Meunang kopi-paste ti koran online pikiran rakyat.
Nyanggakeun;
ARTIKEL
Senin, 25 April 2005
[440_garis_atas.gif (100 bytes)]
Ki Sunda, Mustahil Akan Punah!
Oleh MIRA R.G. WIRANATAKUSUMAH
[440_garis_atas.gif (100 bytes)]
Ki Sunda, Mustahil Akan Punah!
Oleh MIRA R.G. WIRANATAKUSUMAH
SEJAK Desember lalu, berbagai bencana
alam mengguncang Indonesia, tsunami di Aceh, gempa di Papua, Lombok, Nias,
sampai beberapa peringatan akan ancaman kehidupan masyarakat di Jawa Barat.
Semua wargi Jawa Barat harus bersiap-siap dengan bencana alam yang diramalkan
kelak menerjang lemah cai kita, oleh karena sang Tangkuban Parahu berada pada
posisi siaga. Tak dapat dipungkiri dan tak perlu hasil penelitian, berita
tersebut amat sangat yakin membuat semua masyarakat yang berada di tatar Sunda
merasa keueung dan khawatir akan keselamatan hidupnya sambil tidak tahu apa yang
harus dipersiapkan dan dilakukannya.
Akan tetapi, sebelum bencana tersebut
terasa mengguncang, tiba-tiba saja berita di "PR" tanggal 13 April 2005
menyuguhkan letupan informasi yang membuat seluruh rasa ini berdegup kencang.
Kang Dedi "Miing" Gumelar mengeluarkan diktum bahwa Ki Sunda berada pada ambang
kepunahan. Ancaman bencana apakah ini? Kang Dedi Gumelar saha anjeun teh?
Paranormalkah atau seorang analis dan pemikir atas hasil penelitian
bertahun-tahun tentang Ki Sunda?
Seorang pemerhati kasundaan-kah atau
sekadar personal yang memiliki kepedulian terhadap nasib kasundaan yang secara
kebetulan saja kemarin menjadi bagian penting dalam pembangunan gedung budaya
Miss Tjitjih? Adakah mengalir tetesan darah Sunda dalam tubuh Akang? Ataukah
Akang spesialis komentator bertarif pada forum-forum dialog dan
undangan-undangan launching saja? Saya harap Kang Miing bukan termasuk pada
klasifikasi yang terakhir. Karena, saya yakin pernyataan tersebut Kang Miing
lontarkan ketika Kang Miing baru saja ngeh tentang Sunda.
Andaikan saja Kang Miing sebelum
menyatakan "prediksi"-nya di depan publik belajar terlebih dahulu tentang bahasa
Sunda atau sekadar mencari tahu wacana-wacana dan kegiatan-kegiatan apa saja
yang sedang dirancang serta dilaksanakan dalam memperjuangkan Ki Sunda? Mulai
dari forum riungan warga sambil ngampar di warung Bandung atau pun ghirah
kasundaan yang sering digelar di hotel-hotel mewah dan lembaga-lembaga
penelitian untuk memikirkan dan menyusun kebijakan secara aktif dalam upaya
membangkitkan dan memelihara budaya Sunda, maka seyakin-yakinnya Kang Miing akan
menyatakan keprihatinan dan kepeduliannya dengan bahasa lain yang lebih
apresiatif dan optimis.
Saya tidak yakin apakah Kang Dedi
Gumelar itu orang Sunda atau bukan. Karena, jarang sekali saya mendengar Kang
Miing menggunakan bahasa Sunda ketika manggung, yang kerap terdengar malah
dialek kental Betawinya. Katanya, Dedi Gumelar itu berasal dari Banten, jadi
pasti orang sunda. Padahal, dalam sosialisasinya tentang budaya Unesco
menyatakan, bahwa salah satu upaya pemeliharaan budaya adalah dengan menggunakan
bahasa ibu selama mungkin. Nah, kalau bahasa saja tidak pernah dipakai apalagi
dihayati, padahal bahasa menunjukkan jati dirinya, mengungkap asal-usulnya serta
mengekspresikan lahir batinnya, maka ungkapan Kang Miing itu sebenarnya mewakili
kediriannya yang mana? Sebagai orang Sunda atau orang Jakarta?
Kapan pun dan siapa pun dia yang
telah mampu membuat diktum bahwa Ki Sunda berada di ambang kepunahan, maka tak
ayal lagi ia adalah orang yang sangat mumpuni serta telah khatam dengan
kasundaannya sebagai syarat kemestian bertanggung jawab atas apa yang diucapkan.
Maka, ketika pernyataan tersebut dilontarkan di depan publik, semestinya ia
telah menguasai analisis hasil informasi lengkap dengan data-data kelemahan yang
dimiliki Ki Sunda menuju kehancurannya tentunya.
Dalam pandangannya, mungkin sudah
tidak ada lagi potensi dan peluang-peluang yang dimiliki Ki Sunda untuk menuju
kebangkitannya. Baginya, Ki Sunda tidak memberikan kontribusi yang berarti di
saat-saat Indonesia mengalami good days and bad days. Yang ia perhatikan
hanyalah sisi gelap serta ancaman bagi Ki Sunda tanpa menunjukkan bukti-bukti
jelas apa saja yang telah diperjuangkan sebagai ekspresi kepeduliannya bagi
kasundaan. Jadi, kalau tidak ada bukti? Ya sama juga masih berputar dari tataran
wacana ke wacana.
Jika seorang Ki Sunda telah
menggenggam ruh Sunda, tentunya dia tidak akan berbicara di depan umum tanpa
membawa data-data atau indikator kepunahan tetapi ia akan menunjukkan
upaya-upaya apa saja yang sudah dia lakukan untuk menjaga hilangnya budaya. Dia
tidak akan memberikan penilaiannya tentang kepunahan Ki Sunda cukup dengan
menggunakan parameter dari tiadanya "Warung Bajigur" atau maraknya outlet di
Bandung. Benarkah keprihatinan tentang populernya kaus ketat dibandingkan kebaya
yang dikenakan mojang priangan adalah salah satu indikator kepunahan Ki Sunda?
Mudah-mudahan keprihatinan tersebut tidak diungkapkan oleh Ki Sunda-Ki Sunda
lainnya sembari menikmati benar lezatnya chicken cordon blue, atau sukiyaki dan
segarnya fruit punch atau ice cappucino di Cafi Resto.
Ruh kasundaan akan merasuk dan
digenggam hanya bagi jiwa-jiwa Sunda yang memiliki kanyaah, katineung atau
kareueus. Lalu dia usik dan mengamalkannya melalui penghayatan nilai-nilai
filosofis Sunda yang berakar dari nilai-nilai agama demi kemaslahatan Sunda,
baik melalui niat, ucapan dan perbuatannya. Seorang Ki Sunda yang telah
dihinggapi ruh Sunda, tidak akan tega melisankan "Ki Sunda Berada di Ambang
Kepunahan" meskipun dia sedang berkiprah dalam membangun gedung budaya Miss
Tjitjih.
Syahwahnya akan selalu hidup dan
terus memperjuangkan kasundaan hingga mencapai maqom tertentu seperti spiritnya
Prabu Siliwangi yang selalu bersemayam dan bergemuruh dalam batin Ki Sunda. Pada
saat seperti apa pun, ia akan sangat berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu,
karena ia menghayati betul nilai Sunda yang mengatakan, ulah sok saucap-ucapna
bisi jadi matak. Dalam nilai agama Islam, ucapanmu adalah doamu. Atau orang
Barat bilang, you are what you said, so watch your mouth!
Memang, tak dapat dinafikan, entah
sejak kapan Ki Sunda memosisikan dirinya untuk tidak silau pada jabatan atau
tidak mengutamakan pada hal-hal yang bersifat fisik, meskipun mungkin pernyataan
ini tidak mustahil untuk diperdebatkan. Ki Sunda menanamkan dan menjalankan
nilai-nilainya lebih bersifat pada kekayaan batin, mengutamakan nilai-nilai
luhung, nulung kanu butuh nalang kanu susah. Penghormatan Ki Sunda pada
sesamanya lebih memprioritaskan pada martabat dan fitrah manusia melalui
kesederhanaan serta kemashlahatan abadi. Ia mampu memberi dan melakukan sesuatu
tanpa diminta, tidak memamerkan diri atau adigung bahkan mendahulukan
kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri.
Ki Sunda merasa dirinya wajib
memuliakan guru, sufi, wal, dunungan dari sisi keilmuan yang dimilikinya bukan
melihat peran kepemimpinannya untuk kepentingan pribadi dan sesaat. Need for
achievement Ki Sunda bukan untuk meraih dan merebut tampuk pimpinan, tetapi ia
lebih memprioritaskan energi nilai-nilai yang diperolehnya agar bisa menjalar
dalam aliran darah di tubuh Ki Sunda hingga menyengat mamaras-nya. Karena
itulah, untuk merasakan dan memahami Ki Sunda kudu dirampa ku batin Ki
Sunda.
Ketika seorang Sunda memiliki ilmu,
ia akan bergairah untuk mentransformasikan nilai-nilai tersebut pada siapa pun
tanpa ada batas garis kuning. Kegairahan ini mengakibatkan Ki Sunda mampu
melahirkan pemimpin bangsa, guru besar dan dosen teladan, pengusaha kaya, ulama
kondang serta seniman ternama. Punahkah Ki Sunda? Tentu saja tidak! Karena
sangat boleh jadi kebahagiaan batin Ki Sunda telah mencapai titik kulminasi
dengan melahirkan produk dari hasil didikannya. Ia tak pernah pusing dengan
simbol-simbol, karena produk Ki Sunda hanya bisa dirasakan secara batiniah. Jadi
produk fisik selalu luput dan tidak pernah menjadi prioritas.
Meski kenyataan, memang sampai hari
ini belum ada satu Ki Sunda pun yang mau memperhatikan sisi fisik atau menggubah
penampilan luar agar Ki Sunda tampil menonjol sekaligus mampu meredakan
kegelisahan eksistensi Ki Sunda. Benar sekali, kita tidak pernah menemukan
welcome signs -- wilujeng sumping sebagai label kasundaan di lemah cai na --
untuk menunjukkan jati dirinya. Bahkan ketika membangun gedung budaya Sunda pun
tak terasa ruh Sundanya. Mengapa bukan Gedung Budaya Bi Tjitjih tetapi malah
Miss Tjitjih? Ini sama artinya dengan Ki Sunda membangun fisik tetapi tidak
memiliki ruh, maka dari itu sulit menjelmakannya menjadi simbol manusia Sunda.
Ki Sunda dibangun dengan fondasi spiritual dan itu tidak akan pernah berhenti
sampai kapan pun. Kalau bentuk fisik menjadi urgen untuk menggaungkan eksistensi
Ki Sunda, ya sudah siapa pun pasti setuju bangun sajalah fisik tersebut! Kan
tidak susah sebenarnya, tinggal aya kadaek, prak!
Tapi, siapa pun tak bisa memungkiri
popularitas Ki Sunda meski tanpa fisik, toh bangsa mana pun mengenal spirit of
Bandung. Akui saja secara jujur bahwa Ki Sunda mendidik banyak anak manusia
sarat dengan nilai-nilai luhur. Selanjutnya, nilai-nilai tersebut harus
diaplikasikan bukan disimpan dalam kaca etalase nilai-nilai kasundaan. Siapa
yang tidak mengakui semangat pencerahan-penyadaran-pemberdayaan yang
diperjuangkan Dewi Sartika? Lepaskah butir-butir Dasasila Bandung sebagai
beungkeutan negara-negara selatan yang dirajut Ki Sunda?
Tak terasakah karisma dan aura Kodam
Siliwangi yang menembus jagat? Berhentikah alunan dan denting Cianjuran atau Nur
Hidayahan? Surutkah ketegaran dan daya juang media informasi Sunda-Mangle untuk
mengembuskan napas kasundaannya walau tidak pernah mendapatkan apresiasi
pemerintah dan termarjinalkan tabloid-tabloid pop? Tidak! Karena mereka telah
menggenggam spirit Sunda yang basisnya terdapat dalam nilai-nilai agama Islam.
Seandainya nilai-nilai agama sudah tidak ditegakkan oleh Ki Sunda, maka itu tak
pelak lagi, pasti punah Kang, lebur!
Kang Miing, bangun dan ciumlah bau
kopi spirit Ki Sunda! Ki Sunda teh berada pada ambang kelahiran kembali bukan di
ambang kepunahan. Pada saat Kang Miing ngabodor Ki Sunda terancam punah, justru
kini Ki Sunda baik itu dari jajaran Sundanesse stakeholders ataupun yang sekadar
memiliki kepedulian terhadap kasundaan sedang serius melakukan perubahan demi
membangun kekuatan dan menegakkan paradigma baru.
Sebagai ilustrasi, sejak tahun 2000,
mahasiswa Sunda dari 30 perguruan tinggi di Lampung, Bali dan Jawa yang
berjumlah 1.000 mahasiswa tergabung dalam Fokalismas (Forum Komunikasi Lingkung
Seni Mahasiswa Sunda) sudah melakukan gerakan counter culture atau antisipasi
mencegah kepunahan budaya dengan melakukan penelitian dan pergelaran-pergelaran
sampai ke Eropa dan Peru Amerika bagian selatan. Hasil-hasil penelitian yang
dilakukan setahun sekali, diserahkan Fokalismas ke Dinas Budaya dan Pariwisata
untuk dievaluasi dan ditindaklanjuti. Kegiatan komunitas jajaka Sunda itu dalam
rangka melaksanakan peraturan daerah tentang memelihara bahasa, budaya, dan
aksara. Yeuh Kang, Ki Sunda teh nuju usik. Bukankah the imposible takes a while?
Saya sangat yakin sekali, bahwa untuk meraih apa pun perlu proses, mangga
perhatoskeun sing atos-atos geura!
Semua yang terjadi itu ada masanya.
Jika kita berharap siang akan datang padahal malam hari masih panjang, lalu
apakah kita akan membenci bintang karena mengharap mentari segera bersinar
terang? Membangun Ki Sunda diperlukan bekal kesabaran, pemikiran dan
sugesti-sugesti positif, motivasi kuat, optimisme dan strategi pemikiran yang
matang dalam meraih perubahan ke arah kemajuan. Hapunten, ancaman yang
ditakutkan Kang Miing tidak menyentuh mamaras Ki Sunda yang sedang bergerak
maju, yang jiwa dan raganya telah diikat oleh roh Sunda yang tiada pernah akan
mati bahkan punah. Cag!***
Penulis, anggota Presidium Rukun
Wargi Tatar Sunda dan Ketua Yayasan Indonesia Masa
Depan.
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

