Wah bu Novi ini membuka kembali album lama.
Saya jadi teringat sewaktu masih menyandang status
sebagai penghutang KMI. Sebagai staf di FK Undip
dulu saya sangat sibuk dengan sambenan. Kerja dari
6 am sampai 6 am, tidurpun sambil kerja (di ICU
atau di Gawat Darurat RS St Elizabeth). Hanya
saat istirahat makan sianglah (jam 12 an) saya 
punya waktu luang. Maka dengan mata merah (karena
ngantuk) namun kantong menggelembung (karena dipenuhi
uang gopek an), saya bertandang ke BNI 46 itu
yang didepan terminal lama (Bubakan?) untuk
bayar cicilan KMI. 'Makdikipe!' sampai disana
itu pegawai Bank pada main pingpong saya disuruh
kembali lagi jam setengah dua. That's really pathethic.
Mau dibayar kok malah tidak mau. Padahal saya tahu
misalnya bank BCA tetap melayani nasabah pada
istirahat makan siang.

Di Kanada ada RESP (Registered Education Saving
Plan) dimana orang tua menabung untuk pendidikan lanjutan
(PT) dari anak dan government match up sebanyak 20%. Kalau
setahun orang tua menabung $ 2000, pemerintah
langsung menambahi $400. Jadi total sebanyak $2400.
Kalau ini dikerjakan terus mulai anak umur 5 tahun 
sampai anak umur 20 tahun maka akan memperoleh dana
dari pemerintah sebanyak $6000, total dana pendidikan
akan tersedia sebanyak $36000. Bila uang ini tidak 
jadi dipakai untuk beaya kuliah maka yang $6000 akan
diminta lagi oleh pemerintah.

Cara lain adalah orang tua bisa pakai strategi RRSP
(Registered Retirement Saving Plan), yang pada dasarnya
adalah cara syah untuk menghindari pajak. Jumlah gaji
yang dibelikan RRSP otomatis mengurangi taxable income.
RRSP juga bisa berupa mutual fund dengan interest yang
cukup agresif (12%). Selama masih dalam RRSP uang tsb
beserta bunganya (capital gain) tidak akan kena pajak.
Lha nanti kalau dibutuhkan anak untuk beaya kuliah
uang itu bisa diambil. Aturannya kalau RRSP diambil akan
kena tax, namun karena beaya pendidikan anak memperoleh
Tax Credit ya sama saja tidak kena pajak. Sementara
itu kalau selalu membeli RRSP tiap bulan April bisa
mengharapkan Tax Return. Dengan cara ini anak kita
tidak perlu ambil student loan. Kasihan kalau baru
saja lulus sudah hutang $30,000, dimana kadang
sampai puluhan tahun student loan disini baru lunas.

Falsafah disini, mereka yang mau kuliah dianggap
pahlawan oleh karena itu diberi incentive. Sebab mereka
yang tidak mau kuliah (yang langsung kerja) lebih
punya chance untuk lebih kaya dari pada yang kuliah.
Mereka yang menjadi plumber, electrician, welder
(tukang solder), mechanic, construction worker upahnya gede.
Coba kalau mereka kerja sejak umur 20 tahun, kemudian
menabung sebanyak $5000 per tahun dalam bentuk RRSP
dengan interest 12%. Meskipun menabungnya cuma sampai
umur 25 tahun saja lalu stop. 30 tahun kemudian uang tsb
akan berkembang menjadi $800,000. Jadi pada waktu
umur 55 tahun orang tsb akan memiliki uang hampir
satu juta dollar dari investasi cuma 5 tahun saja.
Sedangkan mereka yang kuliah dan kuliah dan kuliah
dan kuliah .....on and on, baru mulai kerja pada waktu
sudah hampir usia pensiun, belum lagi masih memikul
student loan. Namun negara disini berkepentingan agar
warganya mau study dan melakukan research, sebab
kalau tidak, masyarakatnya meskipun kaya akan jadi
red neck semua seperti the Stone Cold Steve Austin.

Di Indonesia orang yang menuntut ilmu dianggap 
ketiban pulung maka bukannya diberi incentive atau tax
credit tapi malahan "dipajeki" macem-macem. Ini karena
mereka tidak ada yang nggagas bahwa mereka yang menuntut
ilmu sampai ke monconegoro kemungkinan akan menghabiskan
sebagian besar hidupnya duduk di bangku laboratorium 
atau meras otak memikirkan masalah sosial, hukum, ekonomi
dst sehingga memungkinkan negara dan masyarakat bisa berkembang.
Pengertian umum orang sekolah tinggi sampai monconegoro buntutnya
akan nyidam jadi pejabat pemerintah atau paling tidak DPR.
Ini ada benarnya sebab buktinya cukup banyak. Bahkan mereka yang
masih kuliah di monco pun sudah merasa begitu. Makanya bisa kita
pahami mereka yang sekolah tinggi diluar negeri terkadang
bukannya menjadi lebih kritis terhadap pejabat pemerintah
melainkan malah lebih friendlier terhadap mereka, mungkin karena
sudah merasa menjadi satu family, genus dan spesies pejabat
pemerintah. Tentu saja yang diinginkan adalah "kestabilan"
hal-hal yang bisa mendatangkan perubahan seperti kritik,
protes, aksi demo, revolusi, apalagi mbalelo atau makar
merupakan kata-kata tabu yang katanya dilarang oleh agama.

Wassalam
Eko W Raharjo
Kanada   

Novi Leigh <[EMAIL PROTECTED]> said:

> Dulu waktu jaman saya kuliah ada KMI (kredit mahasiswa Indonesia).  Yang 
> saya dengar, sekarang tidak ada lagi karena banyak yg tidak membayar 
utang. 
> Itu krn sistem di Indo yg entah bagaimana tidak bisa me-record credit 
> history seseorang. Jadi kalau ada yg tak mau bayar utang, sulit melacak 
ybs. 
> Solusinya ya KMI dihentikan. Dalam situasi ekonomi skg ini, apakah 
> pemerintah mau memikirkan kembali KMI?  Kemudian, banyaknya PHK skg ini 
> sulit menjamin para lulusan utk mendapat pekerjaan selekasnya.
> Kalau di US, justru pendidikan diperhatikan.  Bila GPA-nya bagus, dapat 
> beasiswa. Bila GPAnya pas-pasan, bukan berarti putus sekolah, tetapi 
> dipermudah menerima kredit mahasiswa. Dibayar setelah mendapat pekerjaan 
> dengan bunga rendah.  Kredit uang kuliah ini juga memperingan pajak.  
> Memperingan pajak.... ini bukti kepedulian pemerintah thd pendidikan.  
Opsi 
> lain dg ikut wajib militer.  Para engineers kolega saya, jangan disangka 
> mereka tak punya cicilan kredit mahasiswa. Para dokter ahli income-nya 
> banyak, cicilan kreditnya juga banyak.  Ipar saya seorang profesor 
> antropologi masih nyicil kreditnya juga. Seorang kawan dikirim ke Iraq krn 
> ia mengambil wajib militer demi sekolahnya. Jadi tak ada alasan utk tidak 
> sekolah karena tak ada uang. Yang saya heran, banyak orang Indonesia yg 
> mengirim anaknya bersekolah di US yg biayanya bisa 3-4x biaya US citizen. 
> Mereka ini lebih berduit drpd orang amerika kebanyakan, sementara orang 
> Indonesia yg tidak bisa menyelesaikan pendidikan dasar juga banyak.
> 
> Novi Leigh
> Kansas City
> 
> >From: [EMAIL PROTECTED]
> >Reply-To: <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> >
> >Hi,...semuanya..
> >Wah, sudah mulai rame juga milist di undip ini,..yang biasanya adem-adem
> >aja.
> >ternyata alumnus undip banyak juga yang di LN,..tapi ngomong-ngomong di
> >LN-nya ini banyak yang sedang study atau bisnis, nih??
> >
> >Sementara ini, saya tinggal di johor, malaysia...
> 
> >
> 
> _________________________________________________________________
> Watch high-quality video with fast playback at MSN Video. Free! 
> http://click.atdmt.com/AVE/go/onm00200365ave/direct/01/
> 
> 
> --------------------------------------------------------------------------
> Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1356
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id
> 
> 
> 



-- 




--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1372
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke