Pembuatannya Ditenun Secara Tradisional
Tikar Tasik dari Lidi Tembus Pasar Ekspor

TASIKMALAYA, (PR).-
Perajin asal Margaluyu, Kec. Manonjaya, Kab. Tasikmalaya, Ujang (47) tidak menduga kalau tikar dari lidi bisa laku dijual ke luar negeri. Padahal dua tahun lalu, Ujang hanya iseng atau sekadar coba-coba membuat tikar dengan memanfaatkan lidi dan jerami padi yang sudah dikeringkan.


PEKERJA sedang membuat anyaman tikar dengan bahan baku lidi di Ds. Margaluyu Kec. Manonjaya Kab. Tasikmalaya, Selasa (11/10). buruh tenun tikar ini setiap hari rata-rata mendapatkan upah Rp 10 ribu.*
UNDANG SUDRAJAT/"PR"

"Ketika hasil karya saya berupa tikar lidi ditawarkan ke perajin lain di Rajapolah, ternyata mereka tertarik. Akhirnya, hingga sekarang tikar lidi memiliki nilai jual, sampai tembus ke pasaran dunia," kata Ujang, ditemui di kediamannya, Selasa (11/10) di Manonjaya.

Setiap bulannya, ayah dua anak ini bisa menjual 12 ribu lembar tikar lidi. Untuk pekerjaan itu, ia memiliki lebih dari 40 pegawai yang menenun tikar lidi. Proses pembuatannya tidak jauh berbeda dengan cara membuat tikar yaitu ditenun tradisional atau lebih dikenal tustel. "Hanya mengganti mendong dengan lidi," tambahnya.

Lebar tikar yang dibuat hanya 50 cm, dengan panjang 10 meter untuk setiap lembarnya. Untuk setiap lembar, dijual seharga Rp 35.000,00. Rekan Ujang di Rajapolah, mengolah kembali tikar tadi, dengan dibuat berbagai kebutuhan atau pesanan dari luar negeri. Ada yang dijadikan tempat penyimpanan VCD, taplak meja, atau alas meja makan dalam ukuran yang kecil.

Bahan baku tikarnya diperoleh Ujang dari daerah Kec. Banjarsari, Kec. Cidolog, Kec. Padaherang, kesemuanya masuk daerah Ciamis. Pada awalnya, Ujang sendiri yang mengambil lidi yang sudah kering itu ke masyarakat. Namun, sekarang ini bahan baku tersebut diantar langsung ke tempat kerja Ujang oleh pengumpul. Satu ikat lidi ukuran sebesar pergelangan tangan pria dewasa, dibeli oleh Ujang Rp 500,00.

Usaha Ujang ini sudah berlangsung selama dua tahun terakhir. Ia merasa beruntung dengan temuan ini, karena perkembangannya cu-kup bagus dibandingkan dengan kerajinan lain. Bahkan, kini jejaknya, telah diikuti oleh para perajin lainnya, di daerah Manonjaya.

Sebelum terjun ke dunia kerajinan, Ujang adalah buruh biasa. Setelah bekerja keras serta mencari te-robosan dalam dunia kerajinan, kehidupan ekonomi keluarganya terus membaik.

"Yah, dibandingkan sebagai buruh, lebih enak sekarang membuat tikar lidi ini," katanya, tapi masih enggan menyebutkan penghasilan bersihnya dari usaha ini untuk setiap lembarnya.

Biaya produksi termasuk upah, benang, dan bahan baku, diperkirakan mencapai Rp 30.000,00. Sedangkan ia menjual ke penampung Rp 35.000,00. Selanjutnya, oleh perusahaan IKEA yang berpusat di Hong kong, dipasarkan ke berbagai belahan dunia. Ia sendiri bangga karena apa yang dihasilkannya, bisa diterima oleh masyarakat internasional.(A-97)***



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke