Wah pancingan Mas Ibnu memaksa saya untuk berkomentar juga nih.......

Saya tidak bermaksud apa2... I am trying to tell something I believe...

Dari apa yang pelajari selama ini, Tuhan itu bisa disamakan sebagai suatu gelar sama seperti presiden, perdana menteri dsb. karena apa? ternyata di dalam alkitab pun pernah menyebutkan bahwa musa adalah tuhan dan katanya perutpun bisa menjadi tuhan bahkan setan juga bisa menjadi tuhan bagi yang menyembahnya (di alkitab disebut sbg iIlah jaman sekarang)... tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa cuma satu yang menurut kitab taurat bernama Yehuwa.... Dialah yang menciptakan langit dan bumi. Kitab taurat ditulis pertama kali oleh Musa yang telah membawa bangsa israel keluar dari Mesir. Dari Musalah sampek hari ini saya juga masih bisa menikmati cerita ttg awal mula kehidupan manusia. Bagi saya secara pribadi alkitab dari taurat sampek injil adalah buku penuntun saya untuk mengetahui dan belajar ttg allah. Bahwa orang lain meragukan kebenaran dan apakah alkitab terbebas dari pemalsuan semuanya terpulang kepada masing2 pribadi disinilah dibutuhkan suatu iman... kenapa saya memiliki iman bahwa alkitab saya benar ada banyak alasan. Dan rasanya alasan itu biarlah saya yang mengetahuinya (karena saya tidak bermaksud mengkristenkan anggota milis ini).

Saya merasa dengan semakin mempelajari alkitab yang saya imani saya ditambahkan banyak pengetahuan. Saya jadi tahu kenapa Allah membiarkan penderitaan yang dialami umat manusia sekarang ini ... Kalo selama ini orang selalu menyalahkan Allah atas kematian orang yang dikasihi dengan selalu mengkambing hitamkan takdir... saya jadi tahu bahwa itu tidak betul....menurut alkitab yang saya percayai. Tapi sekali lagi saya hanya sekadar bercerita kenapa saya tetap memiliki iman terhadap keprcayaan saya dan tentunya berbeda dengan kepercayaan yang Bapak Ibu miliki. Saya rasa alasan kenapa kita percaya terhadap sesuatu adalah milik pribadi dan ada di hati kita masing2 kenapa harus diperdebatkan ? kalo saya boleh mengumpamakan ini dengan sesorang yang senang dengan warna hijau atao merah ? karena lahir di lingkungan yang suka warna merah seseorang bisa jadi menganggap warna merah adalah yang terbaik. Tetapi begitu keluar dari lingkungan dia mulai menyadari bahwa banyak warna di dunia ini dan ketika suatu saat ada orang yang mengenalkan warna putih dan si anak ini sadar bahwa ternyata dia lebih suka warna putih apakah salah kalau dia akhirnya memutuskan warna yang dia inginkan selama ini memang putih ? Apakah kita bisa memaksa orang lain mengatakan bahwa warna kuning adalah yang paling bagus ? Rasanya tidak mungkin kita bisa memaksakan apa yang dipercayai oleh seseorang bahkan mungkin dengan orang yang paling dekat kita sekalipun.

So menurut saya lebih baik kita akhiri saja diskusi ttg kepercayaan mana yang paling baik. bahkan saya rasa meskipun anda sekalian memiliki agama yang sama anda masing2 memiliki pandangan yang berbeda terhadap sesuatu hal. Kalo tidak begitu pasti di indonesia ini akan damai nggak ada gontok2an.

Sudahlah saya sendiri sudah capek membaca tulisan yang isinya saling "menyakitkan". Dan maaf saya hanya berusaha mengclarify apa yang pernah saya tulis ke Mas Ibnu. Rasanya suatu kemunduran kalo di milis UNDIP ini masih berkutat ke hal2 yang sifatnya pribadi. Terus kapan mau melangkah ke hal2 yang lebih penting dan baik lainnya ??? wong saya sendiri terus terang sering pake jam kantor buat buka e-mail... Tapi kalo ternyata milis undip ini memang diperuntukkan seperti sekarang ini ya monggo saja....

Salam dari saya yang pencinta damai,
Mei

At 12:18 AM 3/19/2004 -0400, you wrote:
Hi,
Saya pikir info mas Asrul ini cukup menggelitik. Dan saya senang dengan gaya
tulisannya mas Asrul Lubis ini yang cenderung informatif dan tidak provokatif.

Saya paham dengan keimanan mas Asrul ini. Saya hormati dan saya tidak
berpretensi lain-lain selain untuk membagi pengetahuan.

Jadi Yesus (atau Isa as) itu jelas bukan Allah tapi anak Allah. Kalau Allah
itu Tuhan, kenapa disebut Tuhan Yesus? Bukan anak Tuhan, Yesus?

Apa pengertian anda tentang Tuhan? Dan sebutan Anak itu adalah dalam konotasi
biologis atau filosofis atau yang mana?

Contoh, Megawati menganggap kader PDIP sebagai anaknya. Jelas disini konotasi
anak PDIPnya Megawati adalah sosial filosofis bukan biologis. Anak biologisnya
Megawati, kalau nggak salah, namanya (salah satunya) Puan Maharani.


Saya pikir, diskusi ini jadi semakin menarik untuk dilanjutkan jika tidak
disertai maksud untuk menjelek-jelekkan.

Itu saja dulu.

CU

IW



-------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1834 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id




Kirim email ke