Ieu oge aya wartos anu sanada mangga araos. Salam baktos, WAG (dikeureut heula)
=============================== Melacak Kristenisasi di Kaki Gunung Salak Di balik keindahan Wisata Gunung Salak Endah terdapat sebongkah misi Komunitas Immaculatta. Mereka ingin menata bukit menjadi Taman Wisata Goa Maria. SABILI menelusurinya. Setelah menempuh perjalanan panjang, SABILI akhirnya berhasil juga sampai ke Wisata Gunung Salak Endah, Bogor. Sepanjang jalan banyak ditemui masjid dan mushalla, bahkan menurut Ikhwan Murod, penduduk asli Pamijahan, �Saking relijiusnya Pamijahan, setiap desa di Kecamatan Pamijahan pasti ada pesantrennya.� Selama perjalanan, SABILI ditemani seorang guide dari penduduk setempat. Jalan berliku, tanjakan yang curam dan turunan yang terjal, adalah hidangan pembuka dalam �misi� kali ini. Tapi itu semua tidak terasa, begitu memasuki kaki Gunung Salak Endah. Kita akan disuguhi pemandangan yang sangat memesona. Sebuah pemandangan alam terbuka dimana bila kita tengok ke bawah akan dibuat takjub dan berdetak kagum melihat perkampungan penduduk dari ketinggian dua ribu meter. Suasana tadi terasa berubah ketika memasuki pintu gerbang Kawasan Wisata Gunung Salak Endah. Sepertinya masyarakat menyembunyikan sesuatu di atas sana. Benar saja, ketika sampai di bawah bukit tempat Goa Maria akan dibangun, SABILI coba menyapa seorang ibu penduduk asli Desa Ciparay dengan bahasa Sunda. Awalnya si ibu menjawab, �Abdi mah teu terang Goa Maria,� tetapi ketika obrolan dibuat cair, baru Ibu itu mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak setuju dengan pembangunan Goa Maria. Begitu juga dengan tukang ojek, ketika ditanya tentang Goa Maria, ia mengatakan, �Abdi mah teu memperhatikeun.� SABILI juga melihat beberapa orang yang dikatakan preman oleh penduduk setempat berseliweran memperhatikan SABILI yang saat itu sedang mengambil gambar bukit yang akan dijadikan tempat bersemayamnya Bunda Maria. Jadi, jika sudah berdiri patung Bunda Maria yang terbesar itu, dari seberang bukit akan kelihatan dengan jelas. Mengamati situasi dan kondisi yang kurang mendukung dimana hari sudah menjelang senja, SABILI memutuskan untuk kembali esok hari. Keesokannya, dengan persiapan yang memadai, ditemani seorang tokoh masyarakat Desa Ciparay, SABILI berangkat ke lokasi untuk mengabadikan tempat tersebut. Saat menapaki jalan berbatu, SABILI bertemu dengan pekerja pembangunan Goa Maria. Terlihat beban yang sangat berat, empat buah batu besar dipikulnya. Saat ditanya soal upah yang diterima, pekerja tersebut menjawab sebesar 25.000 rupiah sehari. Walau pekerjaannya hanya mengangkut batu dari bawah ke atas bukit, tapi terselip golok di pinggangnya. Untuk apa? Para pekerja, sebagian besar penduduk setempat, selebihnya dari daerah lain. Rata-rata pendidikannya hanya sampai bangku SD. Itulah yang menyebabkan mereka rela bekerja di tempat itu, selain juga himpitan ekonomi. Mereka beranggapan bahwa apa yang dilakukannya halal karena untuk mencari rezeki, walaupun sebenarnya mereka tidak setuju dengan pembangunan tersebut. �Habis, susah cari kerja daripada nganggur, lebih baik jadi kuli,� kata seorang pekerja yang sudah memiliki anak sembilan, tetapi kesembilannya tidak ada yang tamat sampai SMP. Dengan susah payah, SABILI akhirnya sampai ke atas bukit, tempat akan dibangunnya taman wisata Goa Maria. Karena lewat belakang, bukan jalur semestinya, mereka terlihat kaget, tak menyangka ada orang bisa tembus sampai ke atas bukit. SABILI memberanikan diri menanyakan Abi (FX Maumars Rahail-Ketua Pembangunan Goa Maria) yang ternyata adalah istri Abi. Umi, panggilan istri Abi, mempersilakan SABILI untuk menemui Abi yang sedang duduk di bawah altar, tempat Patung Bunda Maria yang terbesar akan diletakkan. �Selamat datang, saya cinta kebenaran, silakan.� Itulah sapaan ramah Abi kepada SABILI. Wajar saja bila Abi mudah berinteraksi dengan warga di sini. Selain ramah, akrab dan bersahaja, Abi juga terkenal dapat mengobati berbagai penyakit. Tapi ini semua bukan jaminan bisa diterima oleh masyarakat. Buktinya, menurut Didin Setiawan, �Abi pernah membuat kasus di Gunung Menyan tahun 2001. Usut punya usut, ternyata Abi menyebarkan selebaran menyesatkan dengan kedok panti asuhan.� Akhirnya, Abi diusir dengan tidak hormat dari kampung halamannya. Selain itu Abi putus hubungan darah dengan keluarganya karena murtad. Alhamdulillah, wawancara berlangsung dengan lancar, walaupun sang istri sering memperingati Abi agar hati-hati terhadap wartawan. �Abi, kalau wartawan tidak tanya jangan banyak cerita, jangan terpancing,� kata Umi yang berasal dari Ambon itu. Setelah itu, SABILI berpamitan dan pulang melalui jalur sebenarnya. Ketika turun menapaki tangga, terlihat altar di sudut kiri dan kanan yang disiapkan untuk menyimpan patung Bunda Maria. Kurang lebih ada lima belokan zig zag yang jika ditelusuri akan menuju pusat dari altar terbesar, tempat patung bunda maria paling besar itu. Abi mengatakan bahwa H Udin itu provokator. Oleh karena itu setelah wawancara dengan Abi di Bukit, SABILI langsung berkunjung ke tempat H Udin. Dari keterangan H Udin terungkap bahwa tokoh masyarakat ini merasa tertipu oleh Abi. Ceritanya ia pernah didatangi anak buah Maumars (Abi), meminta sikap terhadap pembangunan Goa Maria. Ketua BPD ini bingung karena sudah secara resmi membuat surat penolakan pembangunan tersebut. Dengan alasan ingin meminta langsung secara pribadi dari H Udin, akhirnya ia membuat surat secara tertulis atas nama pribadi menolak pembangunan Goa Maria. Ternyata ini hanya pancingan, justru surat tersebut dibalas dengan balasan yang berisi gugatan ganti rugi materil dan mempertanyakan peraturan undang-undang mana yang melarang bangunan dilanjutkan. Selanjutnya SABILI berkunjung ke tokoh mayarakat lainnya, yaitu KH Khotib Sarbini. Ia adalah tokoh sesepuh Desa Gunung Sari. Dengan tegas ia menolak pembangunan Goa Maria karena bertentangan dengan peraturan agama dan pemerintah. �Ini meresahkan warga, karena di sini mayoritas Muslim. Tanpa istirahat sedikit pun, SABILI melanjutkan kunjungan ke ketua MUI Pamijahan KH Drs Tatang Haetami, M.Ag. Ketua STAI Aulia ini bertutur, �Kami sangat menentang perbuatan tersebut dan kami bersama-sama dengan masyarakat dan ulama yang ada di sini melakukan antisipasi terhadap pembangunan Goa Maria.� Perjalanan ditutup dengan kunjungan ke Ketua FORSAP (Forum Silaturrahim Antar Pengajian) Kota dan Kabupaten Bogor, Ibu Yayah Kholidah. Ia adalah ketua pelaksana Tabligh Akbar 24 April 2005 bertempat di lapangan bola Gunung Salak Endah. Pembicara saat itu Abu Deedat, MH dan Dra Hj Nurdiati Akma dari FORSAP Pusat. Menurut Ibu tiga anak ini, tabligh akbar diadakan bukan untuk memprovokasi massa menghancurkan Goa Maria, tapi untuk memberikan ketenangan dan keteguhan iman masyarakat di daerah tersebut. Sampai hari terakhir perjalanan jurnalistik SABILI, masih terlihat aktivitas pembangunan Goa Maria. Padahal sudah mendapat protes dan kecaman keras, baik dari pemerintah setempat, tokoh ulama, ormas ataupun masyarakat. Nah, apa tindakan terhadap mereka yang melanggar dan meresahkan? Afriadi ________________________________________________________________________ Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now http://uk.messenger.yahoo.com/download/index.html ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

