haturan oge neng an. ke urang paluruh sugan kapendak.
muhun kitu kedahna nya, da'wah bilhal tea panginteng
ustaz fazlan mah. 

salam,
mh

--- Ani Puspita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Haturan kang Mh,
> 
> Aya nu terang alamat ustaz Fazlan teu nya ?
> Ka mana alamatna upami bade ngintun anggoan layak
> pake teh nya ?
> Upami aya baraya nu tiasa mantosan hatur nuhun sateu
> acan na.
> 
> Baktos 
> neng an...
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: mh [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, August 13, 2004 8:33 AM
> To: [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [Urang Sunda] Islam di Irian
> 
> 
> lamun kuring ngadangu kecap IRIAN, nu kabayang dina
> uteuk eta tempatna non-islam jeung para
> misionarisna.
> tetela eta bayangan teh nyalahan, geuning faktana
> mah
> islam teh mayoritas di irian. geura tinggal cuplikan
> artikel pr poe ieu:
> 
> "Alhamdulillah penduduk asli Jazirah An-Nuu Waar 
> (sebutan Irian Jaya di kalangan Muslim) 75% di
> kawasan
> selatan, 35% di kawasan utara, dan 40% di kawasan
> pegunungan dan jika ditambah dengan saudara-saudara
> Muslim yang datang dari Jawa, Makassar, Sumatera dan
> Ternate, sebenarnya di Irian Jaya itu mayoritas
> Islam
> atau 65% beragama Islam. Penduduk asli Irja yang
> mencapai kira-kira 1 juta jiwa, terdiri dari 35%
> Islam, 30% Protestan, 20% Katolik, dan 15%
> animisme."
> 
> berita salengkepna aya di handap ieu.
> 
> salam,
> mh
> ==============
> PR. Artikel. Jumat, 13 Agustus 2004
> 
> Penyebaran Agama Islam di Irian Jaya
> Semua Ingin Seperti Aisyah
> Oleh H. MANGARAHON DONGORAN
> 
> "BANYAK tantangan untuk berdakwah di kawasan Timur
> Indonesia, terutama di Irian Jaya. Karenanya
> dibutuhkan kesabaran yang tinggi dan investasi
> keikhlasan yang luar biasa. Berdakwah di pedalaman
> Irian Jaya tidak seperti di Jawa yang bisa naik
> kendaraan mewah, tanpa beban berat," demikian Ustaz
> M.
> Zaaff Fadzlan Al-Garamatan, mubalig yang keluar
> masuk
> pedalaman Irian Jaya menuturkan pengalamannya.
> 
> Menurut ustaz yang asli penduduk Irian Jaya ini,
> dakwah yang dilakukannya di pedalaman Irja dilakukan
> dengan berjalan kaki cukup jauh, persis seperti
> perjuangan dakwah Nabi Muhammad saw. ketika hijrah
> dari Mekah ke Madinah. Kalaupun ingin lebih cepat,
> hanya bisa lewat laut atau sungai yang biaya
> transportasinya sangat mahal. "Meski berhari-hari
> baru
> sampai, tetapi kami tidak pernah menyerah dan
> pantang
> mundur untuk mengadakan kegiatan dakwah itu,"
> katanya,
> menceritakan pengalamannya berdakwah di provinsi
> paling timur Indonesia itu.
> 
> Ketika berada di pedalaman Irja, bukannya rasa
> tenang
> yang diperoleh. Tantangan dari para tetua suku yang
> belum mengenal agama juga sangat deras. Demikian
> juga
> gigitan nyamuk. Biar pun pakai kelambu atau dibaluri
> dengan obat nyamuk, semuanya itu seakan tidak mampu
> menghalau nyamuk.
> 
> Tanpa busana
> 
> Lelaki yang sehari-hari dipanggil Ustaz Fadzlan ini
> menuturkan sebuah pengalaman menarik ketika membawa
> seorang dai dari Jawa untuk ikut bergabung.
> Ternyata,
> setelah hampir tiga bulan di pedalaman Irja, sang
> dai
> itu tertarik pada seorang gadis pedalaman Irja.
> Hanya,
> gadis tersebut belum Islam dan masih memakai adat
> pedalaman Irian yang tanpa busana. Selain itu, sang
> gadis pun ternyata putri seorang ketua suku yang
> sangat disegani.
> 
> Fadzlan yang mengenal betul karakter suku di Irja
> mengatur siasat. Ia menemui sang gadis, dan gaung
> pun
> bersambut. Hanya yang menjadi hambatan adalah
> bagaimana menghubungi ayah sang gadis yang sangat
> berpengaruh. Setelah melakukan berbagai pembicaraan
> dan basa-basi, akhirnya si gadis itu pun dibawa
> kawin
> lari. "Di Irja, kawin lari itu tidak masalah. Karena
> itu kita pun melakukannya dan membawa gadis tersebut
> ke Surabaya," ujarnya.
> 
> Namanya juga gadis Irja pedalaman, sudah tentu orang
> akan memperhatikannya. Ketika di Surabaya, si gadis
> ini pun kemudian dibawa ke salon kecantikan. Selama
> tiga bulan, ia didandani dan diajari bagaimana
> merawat
> tubuh secara Islam. Setelah dianggap aman, ia pun
> kembali ke kampung halamannya bersama suaminya.
> 
> Si gadis yang sudah resmi menjadi istri dai ini pun
> telah "berubah wajah" dan berganti nama menjadi
> Aisyah. Dengan wajah lebih putih dan bersih serta
> memakai jilbab, wanita sedesanya tidak lagi
> mengenalnya.
> 
> "Para wanita desa tidak percaya lagi Aisyah itu
> dulunya teman sepermainan mereka. Namun, ketika
> Aisyah
> mulai bergaul dan menceritakan pengalamannya, maka
> dalam waktu seketika, 360 wanita desa ingin
> didandani
> seperti Aisyah," kata Fadzlan.
> 
> Keinginan menjadi Aisyah ini tentu merepotkan.
> Namun,
> sebagai mubalig yang berpengalaman, tentu itu tidak
> masalah. Ia pun kemudian pergi ke Ujungpandang
> (sekarang Makassar). Ia menemui beberapa kenalan
> untuk
> meminta bantuan. Akhirnya, ia pun dipertemukan
> dengan
> keluarga Yusuf Kalla.
> 
> Ketika itu, keluarga Jusuf Kalla menawarkan bantuan
> uang. Tetapi, yang dibutuhkan bukan uang, tetapi
> bagaimana "memindahkan" salon ke pedalaman Irja.
> Setelah dijelaskan, akhirnya disepakati untuk
> membawa
> penata rias ke pedalaman, sesuai dengan keinginan
> wanita-wanita tersebut. "Selama tiga bulan, penata
> rias itu berada di pedalaman. Dan hasilnya, selain
> wanitanya menjadi bersih dan memakai pakaian
> tertutup,
> juga menyatakan diri masuk Islam," kata Fadzlan.
> 
> Nilai-nilai kemanusiaan
> 
> Menurutnya, yang paling utama dilakukan dalam
> berdakwah di pedalaman Irja adalah membangun
> simpati,
> memulai dari nilai-nilai kemanusiaan menurut Islam,
> kebersihan, pengenalan terhadap Al-Khaliq. Mengajak
> masyarakat Irian Jaya masuk Islam tidaklah mudah,
> diperlukan proses yang cukup panjang.
> 
> "Yang pasti dalam berdakwah, tidak dengan paksaan
> apalagi mengiming-imingi mereka dengan materi. Yang
> dilakukan awalnya adalah memberikan contoh,
> bagaimana
> Islam mengajarkan pola hidup yang baik dan mulia.
> Masyarakat di pedalaman Irian Jaya biasa tidak mandi
> tiga bulan. Bukan karena tidak ada air, tetapi
> mandinya diganti dengan membaluri badan dengan
> minyak
> babi atau binatang yang dibakar dan minyaknya
> ditampung. Maka kami memberi contoh mandi setiap
> hari
> dengan menggunakan air karunia Allah SWT," ujarnya.
> 
> Menurut Fadzlan, berdakwah di Irian Jaya dilakukan
> dengan menggunakan strategi tahapan. Triwulan
> pertama,
> melalui pendekatan social cultural. Tahapan kedua,
> dengan pembinaan hubungan antarmanusia dan hal-hal
> kemanusiaan yang berkaitan dengan individu dalam
> kehidupan. Triwulan ketiga, mengajarkan dan
> menjelaskan pandangan hablum minallah atau pandangan
> penyembahan kepada Allah SWT.
> 
> Melalui diskusi yang cukup panjang dan disertai
> dengan
> pemberian contoh, para mubalig yang keluar-masuk
> pedalaman Irja berhasil mengubah pola hidup penduduk
> setempat. Dari yang tidak islami menjadi islami.
> Jika
> sebelumnya, kaum ibu memberi air susu ibu (ASI)
> kepada
> 
=== message truncated ===



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke