lamun kuring ngadangu kecap IRIAN, nu kabayang dina
uteuk eta tempatna non-islam jeung para misionarisna.
tetela eta bayangan teh nyalahan, geuning faktana mah
islam teh mayoritas di irian. geura tinggal cuplikan
artikel pr poe ieu:
"Alhamdulillah penduduk asli Jazirah An-Nuu Waar
(sebutan Irian Jaya di kalangan Muslim) 75% di kawasan
selatan, 35% di kawasan utara, dan 40% di kawasan
pegunungan dan jika ditambah dengan saudara-saudara
Muslim yang datang dari Jawa, Makassar, Sumatera dan
Ternate, sebenarnya di Irian Jaya itu mayoritas Islam
atau 65% beragama Islam. Penduduk asli Irja yang
mencapai kira-kira 1 juta jiwa, terdiri dari 35%
Islam, 30% Protestan, 20% Katolik, dan 15% animisme."
berita salengkepna aya di handap ieu.
salam,
mh
==============
PR. Artikel. Jumat, 13 Agustus 2004
Penyebaran Agama Islam di Irian Jaya
Semua Ingin Seperti Aisyah
Oleh H. MANGARAHON DONGORAN
"BANYAK tantangan untuk berdakwah di kawasan Timur
Indonesia, terutama di Irian Jaya. Karenanya
dibutuhkan kesabaran yang tinggi dan investasi
keikhlasan yang luar biasa. Berdakwah di pedalaman
Irian Jaya tidak seperti di Jawa yang bisa naik
kendaraan mewah, tanpa beban berat," demikian Ustaz M.
Zaaff Fadzlan Al-Garamatan, mubalig yang keluar masuk
pedalaman Irian Jaya menuturkan pengalamannya.
Menurut ustaz yang asli penduduk Irian Jaya ini,
dakwah yang dilakukannya di pedalaman Irja dilakukan
dengan berjalan kaki cukup jauh, persis seperti
perjuangan dakwah Nabi Muhammad saw. ketika hijrah
dari Mekah ke Madinah. Kalaupun ingin lebih cepat,
hanya bisa lewat laut atau sungai yang biaya
transportasinya sangat mahal. "Meski berhari-hari baru
sampai, tetapi kami tidak pernah menyerah dan pantang
mundur untuk mengadakan kegiatan dakwah itu," katanya,
menceritakan pengalamannya berdakwah di provinsi
paling timur Indonesia itu.
Ketika berada di pedalaman Irja, bukannya rasa tenang
yang diperoleh. Tantangan dari para tetua suku yang
belum mengenal agama juga sangat deras. Demikian juga
gigitan nyamuk. Biar pun pakai kelambu atau dibaluri
dengan obat nyamuk, semuanya itu seakan tidak mampu
menghalau nyamuk.
Tanpa busana
Lelaki yang sehari-hari dipanggil Ustaz Fadzlan ini
menuturkan sebuah pengalaman menarik ketika membawa
seorang dai dari Jawa untuk ikut bergabung. Ternyata,
setelah hampir tiga bulan di pedalaman Irja, sang dai
itu tertarik pada seorang gadis pedalaman Irja. Hanya,
gadis tersebut belum Islam dan masih memakai adat
pedalaman Irian yang tanpa busana. Selain itu, sang
gadis pun ternyata putri seorang ketua suku yang
sangat disegani.
Fadzlan yang mengenal betul karakter suku di Irja
mengatur siasat. Ia menemui sang gadis, dan gaung pun
bersambut. Hanya yang menjadi hambatan adalah
bagaimana menghubungi ayah sang gadis yang sangat
berpengaruh. Setelah melakukan berbagai pembicaraan
dan basa-basi, akhirnya si gadis itu pun dibawa kawin
lari. "Di Irja, kawin lari itu tidak masalah. Karena
itu kita pun melakukannya dan membawa gadis tersebut
ke Surabaya," ujarnya.
Namanya juga gadis Irja pedalaman, sudah tentu orang
akan memperhatikannya. Ketika di Surabaya, si gadis
ini pun kemudian dibawa ke salon kecantikan. Selama
tiga bulan, ia didandani dan diajari bagaimana merawat
tubuh secara Islam. Setelah dianggap aman, ia pun
kembali ke kampung halamannya bersama suaminya.
Si gadis yang sudah resmi menjadi istri dai ini pun
telah "berubah wajah" dan berganti nama menjadi
Aisyah. Dengan wajah lebih putih dan bersih serta
memakai jilbab, wanita sedesanya tidak lagi
mengenalnya.
"Para wanita desa tidak percaya lagi Aisyah itu
dulunya teman sepermainan mereka. Namun, ketika Aisyah
mulai bergaul dan menceritakan pengalamannya, maka
dalam waktu seketika, 360 wanita desa ingin didandani
seperti Aisyah," kata Fadzlan.
Keinginan menjadi Aisyah ini tentu merepotkan. Namun,
sebagai mubalig yang berpengalaman, tentu itu tidak
masalah. Ia pun kemudian pergi ke Ujungpandang
(sekarang Makassar). Ia menemui beberapa kenalan untuk
meminta bantuan. Akhirnya, ia pun dipertemukan dengan
keluarga Yusuf Kalla.
Ketika itu, keluarga Jusuf Kalla menawarkan bantuan
uang. Tetapi, yang dibutuhkan bukan uang, tetapi
bagaimana "memindahkan" salon ke pedalaman Irja.
Setelah dijelaskan, akhirnya disepakati untuk membawa
penata rias ke pedalaman, sesuai dengan keinginan
wanita-wanita tersebut. "Selama tiga bulan, penata
rias itu berada di pedalaman. Dan hasilnya, selain
wanitanya menjadi bersih dan memakai pakaian tertutup,
juga menyatakan diri masuk Islam," kata Fadzlan.
Nilai-nilai kemanusiaan
Menurutnya, yang paling utama dilakukan dalam
berdakwah di pedalaman Irja adalah membangun simpati,
memulai dari nilai-nilai kemanusiaan menurut Islam,
kebersihan, pengenalan terhadap Al-Khaliq. Mengajak
masyarakat Irian Jaya masuk Islam tidaklah mudah,
diperlukan proses yang cukup panjang.
"Yang pasti dalam berdakwah, tidak dengan paksaan
apalagi mengiming-imingi mereka dengan materi. Yang
dilakukan awalnya adalah memberikan contoh, bagaimana
Islam mengajarkan pola hidup yang baik dan mulia.
Masyarakat di pedalaman Irian Jaya biasa tidak mandi
tiga bulan. Bukan karena tidak ada air, tetapi
mandinya diganti dengan membaluri badan dengan minyak
babi atau binatang yang dibakar dan minyaknya
ditampung. Maka kami memberi contoh mandi setiap hari
dengan menggunakan air karunia Allah SWT," ujarnya.
Menurut Fadzlan, berdakwah di Irian Jaya dilakukan
dengan menggunakan strategi tahapan. Triwulan pertama,
melalui pendekatan social cultural. Tahapan kedua,
dengan pembinaan hubungan antarmanusia dan hal-hal
kemanusiaan yang berkaitan dengan individu dalam
kehidupan. Triwulan ketiga, mengajarkan dan
menjelaskan pandangan hablum minallah atau pandangan
penyembahan kepada Allah SWT.
Melalui diskusi yang cukup panjang dan disertai dengan
pemberian contoh, para mubalig yang keluar-masuk
pedalaman Irja berhasil mengubah pola hidup penduduk
setempat. Dari yang tidak islami menjadi islami. Jika
sebelumnya, kaum ibu memberi air susu ibu (ASI) kepada
dua bayi, yang satu kepada bayi manusia dan satu
kepada anak babi, maka ketika mereka mengenal Islam,
tradisi itu ditinggalkan.
Dengan berbagai pendekatan, terutama pendekatan budaya
yang islami, maka agama Islam pun tersebar di Irian
Jaya. "Alhamdulillah penduduk asli Jazirah An-Nuu Waar
(sebutan Irian Jaya di kalangan Muslim) 75% di kawasan
selatan, 35% di kawasan utara, dan 40% di kawasan
pegunungan dan jika ditambah dengan saudara-saudara
Muslim yang datang dari Jawa, Makassar, Sumatera dan
Ternate, sebenarnya di Irian Jaya itu mayoritas Islam
atau 65% beragama Islam. Penduduk asli Irja yang
mencapai kira-kira 1 juta jiwa, terdiri dari 35%
Islam, 30% Protestan, 20% Katolik, dan 15% animisme.
Sebenarnya sejarah masuknya Islam di Irian Jaya sudah
lama. Agama Islam adalah agama tertua di Irian Jaya,
dibandingkan dengan Kristen Protestan maupun Katolik.
Islam masuk ke Irian Jaya pada tanggal 17 Juli 1214
Masehi, yang ditandai dengan pendaratan Syekh Puar bin
Suar. Syekh Puar yang berasal dari Basrah dan
dibesarkan di Yaman ini mendarat di Werupar
Igaimanawas, petuanan Raja Patipi. Pendaratan itu
dilakukan melalui perdagangan.
Syekh Puar pun memperkenalkan Islam melalui syahadat.
Tetapi, tidak seperti lafal yang diucapkan
sehari-hari. Islam diajarkan dengan pengajaran
syahadat melalui pengenalan Alif-Lam-Lam Ha dan Mim Ha
Mim Dal. Ini diartikan, jika ingin berhasil di dunia
dan akhirat, Anda harus mengenal Allah SWT sebagai
Tuhan yang wajib disembah dan Nabi Muhammad saw.
sebagai utusan-Nya.
Perjalanan sejarah itulah kemudian yang membentuk
harakah-harakah dan firqah-firqah yang kemudian
membentuk kerajaan-kerajaan Islam. Sampai sekarang
menjadi 12 kerajaan, yaitu Kerajaan Nama Tota,
Kerajaan Patipi, Kerajaan Fatagar, Kerajaan Furwagi,
Kerajaan Ati-ati, Kerajaan Komisi, Kerajaan Sekar,
Kerajaan Wertuar, Kerajaan Waraguri, Kerajaan Raja
Ampat di Sorong, Kerajaan Asso di Walesi, Waimena, dan
Kerajaan Kasim di Timika. Sebenarnya, masih banyak
kerajaan lainnya yang belum diketahui secara pasti.
Hanya, opini yang berkembang selama 38 tahun
belakangan ini, umat Islam di Irja adalah komunitas
minoritas dibandingkan dengan Protestan dan Katolik.
"Padahal, kenyataannya tidak demikian. Islam di Irian
itu lebih banyak," kata Fadzlan.
Pemutarbalikan sejarah Islam di Irja dimulai sejak
penjajahan Portugis, Belanda, dan Jepang. Bahkan,
populasi Islam terasa amat berkurang di Irja, ketika
terjadi pembantaian terhadap Islam di masa penjajahan
Portugis, Belanda, dan Jepang. Aksi pemurtadan
dilakukan Belanda yang masuk Monokwari pada 14
Desember 1892. "Inilah sejarah awal mereka masuk ke
Irja. Jadi, Islam jauh lebih duluan masuk ke Irian.
Namun sejak Belanda masuk, umat Islam menjadi kurang
menonjol. Umat Islam Irian terkucil. Apalagi dalam
penerimaan pegawai negeri, umat Islam di Irian itu
menjadi urutan ketujuh," ujar Fadzlan.
Dalam hal pendidikan pun terjadi penganaktirian.
Pemberian beasiswa lebih diutamakan kepada penduduk
Irian yang non-Muslim. Karenanya, jangan heran bila
tidak ada umat Islam yang duduk di posisi penting
jajaran birokrat di Irian Jaya. Otonomi daerah pun
dinilai justru semakin membelenggu sepak terjang kaum
Muslimin di Irian Jaya.
"Alhamdulillah, Allah Mahakuasa. Era reformasi yang
bergulir ternyata mampu menampilkan seorang Muslim
menjadi Bupati Fak-Fak, Drs. H. Wahidin Puarada, M.Si.
Dia adalah putra daerah, Muslim Irian Jaya yang
pertama terpilih menjadi bupati di kabupaten yang
mayoritas penduduknya Islam," kata Fadzlan.
Sebenarnya, ia dan kaum Muslim Irja sangat prihatin
dengan keadaan di sana. Sebab, para pendatang
bertebaran bukannya "memanusiakan manusia", tetapi
malah menjadikannya objek yang diperjual-belikan ke
beberapa negara. Orang Irian Jaya yang tidak memakai
baju dan hanya memakai koteka malah dijadikan sebagai
objek wisata, untuk menarik wisatawan mancanegara.
Padahal, yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana
agar mereka juga diperlakukan seperti saudara-saudara
lainnya di tanah air.
Dan yang menjadi kekuatan dakwah Islam di Irja pun
tidak lain adalah mengangkat harkat dan martabat serta
nilai-nilai kemanusiaan yang ada. Karena itu, dalam
berdakwah pun, para mubalig tidak membawa uang banyak.
Yang para mubalig lakukan adalah membawa pakaian layak
pakai, sabun mandi, buku agama. "Terkadang kami
mencucurkan air mata, ketika kami datang dengan
bantuan pakaian layak pakai bisa menarik simpati orang
yang tidak beragama menjadi beragama (Islam, red),"
ujar Fadzlan yang mengharapkan bantuan kaum Muslim
dalam bentuk pakaian layak pakai, sabun mandi, dan
buku agama.***
Penulis, wartawan senior HU "Pikiran Rakyat".
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/