mj,

pertanyaanana saha ari nu disebut urang sunda? anak kuring anu diajak
ngomong ku indungna make basa endonesyah, naha engke masih keneh disebut
urang sunda?

ki ajip, mun teu salah yeuh, asa robah pamandangan ngenaan urang sunda. dina
bukuna--manusia sunda (1980)--ki ajip ngaguar rupa-rupa pasifatan urang
sunda ti tokoh sastra, folklor dugi ka tokoh anu bener-bener aya : ti
mundinglaya di kusumah, sang kuriang, mantri jero jeung sajabana.
kasimpulanana, sifat urang sunda mah rea: ngacu ka sifat tokoh-tokoh nu
diguar ku ki ajip.

tapi, alhamudillah, di na hampir tungtung tulisanna, ki ajip ngomatkeun
urang tong percaya kana tahayul. satadina mah sugan teh ki ajip rek
nyarankeun ngamumule nu euweuh.

jeung eta makalah naha make basa endonesyah nya? seminarna lain urang sunda
wungkul kitu?

bagja

----- Original Message -----
From: "mj" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Cc: <[email protected]>
Sent: Monday, September 05, 2005 3:16 PM
Subject: [Urang Sunda] Mencari Sosok Manusia Sunda






Mencari Sosok Manusia Sunda

Oleh Ajip Rosidi

Manusia Sunda: siapakah tokoh idealnya?
Kalau kita hendak mencari sosok manusia suatu komunitas, maka terlebih
dahulu baik kalau kita teliti, siapakah yang menjadi tokoh manusia ideal
kelompok tersebut. Dalam hal mencari sosok manusia Sunda, maka yang harus
kita cari ialah siapakah tokoh ideal orang Sunda?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut bisa banyak - tergantung kepada
pilihan masing-masing orang. Karena kebanyakan orang Sunda memeluk agama
Islam, niscaya tokoh idealnya adalah junjungannya, Muhammad Rasulullah
dan tokoh-tokoh lain seperti Umar bin Khattab, dll. seperti yang biasa
dianggap sebagai manusia ideal oleh umumnya kaum muslimin-muslimah di
mana saja di dunia.  Namun yang saya maksudkan di sini adalah tokoh idéal
yang bertalian dengan kesundaan.
         Menurut pengamatan saya, tokoh ideal kebanyakan orang Sunda
adalah Prabu Siliwangi. Tokoh ini sangat terkenal dalam leluri,
legenda, carita pantun Sunda dll., namun para ahli sejarah tidak
berhasil menemukannya dalam sumber-sumber sejarah seperti
prasasti, sehingga dianggap hanya sebagai tokoh sastera saja.
Telah ada yang mencoba mengidentifikasi tokoh sastera ini dengan
data-data sejarah yang sudah ditemukan, antaranya Moh. Amir
Sutaarga melalui karyanya Prabu Siliwangi (Duta Rakjat, Bandung,
1965) yang menyimpulkan bahwa tokoh Prabu Siliwangi itu adalah
Sri Baduga Maharaja; yang disayangkan oleh Saléh Danasasmita
dalam bukunya Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu
Siliwangi (Kiblat Buku Utama, Bandung, 2003) karena
argumentasinya kurang kuat. Menurut Saleh argumentasi Amir lebih
berdasarkan filologi bukan berdasarkan ilmu sejarah, meskipun dia
sendiri sependapat bahwa Prabu Siliwangi adalah Sri Baduga
Maharaja yang menjadi susuhunan Sunda di Pakuan tahun 1482 -
1521.
Sementara itu Prabu Siliwangi yang menjadi tokoh ideal kebanyakan orang
Sunda ialah raja Pajajaran terakhir, atau nama umum raja Pajajaran sejak
awal sampai akhir, konon dari I sampai VII,  karena mereka beranggapan
bahwa semua raja Pajajaran  mempergunakan nama Siliwangi yang dibedakan
hanya dengan nomer saja. Bukan saja tokoh ideal ini bukan tokoh sejarah,
melainkan nama Kerajaan Pajajaran pun tidak terdapat dalam sumber-sumber
sejarah - hanya terdapat dalam leluri dan carita pantun saja. Menurut
para ahli, mungkin dikelirukan dengan nama ibukota Kerajaan Sunda yang
disebut Pakuan Pajajaran.
Prabu Siliwangi sebagai tokoh ideal orang Sunda, adalah raja yang adil
palamarta, welas asih, sakti, bijaksana, punya pandangan jauh ke depan
bak ahli ramal, yang ketika kerajaannya dikalahkan oleh pasukan Islam
raib dengan jasadnya (ngahiang), karena itu sekarang pun dipercaya masih
hidup serta  selalu menjaga dan membimbing (ngaping ngajaring)
anak-cucunya orang Sunda, menjaganya yang pada waktu tertentu kalau perlu
menjelma sebagai harimau, memberikan wangsit untuk menjadi pedoman anak
cucunya dalam menempuh kehidupan, dan semacamnya. Sifat-sifat tokoh Prabu
Siliwangi seperti itu, bukan hanya diyakini oleh orang-orang sembarangan
yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, melainkan juga oleh tokoh-tokoh
masyarakat yang bergelar serta aktif di lingkungan universitas. Orang
seperti Acil Bimbo (Darmawan Hardjakusumah SH) meyakini hal itu seperti
sering dia kemukakan dalam ceramah atau pidato radionya. Drs. Hidayat
Suryalaga juga orang yang meyakini sifat-sifat Prabu Siliwangi seperti
itu.
Uraian yang paling representatif mengenai keyakinan akan keagungan,
kehebatan, kesaktian Prabu Siliwangi, kita dapati misalnya dalam buku
Sangkakala Padjadjaran: Upaya Awal Mengeja dan Menyingkap Makna Rumpaka
yang ditulis oleh Ir. H. Setia Hidayat dan N. Syamsuddin Ch. Haesy (Bina
Rena Pariwara, Jakarta, 2004).  Hanya berdasarkan teks rumpaka guguritan
yang biasa dinyanyikan dalam Tembang Sunda Cianjuran, kedua penulis itu
menguraikan tentang Pajajaran yang konon sekarang pun masih ada "karena
Pajajaran tak pernah sirna". Dengan mengutip "Spiritualis" yang anonim,
dikemukakannya pendapat bahwa "Padjadjaran sirna justru terjadi di abad
XX bersamaan dengan meletusnya Gunung Galunggung" dan itu pun masih
meninggalkan artefak-artefak yang belum ditemukan yang baru akan musna
kalau Gunung Guntur meletus (h. 96). Diyakininya bahwa suatu ketika
Padjadjaran akan bangkit kembali. Dan tanpa menunjukkan bukti dan data
yang jelas, dikemukakannya pula bahwa "telah hadir dan tumbuh generasi
baru yang mampu menunjukkan identitas dan jati diri Padjadjaran". Dan
sebagai contoh dikemukakan bahwa "harumnya pasukan Siliwangi dalam
lingkungan TNI, sebagai satuan pasukan darat yang unggul hingga kini" (h.
100). Agaknya kedua penulis itu tidak tahu bahwa pada masa revolusi
sampai tahun-tahun sekitar 1965 memang pasukan Siliwangi unggul dan
dihormati, tetapi pada awal Orde Baru, pamor Siliwangi telah dicéos oleh
Suharto tanpa perlawanan sama sekali.
Oleh kedua penulis tersebut, dipercaya bahwa "pada setiap masa selalu
akan hadir Prabu Siliwangi yang memiliki kualifikasi unggul sabagai
pemandu arah perjalanan bangsa memasuki misteri masa depan" dan
"nilai-nilai relijiusitas, kebangsaan dan kerakyatan yang diwariskan
Prabu Siliwangi akan menjadi pedoman memasuki jaman baru" hanya
berdasarkan satu larik (padalisan) guguritan yang berbunyi "geura gedé
jeung pinanggih" (h. 100).
Seperti sudah saya katakan, imajinasi tentang kehebatan dan keagungan
Prabu Siliwangi yang diuraikan oleh Ir.  H. Setia Hidayat dan N.
Syamsuddin Ch. Haesy ini semata-mata  berdasarkan rumpaka guguritan yang
biasa dinyanyikan dalam Tembang Sunda Cianjuran, tanpa memberitahukan
dari mana rumpaka itu diperoleh, siapa yang menciptakannya dan kapan
ditulisnya.
Siapa pun yang menyusun rumpaka itu, jelas bahwa dia disusun sesudah
Tatar Sunda berada dalam alam jajahan. Artinya setelah orang Sunda
dijajah. Mengapa? Karena Tembang Sunda Cianjuran yang merupakan
perkembangan dari pengaruh tembang Jawa dikenal dan digemari oleh orang
Sunda setelah orang Sunda dijajah Jawa, yaitu pada masa Mataram
diperintah oleh Sultan Agung (1613 - 1645). Para bupati Sunda yang setiap
tahun harus menghaturkan upeti ke Mataram diharuskan tinggal di sana
(disandera!) selama beberapa bulan dan selama itu mereka mempelajari
kebudayaan dan kesenian Jawa yang ketika mereka sudah kembali ke tempat
asalnya diajarkan kepada lingkungannya. Tembang sebagai salah satu
kesenian yang mereka pelajari  diperkembangkan juga di daerahnya
masing-masing dengan memasukkan unsur-unsur yang terdapat di daerahnya.
Yang paling berkembang memang di Cianjur, sehingga nama Tembang Cianjuran
sering diartikan sebagai sinonim  Tembang Sunda. Memerlukan waktu yang
lama sehingga tembang Cianjuran menemukan bentuknya seperti yang
diperkembangkan oleh Dalem Wiratanudatar I (1776 - 1813) dan terutama
oleh  Dalem  Pancaniti (1834 - 1862) ketika unsur-unsur pantun dan degung
Sunda tampil dominan (mengenai tembang Sunda periksa Ensiklopédi Sunda,
Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 2000). Dalam perjalanan sejarah terbukti
bahwa tembang sebagai kesenian terus-menerus mengalami perubahan sesuai
dengan perkembangan masyakarat dan manusianya, misalnya lagu-lagu
panambih baru dikenal pada pertengahan abad ke-XX. Sampai sekarang pun
kesenian Tembang Sunda masih hidup dan berubah.
Saya kemukakan catatan sejarah itu untuk menunjukkan bahwa baik lagu
maupun rumpaka guguritan yang dijadikan teks dalam tembang Cianjuran
selalu berubah dan bertambah. Sayang sampai sekarang tidak ada penelitian
yang dilakukan untuk menyelidiki tentang perubahan yang terjadi dalam
dunia Tembang Sunda Cianjuran baik lagunya maupun guguritan rumpakanya.
Dengan mengemukakan hal itu, saya ingin menunjukkan bahwa rumpaka yang
dijadikan dasar uraian imajinatif  oleh Ir. H. Setia Hidayat dan N.
Syamsuddin Ch. Haesy untuk mengagungkan Pajajaran dan Siliwangi itu masih
harus diuji otentisitasnya. Karena tidak mustahil rumpaka itu buatan
baru-baru ini saja. Di dalamnya terdapat kata-kata yang baru dikenal pada
pertengahan abad ke-XX seperti "abdi seni" (dalam "Rajah").  Dan kalaupun
terbukti memang berasal dari masa awal Tembang Cianjuran, mungkin pada
abad ke-18 atau ke-19, tetap saja hasil ciptaan orang Sunda yang terjajah
yang membayangkan masa lalunya sebagai sesuatu yang indah-ideal. Hal itu
digunakan sebagai pelarian dari kenyataan yang berlainan sekali dengan
impian yang indah itu. Bahwa tembang Cianjuran adalah ekspresi penuh
rindu akan masa silam yang indah-jaya yang berlainan dengan kenyataan
yang dihadapi, dapat kita tangkap dari melodinya yang melankolik
mendayu-dayu. Tembang Sunda adalah ekspresi orang yang kehilangan dan
mendambakan yang hilang itu agar kembali. Memang tidak merengek-rengek,
tapi tidak ada usaha untuk merebut yang sudah hilang itu -  kalau perlu
dengan paksa.
Ketika tembang Sunda berkembang di Cianjur, yaitu pada abad ke-18 dan
ke-19, Tatar Sunda sudah dua setengah atau tiga abad dijajah, pertama
oleh Mataram, kemudian  oleh  Belanda yang menerimanya sebagai upah
membantu menyelesaikan perang saudara di Mataram dalam dua tahap, tahun
1677 dan 1705. Kalau Prabu Siliwangi yang sering dinyanyikan dalam
tembang itu memang Sri Baduga Maharaja, maka ada jarak kl. tiga setengah
abad dari jaman Prabu Siliwangi dengan masa Tembang Sunda berkembang. Dan
tiga setengah abad yang penuh dengan kehinaan sebagai bangsa terjajah.

Harus berani melihat realitas
Begitu sempurna tokoh Prabu Siliwangi itu dilukiskan oleh kedua penulis
buku Sangkakala Padjadjaran, sehingga kita jadi tahu bahwa tidak ada
manusia Sunda yang menyejarah yang dapat dibandingkan dengan baginda.
Tetapi apakah yang dilukiskan oleh kedua penulis tersebut merupakan
kebenaran faktual? Sulit diterima, karena tidak ada bukti otentik yang
mendukungnya.  Apa yang dilukiskan  oleh keduanya hanyalah hasil imajinasi
berdasarkan data-data fiktif belaka. Barangkali maksudnya untuk membuat
orang Sunda punya percaya diri kalau diberitahu betapa hebat leluhurnya
dahulu walaupun tidak berdasarkan kenyataan sejarah.
Tapi memberikan gambaran yang tidak realistis niscaya mempunyai
implikasi-implikasi yang tidak diharapkan. Padahal manusia Sunda masa
kini harus sadar bahwa yang mereka hadapi dan harus bangun bukanlah
melanjutkan Kerajaan Pajajaran, yang secara historis sudah dikalahkan
oleh  balatentara Islam pada abad ke-16. Pembangunan yang harus dilakukan
sekarang bukanlah membangun Kerajaan Pajajaran, melainkan membangun
bangsa dan negara Indonesia yang demokratis sebagai konsekuensi ikut
sertanya para pemuda Sunda pendiri bangsa dalam Sumpah Pemuda pada tg. 28
Oktober 1928,  dan ikut serta pula dalam memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia dan  mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia dari serbuan
bangsa asing yang hendak menjajah kembali. Walaupun orang Sunda sering
mengatakan bahwa mereka adalah "seuweu-siwi Siliwangi", tetapi secara
genealogis hal itu bisa dipertanyakan. Silsilah yang dibuat di lingkungan
para keluarga dalem Sunda yang selalu berasal dari Prabu Siliwangi, patut
dicurigai, apalagi yang kemudian menyambung hubungan silsilahnya  sampai
kepada tokoh-tokoh wayang dan para dewa India. Dengan menyatukan diri
dalam negara dan bangsa Indonesia, orang Sunda ikut serta membangun
bangsa dan negara baru yang demokratis, bukan membangun Kerajaan
Pajajaran, seperti juga seharusnya  orang Jawa jangan berpretensi
melanjutkan Kerajaan Majapahit atau Mataram -  betapa besar pun kerajaan
itu dalam angan-angan mereka.
Kalau orang Sunda terus menerus diajak mimpi dengan mengimajinasikan
keagungan dan  keunggulan tokoh Prabu Siliwangi atau Pajajaran di masa
silam, artinya kita terus menerus berusaha ngupahan manéh untuk melupakan
realitas yang kita hadapi secara kongkrit. Ngupahan manéh kalau
terus-menerus dilakukan tidak akan bedanya dengan ngabobodo manéh. Kita
akan tertipu oleh ilusi seakan-akan kita adalah bangsa besar yang dijaga
oleh nenek-moyang kita dari ancaman yang membahayakan hidup kita. Padahal
Prabu Siliwangi yang katanya sakti dan selalu ngaping-ngajaring orang
Sunda yang menjadi seuweu-siwi-nya, tidak mampu menghadapi serbuan pasukan
Islam dari Cirebon dan Banten sehingga ngahiang (raib dengan jasadnya).
Walaupun konon Prabu Siliwangi akan muncul menolong anak-cucunya kalau
menghadapi kesulitan, ternyata  tidak muncul ketika Tatar Sunda diserbu
Mataram, tidak muncul ketika orang Sunda dianiaya dan diperas oleh VOC,
tidak juga pada zaman Jepang ketika ratusan ribu orang Sunda mati
kelaparan. Hal itu membuktikan bahwa kehebatan tokoh Prabu Siliwangi itu
hanya ilusi belaka.   Manusia Sunda yang hidupnya berdasarkan ilusi, tidak
akan sampai pada prestasi nyata dalam hidup, karena tidak melihat dan
tidak  menyadari realitas yang dihadapi.
Janganlah kita terlalu mudah percaya kepada uga, wangsit atau apapun
namanya, apalagi kalau tak jelas sumbernya, sedangkan kalau sumbernya itu
orang yang menyebut dirinya atau disebut "Spiritualis" atau "Orang tua"
atau apa pun, harus kita terima dengan kritis. Jangankan orang yang hidup
berabad-abad yang lampau, mereka yang mengalami sendiri jaman yang kita
jalani ini pun tidak semuanya memahami situasi yang dihadapinya.  Kalau
kita sendiri yang mengikuti perkembangan di tanahair dan di seluruh
dunia dengan intensif  merasa bingung membaca jaman yang kita hadapi,
bagaimana orang-orang tua - apalagi kalau berasal dari masa lampau - akan
dapat memahaminya?  Tidak ada referensi yang menunjukkan bahwa baik
"Spritualis" maupun "Orang tua" yang dijadikan  sumber oleh kedua penulis
itu lebih memahami jaman dan situasi dunia daripada kita sendiri.
Tidak ada salahnya kita berbangga dengan tokoh seperti Prabu Siliwangi,
namun janganlah tokoh itu diselimuti dengan berbagai khayalan agar sesuai
dengan keinginan dan imajinasi kita sehingga menjadi tokoh ideal yang
sempurna. Kita tidak akan sampai ke  mana-mana dalam menghadapi tantangan
global yang kian deras kalau bertumpu pada tokoh khayalan demikian.
Sosok manusia  Sunda yang kita perlukan ialah sosok yang realistis, yang
dapat menyadarkan kita akan kondisi nyata yang kita hadapi. Dalam melihat
tokoh Prabu Siliwangi misalnya kita harus  berpijak pada data-data
sejarah yang ada. Harus kita akui bahwa data-data sejarah Sunda sangatlah
minim. Belakangan memang ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah yang
akan penting artinya bagi merekonstruksi sejarah Sunda, namun apa yang
sudah kita peroleh belumlah memadai. Data-data sejarah dari masa Sri
Baduga Maharaja - kalaulah benar bagindalah Prabu Siliwangi - sangat
terbatas. Sumber-sumber sejarah seperti prasasti (Batutulis) hanya
menyampaikan bahwa Sri Baduga pernah dinobatkan dua kali, sekali dengan
nama Prabu Déwataprana, yang kedua dengan nama Sri Baduga Maharaja,
menjadi ratu di Pakuan Pajajaran, di samping membuat samida dan danau
Talaga Rena Mahawijaya dan mendirikan ibukota Pakuan Pajajaran.
Sosok Prabu Siliwangi dalam alam pikiran orang Sunda lebih merupakan
mitos yang menjadi pelarian dari ketidakberdayaannya sendiri dalam
menghadapi kehidupan. Prabu Siliwangi dijadikan tumpuan harapan untuk
menyelamatkan anak cucunya orang Sunda dari keterpurukannya masa kini.
Makin rendah dan hina kedudukan orang Sunda dalam masyarakat, kian
diperindah gambaran tentang Prabu Siliwangi (dan kerajaan Pajajaran)
dalam imajinasinya, sehingga tidak melihat kenyataan-kenyataan yang
sekarang dihadapi, antaranya sebagai sukubangsa di Indonesia yang
jumlahnya kedua setelah Jawa, namun orang Sunda tidak memperlihatkan
prestasi yang membanggakan dalam berbagai bidang: tidak dalam politik,
tidak dalam perekonomian, tidak dalam ilmu pengetahuan, tidak dalam
pemerintahan, tidak dalam bidang kemiliteran. Hanya sedikit menonjol
dalam bidang kesenian dan hiburan, terutama senilukis, akting dan nyanyi.
Dan menjadi pelopor  dalam korupsi berjamaah.
            Prestasi  sukubangsa Sunda dalam percaturan nasional, kalah
oleh sukubangsa Batak yang jumlahnya jauh lebih sedikit -
apalagi oleh sukubangsa Jawa! Kenyataan tersebut begitu
telanjang sehingga siapa pun akan melihatnya, asal pikirannya
tidak dipenuhi oleh mitos tentang kebesaran masalalu atau
keagungan kebudayaan sendiri  yang hanya meninabobokan (menipu
diri sendiri)  karena tak pernah diperbandingkan dengan yang
lain.
            Dapatlah dilakukan penelitian secara ilmiah, mengapa hal
seperti itu sampai terjadi. Apakah kebudayaan Sunda yang
lemah, misalnya karena orang Sunda selalu bersikap
mendahulukan orang lain? Atau tidakkah disebabkan karena
memang orang Sunda tidak mampu bersaing? Dalam hal demikian
kita harus berani menghadapi kenyataan sebenarnya, jangan
cepat berlindung dalam alasan "daék éléh sungkan meunang" yang
dianggap sebagai kebijaksanaan orang yang berjiwa luhur.
Kenyataan membuktikan bahwa dalam jaman globalisasi kita harus
menunjukkan bahwa kita mampu bersaing, bahwa kita mempunyai
rasa tanggungjawab akan haridepan bangsa dan dengan demikian
kita berani memikul tanggungjawab yang dipikulkan oleh setiap
kedudukan.

Nilai-nilai budaya Sunda dalam pembangunan daerah
Berbicara tentang pembangunan, kita dihadapkan kepada pertanyaan mendasar
yang jarang dibahas, ialah: apakah yang hendak kita bangun? Selama ini
pembangunan dikomando dari atas tanpa mengikutsertakan rakyat yang diajak
membangun. Tidak pernah mereka ditanya apakah mereka setuju dengan tujuan
dan cara-cara  pembangunan yang sudah ditetapkan dari atas itu, jangankan
pula ditanya  apa yang mereka inginkan. Maka jangan heran kalau di
kalangan rakyat timbul sikap tak peduli - sikap apatis, bahkan tidak
mustahil sikap antipati.
Apakah Prabu Siliwangi waktu baginda menjadi raja Pajajaran memperhatikan
keinginan rakyat? Kita tidak tahu. Tak ada data mengenai hal itu. Namun
kita tahu bahwa pada masa Sri Baduga Maharaja memerintah (1482-1521) di
wilayah Kerajaan Sunda mulai berkembang agama Islam. Baginda tidak
melarang, melainkan memberinya kebebasan untuk berkembang. Bahkan baginda
pun mempunyai isteri yang memeluk agama Islam, yaitu Nyi Subanglarang
(Saléh Danasasmita, ysd, h. 67).  Hal itu menunjukkan bahwa baginda
memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama atau
kepercayaan apa saja yang sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Sedangkan pada masa kita, pernah agama yang boleh dipeluk oleh rakyat
dibatasi hanya lima saja (Islam, Katolik, Kristen, Buda, Hindu), di luar
yang lima seperti Agama Konghucu tidak boleh. Dengan demikian Sri Baduga
bersikap lebih terbuka. Tapi kita juga bisa mengatakan bahwa dengan
begitu baginda menggali kuburannya sendiri, karena bukankah Pajajaran
akhirnya digempur oleh pasukan Islam?
Sikap Sri Baduga Maharaja memberi kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk
agama sesuai dengan keyakinan masing-masing menunjukkan sikap terbuka yang
kalau memakai istilah sekarang: demokratis. Dari kasus ini barangkali kita
juga bisa menyimpulkan bahwa Sri Baduga Maharaja dalam urusan lain pun
bersikap seperti itu. Jadi tidak heran kalau baginda dianggap sebagai raja
yang bijaksana dan adil palamarta. Bahwa kemudian ternyata  Kerajaan Sunda
dikalahkan oleh pasukan Islam, bukanlah kekeliruan baginda dalam menarik
garis kebijaksanaan, melainkan karena kelemahan raja-raja  Sunda setelah
baginda.
Apakah sikap terbuka dan  bijaksana seperti itu menjadi sifat orang Sunda
dalam hal ini mereka yang menjadi pejabat pada masa kini? Saya tidak
pernah meneliti hal itu, dan sepanjang pengetahuan saya belum ada orang
yang melakukan penelitian mengenai hal tersebut,  tetapi kalau nanti
diadakan penelitian jangan heran kalau jawabnya negatif. Mengapa? Karena
setelah kerajaan Sunda tenggelam, tidak ada kerajaan besar yang meliputi
seluruh Tatar Sunda seperti Kerajaan Sunda. Yang muncul adalah
penguasa-penguasa di berbagai daérah kabupaten, yang pada perempat pertama
abad ke-17 dengan mudah ditaklukkan oleh balatentara Mataram. Dan sejak
itu Tatar Sunda menjadi daerah jajahan. Pertama oleh Mataram kemudian oleh
Belanda selama lebih dari empat abad. Dengan demikian orang Sunda adalah
yang paling lama dijajah di Indonesia. Sebagai bangsa jajahan, mentalitas
kaum elit yang diangkat oleh penjajah sebagai perpanjangan tangannya,
memperlihatkan sikap "sumuhun dawuh" dan "sadaya-daya", karena yang
dipentingkannya ialah mempertahankan jabatan.
Mentalitas demikian masih kita lihat setelah negara Republik Indonesia
berdiri, terutama pada masa Orde Lama  di bawah Presiden Sukarno
(1959-1966) dan pada masa Orde Baru di bawah Presiden Suharto (1966-1998).
Bahkan setelah reformasi pun mentalitas demikian masih melekat dengan
kuatnya. Para pejabat di Jawa Barat umumnya selalu lebih memperhatikan apa
keinginan para pejabat di Pusat (Jakarta) yang menjadi atasannya  daripada
mendengarkan suara rakyatnya.
Budaya dasar orang Sunda adalah agraris, lebih khusus lagi: petani ladang
atau huma yang selalu berpindah tempat kalau lahan yang digarapnya sudah
tidak subur lagi. Orang Sunda pedalaman baru berkenalan dengan budaya
sawah pada abad ke-19 ketika penjajah Belanda hendak meningkatkan
produktivitas pertanian dan hendak mengikat orang Sunda agar menetap.
Berladang dengan selalu berpindah tempat bukan saja merusak hutan,
melainkan terutama menyusahkan pemerintah yang hendak memanfaatkan
tenaganya dan hendak memungut pajak dll. Budaya ladang menyebabkan orang
Sunda lebih individualistis daripada orang Jawa yang berbudaya sawah.
Orang yang berladang lebih banyak hidup di ladang daripada di kampungnya,
dan ladang yang tempatnya berjauhan menyebabkan komunikasi antar mereka
sangat kurang. Karena itu salah satu sifat orang Sunda adalah
individualistis. Meskipun sudah hidup menetap, bahkan tinggal di kota,
sifat individualistis itu tetap menonjol. Berlainan dengan orang Jawa,
orang Sunda lebih sulit diatur. Lebih sulit dibuat seragam atau dibuat
bersatu.
Pada dasarnya manusia yang individualistis itu kreatif, namun setelah
berabad-abad hidup dalam tekanan  kaum elit yang memegang kekuasaan, baik
sebagai perpanjangan kekuasaan penjajah, maupun sebagai perpanjangan
kekuasaan kaum elit di pemerintah pusat, kreativitasnya tidaklah
berkembang dengan wajar.
Maka dalam usaha pembangunan, kita kembali kepada pertanyaan yang sudah
saya kemukakan,  yaitu: apanyakah yang hendak dibangun? Karena rakyat
tidak pernah ditanya maka komando pembangunan yang datang dari atas,
sering tidak sesuai dengan keinginan dan harapan rakyat. Karena takut
terhadap yang memegang kekuasaan, maka di kalangan rakyat tumbuh sikap
"heurin ku letah", sehingga rakyat tidak terbiasa mengemukakan pikiran dan
pendapat, dan karena itu tidak tumbuh sikap berani menuntut hak yang
menjadi miliknya. Yang tumbuh adalah sikap apatis. Akibatnya pembangunan
tidak berhasil dengan baik.
Sikap kaum elit yang menduduki jabatan dalam pemerintahan main komando
karena merasa berkuasa sudah menjadi budaya yang mentradisi dalam
masyarakat  Sunda. Demikian juga sikap "heurin ku letah", bahkan
"sadaya-daya kumaha kersa" telah menjadi budaya yang mentradisi di
kalangan rakyat.  Maka "revitalisasi dan aplikasi nilai-nilai budaya Sunda
dalam pembangunan  daerah" bisa diartikan menghidupkan dan mengembangkan
jiwa feodal, karena feodalismelah yang sampai sekarang menjadi anutan
orang Sunda dalam bermasyarakat dan bernegara. Tentu saja bukan
pembangunan demikian yang kita kehendaki. Justru kita harus mengikis habis
jiwa feodal yang terdapat dalam budaya kita kalau kita hendak membangun
bangsa dan negara yang demokratis.
Maka pembangunan (daerah) harus mengutamakan pembangunan manusia, yaitu
merobah mentalittas feodal menjadi mentalitas demokratis.  Pembangunan
manusia tidaklah dapat dilaksanakan melalui indoktrinasi seperti yang
dilakukan selama ini. Pertama-tama, rakyat harus diajak serta menentukan
tujuan pembangunan, sehingga mereka tahu untuk apa mereka bekerja. Artinya
harus dihidupkan suasana agar rakyat berani mengemukakan pendapat dan
menuntut haknya. Tradisi dialog, mendengarkan kehendak rakyat untuk
menetapkan tujuan pembangunan, tidak ada dalam kehidupan rakyat di Jawa
Barat. Dengan demikian, maka pihak elit politik dan para pejabat harus
merobah sikap dan pendekatannya yang mau memerintah dan memaksa karena
merasa diri berkuasa saja, dengan sikap yang santun dan terbuka.
Jadi kedua belah fihak, rakyat yang menerima perintah dan kaum elit yang
menduduki jabatan dalam pemerintahan harus bersama-sama merobah sikap dan
mentalitas feodal selama ini. Saya kira hal itu bukan pekerjaan mudah
yang tidak mustahil membutuhkan waktu beberapa generasi. Itu pun kalau
tidak ada kortsluiting seperti yang terjadi pada tahun  1959 ketika
Presiden Sukarno dengan dukungan Angkatan Darat (Jenderal A.H. Nasution)
membunuh semangat demokrasi yang sudah mulai berkembang dalam masyarakat
bangsa muda yang baru merdeka dengan mengangkat dirinya sebagai formatur
kabinet dan mengeluarkan Dekrit Kembali ke Undang-undang Dasar 45,
membubarkan Konstituante dan Parlemen pilihan rakyat.
Sosok Manusia Sunda yang kita perlukan dalam pembangunan ialah manusia
kreatif dan profesional yang berani mengemukakan keyakinan dan menuntut
haknya pada pihak rakyat dan manusia yang  menganggap jabatan yang
dipercayakan kepadanya bukan sebagai alat untuk memperlihatkan kekuasaan
secara sewenang-wenang, melainkan sebagai amanat yang harus dilaksanakan
penuh pengabdian pada masyarakat, pada pihak elit politik dan elit
pelaksana administratif.

Pabélan, 22 Juni, 2005.

(Makalah pada seminar Pembangunan Berbasis Budaya Sunda: Revitalisasi dan
Aplikasi Nilai-nilai Budaya Sunda dalam Pembangunan Daerah tg. 25 Juni,
2005 di Bandung).



mj

http://geocities.com/mangjamal






Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id

Yahoo! Groups Links










------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke