Saya forward dari milis pengajian Muenchen, format html saya
sederhanakan dengan mengkopi bagian yg perlu saja.

http://www.lppm.ac.id/majalah/sep-2001/topik01.htm
MANAJEMEN/No. 157/SEPTEMBER 2001

Anggukan Universal
Ary Ginanjar Direktur PT Arga Wijaya Persada
Pengarang Buku �Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan 
Emosi Spiritual ESQ�.

IQ lahir karena pecahnya Perang Dunia II, dimana Amerika
membutuhkan pasukan yang pintar dan hebat, maka digunakanlah IQ
sebagai alat ukur, alat untuk mencari tentara yang hebat dan
pintar. Tetapi kenyataannya, menurut Daniel Goleman (penulis EQ
�Emotional Intelligence), orang yang berhasil 80% diantaranya
ditentukan EQ, sisanya 20% oleh IQ. Tetapi, IQ ini dijadikan ambang
batas bagi seseorang untuk dapat terjun kedalam dunia profesional,
wiraswasta atau kegiatan organisasional lainnya, seperti kemampuan
berhitung, dan tata ruang. Berbeda dengan IQ, EQ tidak
mempermasalahkan berhitungnya, akan tetapi membahas siapa yang
menghitung, apa yang dihitung, dan kapan menghitung. Hal-hal inilah
yang kemudian melahirkan value (nilai) seperti integritas,
komitmen, konsistensi, maupun persistensi. 
Ada kasus yang cukup menarik, di sebuah sekolah di AS, dimana para
orang tua murid sekolah tersebut, adalah orang-orang yang
berpenghasilan di atas satu juta dollar AS, justru malah
mengajarkan bagaimana menanam tomat, sampai memperbaiki kipas kapal
boat, mengapa? Ternyata tak lain karena mereka merasa ada sesuatu
yang hilang, dan mereka menjawabnya dengan mendirikan sekolah
Oddisey School, yang kemudian banyak diikuti oleh sekolah-sekolah
yang ingin berupaya mengisi �kekeringan� tersebut. Dan �kekeringan�
itu seolah dapat disegarkan kembali dengan lahirnya SQ, yang
sebenarnya tindak lanjut dari penemuan God Spot di otak, yang juga
berfungsi untuk lebih memaknai kehidupan manusia. 


Contoh, seorang pekerja di sebuah industri perakitan mobil, sering
mengalami kejenuhan dan kehilangan gairah, karena orang itu hanya
bertugas memasang kursi kendaraan, dari waktu ke waktu, selalu
mengerjakan hal yang sama, dengan gaji yang tidak kunjung beranjak
naik, dan tangan menjadi mengeras. Pihak personalia pusing tujuh
keliling menghadapi masalah ini, lalu pada suatu kesempatan saya
mengatakan, �Tidakkah Anda perhatikan, karena pekerjaan yang Anda
lakukan, jutaan orang dapat duduk dengan nyaman di kendaraannya,
selamat sampai tujuan, dan dengan demikian Anda telah beribadah
kepada Tuhan�. Inilah yang dikenal sebagai God Spot. 


Namun jika SQ kita telaah lebih jauh, ternyata isinya masih sangat
anthroposentris (hubungan antar manusia), tidak menjangkau sisi
ke-Tuhanan, misalnya walaupun tidak ber-Tuhan, seseorang dapat
memiliki SQ yang baik. Saya khawatir, hal ini akan mengubah tatanan
nilai yang telah kadung terpatri pada benak kita, karena walaupun
seseorang memiliki tingkat kecedasan SQ yang baik, namun tidak
diikuti oleh baiknya nilai yang dianut, maka akan lahirlah
Hitler-Hitler, atau tirani Jepang di masa Teno Heika yang baru. 


Menurut penelitian, dari berbagai pelatihan EQ, ternyata semuanya
itu hanya menghasilkan �angin yang berhembus� walaupun telah
menelan dana jutaan dolar. Intinya, kemampuan integritas,
ketulusan, komitmen, konsistensi atau nilai tidak bisa didapatkan
hanya melalui pelatihan 3 � 4 hari saja, namun perlu proses yang
berulang-ulang, sehingga terbentuk sebuah konsep dimana terjadi
proses internalisasi. Itulah mengapa kemudian saya menyusun buku
ini, yang mengajarkan kita untuk dapat berlatih tiap hari,
menghasilkan spiritualime, supra sadar, dan kemudian mengubahnya
menjadi sebuah dorongan Illahiyah, sebagai landasan dalam melakukan
berbagai kegiatan manajerial, bisnis atau kompetisi. Sehingga jika
dilukiskan dengan kata-kata, langkahnya adalah langkah Tuhan,
kehendaknya adalah kehendak dirinya sendiri, alam dan juga kehendak
Tuhan, dan tentunya pikirannya adalah pikiran Tuhan. 


Tetapi harus digarisbawahi, mendiskusikan SQ berbeda artinya dengan
mendiskusikan Tuhan, karena akal dan nalar manusia tidak akan
pernah bisa menembus rahasia yang Maha Tinggi, sehingga hal ini
harus dikembalikan sebagai sebuah wacana anak manusia yang sedang
mencari sesuatu. Walaupun, sebenarnya saya pernah mencoba menyusun
parameter untuk mengukur SQ seseorang, dengan (1) barometer suara
hati, yaitu nilai dan keyakinan, dan (2) barometer aplikasi dan
realitas. 

SQ, Bisnis, dan Manajemen
Menghubungkan SQ, bisnis, dan manajemen dalam kehidupan nyata,
tidak terlepas dari dua unsur yang menggerakkan manusia, yaitu
insting yang berasal dari unsur hewani (sangat mudah diukur) dan
egoisme, yang dapat berupa keinginan berkuasa secara berlebihan
seperti Hitler, atau spiritual yang berlebihan, yang mungkin akan
mengarah pada pasukan berani mati (seperti pasukan yang dibentuk
secara spontan masyarakat Jawa Timur pendukung Gus Dur berapa saat
lalu-red). Artinya kita bisa melihat sebuah titik yang menggerakkan
manusia, yaitu roh yang kemudian oleh Freud disebut sebagai �super
ego�, dan jika salah mengartikan ruh atau super ego ini, maka kita
akan salah dalam melihat ilmu SQ ini, teori inilah yang kemudian
saya beri nama �Anggukan Universal�. Mengapa saya beri nama
demikian?


Banyak para pemikir dunia yang mengatakan bahwa kebenaran terdalam
adalah suara hati, yang berarti dapat lahir sebuah nilai yang
disepakati secara universal. Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa suara
hati 70 kali lebih benar. Namun dari sekian banyak buku yang telah
saya baca, tidak ada satu pun yang dapat menerangkan apakah isi
super ego secara komprehensif. 


Jika salah memahami apakah roh atau super ego itu, maka kita akan
salah dalam melihatnya. 
Didalam Al Qur�an, disana disebutkan bahwa ada 99 sifat Tuhan, dan
ternyata �anggukan universal� itu sama dengan ke-99 sifat Tuhan.
Saya juga teringat sebuah dialog antara Tuhan dengan umatnya, Tuhan
berfirman, � Dan ingatlah ketika aku meniupkan roh kepadamu, dan
ingatlah itu�. Lalu Tuhan kembali bertanya, �Apakah aku Tuhanmu?�,
lalu manusia menjawab , �Ya benar Engkau adalah Tuhan kami.�
Ternyata dari dialog itu terdapat pembenaran-pembenaran yang ada
dalam hati kita, seperti mengapa kita selalu haus untuk menimba
ilmu, karena itu adalah dorongan dari Al-Alim, yaitu dorongan untuk
mengetahui, dan kita akan puas setelah mengetahui jika ternyata
kita benar.


Value yang salah akan melahirkan Hitler-Hitler baru, tetapi value
yang benar pun bukanlah value yang tercipta dari hubungan antar
manusia. Contohnya, saat ini saya merasa IQ saya tinggi dan
berharap orang lain terpesona dengan apa yang saya bicarakan, lalu
mungkin saya berbicara seperti ini agar buku saya laku, tetapi,
secara SQ roh saya berkata tidak, karena saya ingin membagikan
kebahagiaan yang telah saya dapatkan. Hal inilah yang sering kita
lupakan, karena ternyata kita masih malu menyebut nama Tuhan,
karena takut dianggap tidak ilmiah, padahal telah kita buktikan dan
hal ini bisa diukur. 


Super ego tidak hanya merupakan dorongan suara hati, namun telah
menjadi sebuah kekuatan, jadi manajemen apapun di luar kekuatan itu
akan runtuh. Contohnya ketika ada fenomena mobil rakyat, yang
kenyataannya gagal, kegagalan ini disebabkan karena suara hati yang
didengar adalah suara hati untuk berhitung, suara hati keamanan,
namun ada satu dorongan suara hati yang disebut keinginan menjadi
mulia, agung, dihargai dan ini yang dilupakan, akibatnya orang
tidak mau membeli mobil itu, karena mobil itu disebut �Mobil
Rakyat�. Jadi Marketing Intelligence, mempelajari bagaimana membaca
dorongan suara hati tersebut. Konsep manajemen mengenai planning
itu berbicara tentang hari kemudian, dan fungsi turunan manajemen
lainnya, merupakan manifestasi dari sifat Tuhan, yang melekat pada
ruh.


Demi melihat kenyataan di atas, maka SQ bukan lah barang dagangan
yang tidak laku. Kecerdasan spiritual adalah bagaimana memahami
keinginan Tuhan terhadap alam penciptaan dan manajemen alam
semesta, dan kemudian manajemen menyesuaikan dengan keinginan
manusia, Tuhan dan keinginan perusahaan, menjadi sebuah kesatuan
yang esa, dilambangkan dalam bentuk atom yang terdiri dari proton
dan neutron, dilambangkan dengan matahari yang dikelilingi oleh
seluruh jajaran galaksi Bimasakti, dilambangkan dengan putaran otak
yang menurut Tony Buzan seperti bintang gemintang yang berkelip,
seperti putaran air, berdansa seperti galaksi Bimasakti, itulah
makna puji seluruh alam beserta isinya kepada Tuhan. Ini adalah
rahasia manajemen, yaitu memahami kehendak Tuhan dan keinginan
manusia. 


Jadi manajemen yang berkelanjutan adalah manajemen yang mampu
membaca suara hati alam semesta, suara hati manusia yang terdalam,
bukan nafsu. Dan ini harus dimanifestasikan dalam manajemen yang
sesuai dengan SOP, sehingga manajemen yang berorientasi ketuhanan,
saya menyebutnya sebagai Manajemen Theo Sentris, karena keinginan,
tangisan, dan impian Anda sama dengan keinginan, tangisan dan
impian saya. Semua agama mengajarkan hal yang sama, dan manajemen
berupaya menyatukan kesemuanya menjadi sebuah sistem yang bersatu
dalam sebuah kesamaan, inilah prinsip dari kecerdasan spiritual.
(m) uska


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Autos - Get free new car price quotes
http://autos.yahoo.com

--------------------------
Milis Archive: http://messages.to/archives or http://messages.to/archives2
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. Number: 585
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList               http://www.undip.ac.id

Kirim email ke