BAGUS SASMITO wrote:

> Pak Eko YTH,
> OK, saya berhenti sampai di sini berdebat dengan Anda. Karena saya baca Anda
> sudah mulai emosional, dengan mengasumsikan bahwa saya PAHPOH. Seperti pada
> serial yang lalu, saya pun berhenti setelah Anda tampak emosional juga
> (dengan menuliskan bahwa saya nggak punya otak).

Eko Raharjo:
Pak Bagus, saya memang punya emosi, dan itu tidak saya sembunyikan.
Namun saya kan tidak pernah mutung. Mengapa anda gampang
mutungan? alias mengambil langkah berdasar pada emosi belaka.
Saya menampilkan emosi (karena saya manusia yang tidak suka berpura-pura)
tetapi dalam berpendapat, mengambil kesimpulan, membuat keputusan
tidak berdasar pada emosi melainkan pada fakta dan logika. Andaikata
saya menarik kembali asumsi pahpoh apakah anda tidak akan mutung lagi?
Apa bukan sebenarnya anda hanya cari excuse saja?

Bagus Sasmito:

>
> Dalam hal ini, sepertinya Anda tidak mau terbuka menerima tanggapan dari
> saya secara obyektif, apa karena saya nggak punya otak dan pah-poh ? Berarti
> Anda (menurut saya) hanya mau berdebat atau berdiskusi dengan orang yang
> punya otak dan tidak pah-poh saja ?
> Baiklah, kalo begitu, saya angkat tangan, silakan Anda teruskan memaparkan
> fakta-fakta yang isinya tidak boleh didebat secara material. Dan saya akan
> menilai dalam hati sendiri, daripada mencoba (belajar) bersikap kritis, tapi
> pribadi saya direndahkan seperti ini.

Eko Raharjo:
Saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan pribadi anda; yang saya
serang adalah kualitas berpendapat dari anda. Silahkan anda mendebat isi
dari material tulisan saya. Kalau anda merasa tertekan dengan asumsi pah-poh
saya minta maaf dan saya tidak keberatan untuk mencabut asumsi tersebut.

Saya menyadari banyak orang yang telinganya sakit karena tulisan
mengenai kriminalitas dalam Gereja Katolik dari saya. Namun saya memang
tidak sedang memainkan musik ditelinga mereka. Inilah kenyataan yang
menyakitkan yang diperbuat oleh orang-orang dalam Gereja Katolik yang
mengemban kekuasaan dan trust namun menyalah gunakannya secara inhuman.
Disela orang yang vokal menyatakan keberatan karena lebih mementingkan
kenyamanan telinga dan perasaan mereka, saya yakin selalu ada orang yang
mampu menilai posting saya secara obyektif meskipun secara diam-diam.
Saya yakini pula bila tulisan saya dimengerti baik-baik akan menyumbang
pencegahan terjadinya kasus serupa di Indonesia. Bagi mereka yang telah
menjadi korban seksual abuse dari pihak Gereja Katolik saya menyatakan
solidaritas dan dukungan sepenuhnya.

Eko Raharjo
Calgary








--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 583
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke