pendapat sim kuring mah..urang2 teh kedah tiasa ngadamel bom, tiasa 
strategi perang jeung sajabana..mun teu leupat mah..na teori 
pembelaan negara..rahayat teh salah sahiji komponen nu diwajibkeun 
perang mun aya musuh..saatos tantara teu aya..saha deui atuh nu bakal 
ngalawan musuh salaen rahayat sorangan..contohna di amrik sareng 
singapur mah tos diwajibkeun wajib militer teh..meh mun aya perang 
tinggal ngumpulkeun, tos siap sareng mental mun aya perang teh..
mun di urang rahayat na teu tiap mun aya musuh nyerang, jadina kumaha 
atuh..bade nyerah wae..???
kaahlian perang teh di anggona pas waktuna we..pas aya musuh 
nyerang...

sakitu tim sim kuring mah, bade nyumput deui..bisi aya 
intel...hehehehhe
--- In [email protected], sunda pituin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Nyaan sae pisan seratan pa Goenawan. Mudah-mudahan diantara 
sabahagian nu bade niat jihad kabujeng maos heula artikel ieu. (Boro 
bujeng sigana nya, pan riweuh ngadamelan bom....amit-amit ketang, 
atos atuh ah! cekap!!! Korban mah korban nyeueuran, bari jeung 
maranehna ka Surga oge Wallahu'alam...) 
>    
>   
> 
> Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  Ieu aya artikel sae deui, soal 
Azahari, kenging copy-paste tina millis
> tatangga.
> 
> Baktos,
> WALUYA
> 
> Azahari dan Indonesia
> 
> Oleh Goenawan Mohamad
> 
> Azahari dan Noordin Top masuk diam-diam dari Malaysia ke Indonesia,
> dan `membaur' dengan orang setempat. Mereka bukan orang asing, jika
> `asing' berarti `ganjil' dan `tak dikenal'. Tapi mereka bukan orang
> sini.
> 
> Mereka merekrut orang lokal yang dilatih untuk meledakkan bom, 
membunuh
> orang secara acak, dan sejak itu Indonesia pun terjerembab. Sejak 
itu
> negeri ini, yang kita nyanyikan sebagai negeri `aman sentausa', jadi
> tempat yang dianggap tak aman dan tak sentausa.
> 
> Tentu saja Azahari dan Noordin Top mengatakan mereka melawan Amerika
> Serikat dan Zionisme. Tentu saja mereka akan mengatakan jihad mereka
> adalah bagian dari perang global yang kini berkecamuk. Tapi pada
> akhirnya yang terluka bukanlah Amerika Serikat atau Israel, 
melainkan
> Indonesia -- sebuah negeri yang bagi kedua orang Malaysia itu tak 
punya
> makna apa-apa.
> 
> Mereka memang bukan orang sini. Kata `sini' mengimplikasikan sebuah
> perbatasan, antara `dalam' dan `luar'. Harus diakui perbatasan itu
> tak datang dari Tuhan atau alam, melainkan dari sebuah proses 
politik
> dalam sejarah. Perbatasan itu juga tak kekal. Tapi apakah yang tak
> kekal tak punya arti dan tak punya kekuatannya sendiri?
> 
> Azahari dan orang sejenisnya - yang bercita-cita mendirikan sebuah
> kekhalifahan Islam yang mengatasi `negara-bangsa' - berangkat dari
> semangat `de-lokalisasi': melintasi lokalitas yang mereka anggap
> membatasi diri. Mereka tak mau bersetia kepada sebuah `tanah air'.
> Yang pasti, mereka tak mau bersetia kepada Indonesia.
> 
> Mereka berangkat bersama asumsi bahwa Islam adalah sesuatu yang
> universal, yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Mereka seiring
> dengan dinamika abad ini, yang menerjang atau menyeberangi 
perbatasan
> nasional, dinamika yang digerakkan ilmu, teknologi, dan kapitalisme
> mutakhir. `Hari ini, agama bersekutu dengan tele-tekno-ilmu', kata
> Derrida dalam sebuah simposium di Capri di tahun 1994 - sebuah 
kalimat
> yang tetap punya gema satu dasawarsa kemudian.
> 
> Tapi pada saat yang sama, terjadi juga sebuah tabrakan. Agama, 
seperti
> yang dibawakan orang macam Azahari, mengandung kontradiksi: di satu
> sisi ia mengklaim dirinya universal, tapi di sisi lain, semakin ia
> jadi bendera identitas kelompok, semakin ia melawan sifat 
universalnya
> sendiri. Maka ketika agama jadi identitas kelompok, `globalisasi'
> yang dibawakan oleh modal, ilmu dan teknologi pun seakan-akan jadi
> ancaman - meskipun sebenarnya televisi, internet, serta teknik
> persenjataan dan pembunuhan, yang berasal dari `tele-tekno-ilmu',
> adalah penopang gerak `de-lokalisasi' mereka. Dalam pemikiran agama 
macam
> ini, identitas kelompok bertaut dengan `de-lokalisasi'. Itu artinya 
agama,
> dalam kata-kata Derrida, `terlepas' dari `semua tempatnya yang pas',
> bahkan dari pengertian `tempat' itu sendiri.
> 
> Tapi bisakah kebenaran agama, ketika diamalkan, berlangsung tanpa
> tempat dan terlepas dari konteks lokal apapun? Pernahkah? Khalil
> Abdul Karim, seorang mantan anggota gerakan Ikhwanul Muslimin di
> Mesir, pernah menganalisa bahwa sejarah Islam sejak sebelum dan
> segera sesudah Nabi Muhammad s.a.w. tak dapat dilepaskan dari posisi
> politik suku Quraish di sekitar Mekah. Ia menyebut bukunya
> (diterjemahkan dan diterbitkan oleh LkiS Yogyakarta) Hegemoni
> Quraish.
> 
> Buku itu mungkin tak sepenuhnya tepat. Tapi sulit dibayangkan Islam
> terlepas dari keterpautan dengan yang sempit di sebuah ruang dan 
sebuah
> waktu. Khalifah Usmani yang berpusat di Turki, yang konon melintasi
> perbatasan `negara-bangsa' itu, pada dasarnya bagian dari pengalaman
> dan kepentingan tahta Turki itu sendiri.
> 
> `De-lokalisasi' selalu mustahil: Islam yang diamalkan akan 
senantiasa
> terkait dengan sebuah petak di muka bumi. Sesuatu yang `bukan-
global',
> yang telah ada sejak beratus-ratus tahun, terus bertahan: sebuah
> wilayah dan sehimpun manusia yang identifikasi dirinya disebutkan
> dengan nama sebuah negeri ataupun bangsa.
> 
> Itulah `tanah air.' Tanah air adalah tempat seseorang terlempar. Di
> sana ia memilih untuk menerima posisi itu secara aktif ataupun 
pasif,
> secara bersemangat atau pasrah. Tanah air, seperti yang terjadi 
ketika
> republik ini lahir dari penjajahan, adalah sebuah `peristiwa': 
sesuatu
> yang mengguncang kehidupan dan menggerakkan hati.
> 
> Tapi tanah air juga sebuah `pengalaman': sebuah proses tumbuhnya
> akar. Kita tak perlu mengaitkan akar itu dengan asal-usul `darah dan
> tanah', Blut und Boden, seperti dalam nasionalisme Jerman yang 
sesat.
> Akar itu bukan sesuatu yang harus disakralkan, dan tempat kita hidup
> dan berasal, Heimat, bukanlah sesuatu yang suci. Tanah air terbentuk
> terus oleh sejarah, oleh kerja kita, dan itu sebabnya ia, dengan
> bekas darah dan keringat, punya arti bagi kita...
> 
> Indonesia, tanah air kita, lahir seperti itu, melalui revolusi - 
satu
> hal yang tak dialami orang Malaysia macam Azahari. Revolusi itu
> melibatkan rakyat banyak yang menderita di bawah penjajahan Belanda.
> Revolusi itu sebuah peristiwa, l'evenement dalam pengertian Badiou,
> khususnya peristiwa solidaritas, dengan pengorbanan dan rasa bangga.
> Tapi sebagai peristiwa, revolusi selalu punya akhir, tak dapat
> diulangi, dan setelah itu Indonesia pun `terjadi', tumbuh, dan
> akhirnya jadi sebuah proyek bersama. Proyek itu makin disadari 
sebagai
> sesuatu yang tak sempurna, karena menyadari keterbatasan manusia.
> 
> Itu sebabnya Indonesia sebagaimana ia dirikan di tahun 1945 adalah
> tanah air dengan banyak harap tapi juga cemas, dengan gairah tapi 
juga
> gentar. Naskah Proklamasi itu tak ditulis dengan cetakan yang
> sempurna; ada coretan dalam teks yang ditandatangani Bung Karno dan
> Bung Hatta. Di situlah ia berbeda dengan `negara Islam' yang membawa
> nama sesuatu yang yang kekal dan tak akan salah. `Negara Islam',
> terutama dalam impian Azahari, adalah sebuah keangkuhan kepada
> sejarah. Sebaliknya `Indonesia': ia tak menafikan dan tak takut 
bahwa
> dirinya tak akan pernah salah, bahkan berdosa.
> 
> Itulah sebabnya demokrasi niscaya: demokrasi adalah sebuah mekanisme
> untuk selalu memperbaiki diri, mengurangi langkah yang keliru. Dan
> kita tahu, Indonesia telah berjalan panjang dan terbentur-bentur,
> tapi sampai hari ini bangkit lagi - juga dengan harap dan cemas.
> 
> Azahari tak memahami ini: ia dan kawan-kawannya tak punya kaitan 
dengan
> pengalaman kita, apalagi dengan sejarah revolusi Indonesia. Mereka
> meledakkan bom berkali-kali, merusak negeri ini berkali-kali, dan 
kita
> merasakan sakitnya.
> 
> Apa gerangan hasilnya, selain sebuah jalan ke surga yang diyakini
> sementara orang - sebuah firdaus yang instan, sebuah kenikmatan yang
> seketika, seperti banyak hal yang ditawarkan di pasar dunia yang 
serba
> tak sabar sekarang?
> 
> Mungkin Azahari dan kawan-kawannya, ketika mereka memasarkan surga
> yang instan, mereka tahu `jihad' mereka akan gagal. Amerika akan
> tetap tegak dan Zionisme tak punah. Jika demikian, Azahari dan
> kawan-kawannya siap mati dengan harapan bisa ke sorga bagi diri
> sendiri, bukan dengan harapan untuk memenangkan orang-orang yang
> mereka bela di muka bumi.**
> 
> 
> 
> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
> 
> 
> 
>     
> ---------------------------------
>   YAHOO! GROUPS LINKS 
> 
>     
>     Visit your group "urangsunda" on the web.
>     
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
>     
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of 
Service. 
> 
>     
> ---------------------------------
>   
> 
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
>  Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke