagai bangsa yang ketinggalan teknologi. Sebab
> > >>      kalau setiap
> > >>      orang Indonesia bermental maling SEANDAINYA pinter dan
> > >>      canggihpun,
> > >>      tetap saja akan mendatangkan kekacauan bahkan dalam skala
> > >>      yang parah.
> > >>      Sebaliknya kalau kita mempriotaskan TERTIB HUKUM dan cara
> > >>      hidup
> > >>      yang BERMARTABAT, walaupun mungkin orang Indonsia telihat
> > >>      lebih
> > >>      kuno, sederhana dan slow namun masyarakat Indonesia akan
> > >>      bisa lebih
> > >>      tertib, disiplin dan punya martabat.
> > >>
> > >>      Menurut saya kebanyakan pembajakan dan kasus pelanggaran
> > >>      hukum
> > >>      perdagangan lainnya adalah tidak berlatar belakang untuk
> > >>      meminterkan
> > >>      masyarakat tetapi lebih berdasar karena KERAKUSAN (pihak
> > >>      produsen
> > >>      bajakan) dan gaya hidup KONSUMERISME (pihak pembeli
> > >>      bajakan).
> > >>      Dalam banyak hal mulai dari bidang kesehatan, energy,
> > >>      electronic, sampai
> > >>      software, Indonesia sering mengikuti suatu sistem teknologi
> > >>      yang consumptive
> > >>      dan mahal yang merugikan masyarakat konsumen namun
> > >>      menguntungkan
> > >>      pihak broker, produsen bajakan dst. Banyak yang dapat
> > >>      dijadikan contoh,
> > >>      saya pilih satu yang kebertulan bikin jengkel saya; yakni
> > >>      mengenai penggantian
> > >>      sistem VCR (Video Cassete Recorder) ke VCD (Video Compact
> > >>      Disc);
> > >>      sementara sistem lama dienyahkan dari pasaran oleh
> > >>      konspirasi para retailer
> > >>      (toko-2 elektronik).
> > >>
> > >>      Merupakan kebodohan untuk mengenyahkan sistem yang murah dan
> > >>
> > >>      serbaguna seperti VCR. Dengan mengganti dengan sistem VCD
> > >>      orang harus
> > >>      mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli VCD playernya.
> > >>      Dan
> > >>      tentu saja harga VCD sendiri berlipat-lipat dibanding dengan
> > >>      video cassete
> > >>      (Betamax maupun VHS). Akibatnya orang akan cari VCD dengan
> > >>      harga
> > >>      yang terjangkau. Apa artinya ini? Masyarakat digiring untuk
> > >>      menciptakan
> > >>      market bagi para produsen bajakan!. Sekali orang mengudap
> > >>      barang bajakan,
> > >>      selama hidup ia akan tergantung dengan lifestyle tsb (tanpa
> > >>      kenal malu).
> > >>      Kerugian besar lainn! ya yang orang tidak menyadari adalah
> > >>      sistem lama VCR
> > >>      sangat mudah dan murah untuk digunakan merekam segala macam
> > >>      kegiatan
> > >>      dari recreative sampai kegiatan research, baik dari TV,
> > >>      camera maupun
> > >>      intravital microscope dst.
> > >>
> > >>      Saya tercengang bin jengkel ketika saya mau mengirim cassete
> > >>      VCR
> > >>      rekaman kegiatan kami di Kanada, ternyata tidak ada lagi
> > >>      orang yang
> > >>      punya VCR player melainkan VCD player. Padahal disini yang
> > >>      sudah
> > >>      lama dipasarkan DVD (lebih advance dari VCD) bisa dengan
> > >>      mudah
> > >>      mendapatkan VCR dimana saja. Tidak semua orang, termasuk
> > >>      kegiatan
> > >>      riset dan pengajaran di U of C, dengan begitu saja mengganti
> > >>      dengan sistem
> > >>      teknologi baru yang lebih mahal. Tidak lain adalah sistem
> > >>      VCR masih lebih
> > >>      BERGUNA dan MURAH. Sedangklan alasan orang Indonesia adalah
> > >>      alasan
> > >>      kualitas gambar VCD lebih baik dari pada VCR. OK, baiknya
> > >>      seberapa?
> > >>      Tidakkah DVD menghasilkan gambar yang lebih baik dari VCD
> > >>      dan besok
> > >>      ada sistem baru yang lebih baik lagi, begitu seterusnya.
> > >>      Tentu saja
> > >>      sah-sah saja untuk memburu kepuasan dan kenikmatan. Namun
> > >>      kalau
> > >>      memang rakyat Indonesia uangnya cekak kenapa pilih sistem
> > >>      yang
> > >>      mahal dan buntutnya kemudian menempuh cara-cara tidak halal,
> > >>      alias
> > >>      maling (membajak)???.
> > >>
> > >>      Apakah sistem baru dengan teknologi lebih canggih bikin
> > >>      orang Indonesia
> > >>      tambah pinter? Belum tentu, contoh diatas malah bikin orang
> > >>      Indonesia
> > >>      semakin bodoh, consumptive, dan koceknya terkuras atau
> > >>      menjadi maling,
> > >>      atau kombinasi semua plus tetap jadi maling. Banyak lagi
> > >>      contoh bahwa
> > >>      encourage pembajakan akan backfire ke kita sendiri. Sudah
> > >>      lama diketahui
> > >>      bahwa kasus kaset lagu bajakan telah bertanggung jawab
> > >>      membuat banyak
> > >>      musisi/komponis Indonesia pada melarat. Sama halnya mengenai
> > >>      software
> > >>      program komputer. Dengan mudahnya mendapat program bajakan
> > >>      maka
> > >>      akan melesukan orang-2 muda yang ingin berprofesi sebagai
> > >>      pencipta
> > >>      software. Akibatnya orang Indonesia tidak akan pernah punya
> > >>      kesempatan
> > >>      berkembang sebagai pencipta. Jadi tetep saja sampai matek
> > >>      orang Indonesia
> > >>      ak! an jadi konsumen dengan cara maling lagi!.
> > >>
> > >>      Saya yakin kalau ada WILL sesungguhnya masih banyak cara
> > >>      untuk
> > >>      menghindarkan masyarakat Indonesia terutama kaum terpelajar
> > >>      jadi
> > >>      kaum maling. Tanpa perlu membayar diluar jangkauan dompet
> > >>      kita dan
> > >>      tanpa perlu pula menempuh jalan ekstrim seperti para pelajar
> > >>      Taliban.
> > >>      Salah satunya adalah dengan negosiasi dengan produsen
> > >>      seperti yang juga
> > >>      dikerjakan di nwgara maju. Kedua pemilihan sistem teknologi
> > >>      yang
> > >>      bijaksana, murah tapi berguna (bukannya mahal tapi gombal).
> > >>      Hal lain
> > >>      lagi adalah kaum terpelajar harus kritis ikut mengkontrol
> > >>      kaum bisnismen
> > >>      Indonesia yang acapkali tanpa moral menggiring masyarakat
> > >>      kearah cara
> > >>      hidup konsumtif tanpa martabat demi kerakusan mereka semata.
> > >>
> > >>      Renungkanlah phenomena yang tragis sekarang ini, yakni
> > >>      memakai
> > >>      teknologi yang canggih VCD (karena menghasilkan gambar yang
> > >>      lebih
> > >>      jelas) bukan untuk keperluan research (misalnya menyelidiki
> > >>      mekanisme
> > >>      neutrophil menembus endothelial cell) melainkan untuk
> > >>      rame-rame nonton
> > >>      rekaman adegan mesum dari mahasiswa; yang tentu saja
> > >>      diproduksi
> > >>      dengan cara bajakan pula. Kapan bangsa kita punya rasa
> > >>      malu?!.
> > >>
> > >>      Eko Raharjo
> > >>      Calgary
> > >>
> > >>
> > >>
> > >>      Wahju wrote:
> > >>
> > >>      > Saya sebenarnya nggak setuju software bajakan, tapi saya
> > >>      mengkonsumsi.
> > >>      > Alasan saya, lha wong saya nggak kuat beli aslinya,
> > >>      sementara saya nggak
> > >>      > pengen ketinggalan sama orang2 yang mampu beli asli,
> > >>      apalagi menghadapi era
> > >>      > globalisasi (konsep pembenaran yang keterlaluan saya
> > >>      kira).
> > >>      > Mudah2an dengan penambahan kemampuan saya di bidang
> > >>      komputer (yang
> > >>      > menggunakan software bajakan) bisa meningkatkan
> > >>      pendapatan, trus bisa beli
> > >>      > software asli.
> > >>      >
> > >>      > Kembali ke sweeping:
> > >>      > Mustinya kalau mau sweeping yha ke Manggadua, atau nggak
> > >>      usah jauh2, di
> > >>      > INDOCOMTECH aja terang2an dijual 20ribuan-itu untuk kelas
> > >>      teri. Mau yang
> > >>      > kakap, sweeping door to door di perusahaan2.
> > >>      > Kalau sweeping Notebook, saya kira susah nemuin Windows !
> > >>      bajakan soaln ya
> > >>      > rata2 khan pre-loaded semua?
> > >>      >
> > >>      > thq,
> > >>      >
> > >>      > ----- Original Message -----
> > >>      > From: "Herwening Kalpiko"
> > >>      > To:
> > >>      > Sent: Monday, October 22, 2001 10:03 AM
> > >>      > Subject: Re: [UNDIP] Gerakan Menyaingi Produk Amerika
> > >>      >
> > >>      > > Omong-omong soal sweeping produk Microsoft, hmmm saya
> > >>      sempat terenyuh
> > >>      > > setelah mendengar dari kawan saya bahwa kantor HAKI di
> > >>      UNDIP menggunakan
> > >>      > > software Windows bajakan. Tapi nggak apa-apa...saya sih
> > >>      setuju-setuju aja
> > >>      > > wong saya juga pake Windows XP bajakan juga. Lebih bagus
> > >>      lagi, mungkin
> > >>      > tidak
> > >>      > > sih kalau Departemen Komunikasi dan Informasi menggelar
> > >>      tender kepada
> > >>      > > tim-tim pembuat software di Indonesia untuk membuat OS
> > >>      yang asli Indonesia
> > >>      > > dan suitable buat orang Indonesia dan bisnis Indonesia
> > >>      yang bebas dari
> > >>      > > tuntutan perusahaan software OS yang ada.
> > >>      > >
> > >>      > > Wasalam,
> > >>      > > Picko
> > >>      > >
> > >>      > > ----- Original Message -----
> > >>      > > From: "Taufan"
> > >>      > > To:
> > >>      > > Sent: Saturday, October 20, 2001 2:07 PM
> > >>      > > Subject: RE: [UNDIP] Gerakan Menyaingi Produk Amerika
> > >>      > >
> > >>      > >
> > >>      > > >
> > >>      > > > --- Ibnu Widiyanto wrote:
> > >>      > > > > Kalau Jepang dan Taiwan serta Malaysia berani kenapa
> > >>
> > >>      > > > > tidak... sekarang saatnya
> > >>      > > > > pembajakan dilakukan...AAyo bajak wae......
> > >>      > > > >
> > >>      > > > > He...he...he.........
> > >>      > > > >
> > >>      > > > >
> > >>      > > > > CU
> > >>      > > > > IW
> > >>      > > > >
> > >>      > > >
> > >>      > > > Ikut-ikutan ah..biar rame sekalian....
> > >>      > > > kalo semua pada ngomongin bajak-membajak, saya pengen
> > >>      > > > ngomong SWEEPING aja ah, tapi ada hubungannya sama
> > >>      > > > bajak-membajak.
> > >>      > &! gt; > Kalo FPI dengan bosnya Habib Rizieq mau sweeping
> > >>      (dan
> > >>      > > > sampai sekarang BELUM PERNAH DILAKSANAKAN!) ternyata
> > >>      > > > sudah ada yang melakukan sweeping duluan bahkan nggak
> > >>      > > > tanggung2 AMERIKA yg melakukan, nggak percaya? baca
> > >>      > > > majalah warta ekonomi baru, orang2 microsoft pada
> > >>      > > > sweeping di BEJ, nyari orang2 yg bawa laptop siapa tau
> > >>
> > >>      > > > di dalamnya windows bajakan. untung yg kena sweeping
> > >>      > > > pakai yg legal....
> > >>      > > >
> > >>      > > > wah kalo gini ceritanya, microsoft "bajak" sweepingnya
> > >>
> > >>      > > > FPI nih........
> > >>      > > >
> > >>      > > > =====
> > >>      > > > Wassalammualaikum Wr. Wb.
> > >>      > > >
> > >>      > > > Taufan
> > >>      > > >
> > >>      __________________________________________________________
> > >>      > > > Get paid to search.....
> > >>      > > > Just click and sign up
> > >>      > > http://www.epilot.com/joinnow/referral.asp?friend=taufan
> > >>
> > >>      > > >
> > >>      > > > __________________________________________________
> > >>      > > > Do You Yahoo!?
> > >>      > > > Make a great connection at Yahoo! Personals.
> > >>      > > > http://personals.yahoo.com
> > >>      > > >
> > >>      > > > --------------------------
> > >>      > > > Milis Archive: http://messages.to/archives or
> > >>      > http://messages.to/archives2
> > >>      > > > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] -
> > >>      Seq. Number: 111
> > >>      > > > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList
> > >>      http://www.undip.ac.id
> > >>      > > >
> > >>      > >
> > >>      > >
> > >>      > >
> > >>      > > --------------------------
> > >>      > > Milis Archive: http://messages.to/archives or
> > >>      http://messages.to/archives2
> > >>      > > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] -
> > >>      Seq. Number: 114
> > >>      > > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
> > >>
> > >>      > >
> > >>      > >
> > >>      >
> > >>      > --------------------------
> > >>      > Milis Archive: http://messages.to/archives or
> > >>      http://messa! ges.to/archiv es2
> > >>      > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] -
> > >>      Seq. Number: 116
> > >>      > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
> > >>
> > >>
> > >>      --------------------------
> > >>      Milis Archive: http://messages.to/archives or
> > >>      http://messages.to/archives2
> > >>      to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq.
> > >>      Number: 118
> > >>      DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
> > >>
> > >>
> > >> -----------------------------------------------------------------------
> > >> Do You Yahoo!?
> > >> Make a great connection at Yahoo! Personals.
> > >
> > >
> > >--------------------------
> > >Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
> > >to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 122
> > >DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id
> 
> 



--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 127
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke