Punten ah teu di sundakeun, kenging ti kompas.....


Jakarta, Warta Kota

Usia senja terus berkarya. Walaupun tubuh sudah dimakan usia, tapi
ide-ide bernas masih mengalir deras. Ya, itulah Achdiat Karta Mihardja.
Di usianya yang ke-94 tahun masih bisa meluncurkan novel terbarunya.
Novel itu berjudul Manifesto Khalifatullah. "Buku ini tidak hebat
seperti Atheis, tapi lebih baik dari Atheis," tutur Achdiat di Galeri
Cipta II-TIM, Selasa (7/6).

Achdiat Karta Mihardja memang  terkenal dengan novel perdananya yang
monumental berjudul Atheis (1949). Namun, ketika ada orang yang
membandingkan karya terbarunya itu  dengan novel lawasnya itu, ia tidak
rela. Misalnya, Yudi Latif yang memberi kata pengantar di Manifesto
Khalifatullah menulis bahwa Achdiat lebih mengutamakan pesan daripada
permainan kata-kata.

"Saya dibilang terlalu konsentrasi pada pesan, tidak pada kata. Tetapi
pesan itu paling indah. Kita dilahirkan sebagai khalifatullah, wali
Allah di bumi, bukan sebagai setan. Segala sesuatu yang dilarang Tuhan
dihindari, tapi yang disuruh Tuhan dilakukan. Itu pegangan hidup saya.
Pesan itu indah sekali," katanya lagi.

Sastrawan angkatan 45 ini tidak menuliskan sendiri karyanya, karena
keterbatasan fisik. Ia merekam kata-katanya sendiri dengan tape recorder
dan orang lain yang memindahkannya ke dalam tulisan. Maklum saja,
penulis novel Debu Cinta Bertebaran (1973), matanya nyaris buta,
tangannya sudah kaku, dan berjalan pun harus dibantu sebatang tongkat.

Achdiat dilahirkan di Cibatu, Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911. Setelah
tamat Oosters Letterkundige Afdelin (AMS), ia meneruskan sekolah di
sekolah setingkat SMA di Solo mengambil jurusan Sastra Timur. Namun,
Achdiat tidak bisa meneruskan ke pendidikan yang lebih tinggi karena
saat itu dunia sedang mengalami krisis ekonomi.

"Saya merasa rendah diri dengan orang-orang bertitel, tapi saya punya
keinginan untuk mengejar pengetahuan dengan orang-orang yang lulusan
perguruan tinggi," ujar Achdiat seperti yang diucapkannya di film
dokumenter produksi Yayasan Lontar berjudul Suara dari Jaman Pergerakan.

Tekad Achdiat untuk sejajar dengan orang-orang yang berpendidikan tinggi
terbukti. Ia menjadi pengurus Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional
(BMKN) dan Organisasi Pengarang Indonesia (OPI). Bahkan kepandaiannya
menulis sastra diakui oleh negara tetangga, Australia, dan  memintanya
menjadi pengajar di Australia National University (ANU) di Canberra. Ia
pun sejak tahun 1961 hingga saat ini menetap di Australia.  (tan)


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke