Sim kuring satuju pisan sareng pedarana kang Yana.
Ceuk kuring, nagara urang mayoritasna Islam, jelas pandudukna lobaan
Muslim salian tin u sejen. Geus sakuduna urang nga-jungjun,
ngalaksanakeun sareat Islam, boh lalakina atawa awewena. Jadi teu kudu
pamarentah / DPR anu mayoritas Islam deui ngaluarkeun RUU APP eta. Da
geus puguh ku Agama oge di larang. 

Ayeuna kieu wae singket n amah : ku larangan Agama wae, urang umat islam
loba keneh anu teu malire, anu ku urang tos kanyahoan Adzab na kumaha ke
di ahir khayat. Komo deui RUU APP anu sifatna di dunya wungkul, Ceuk
kuring mah sia-sia wae eta turan teeh. Wallohualam.

Ceuk kuring deui, ieu RUU tehh ngan saukur tingkah saurang/kelompok anu
hoyong katingali ku batur, yen ajeuna boga jasa ku ngaluarkeun ieu UU.
Duka teuing manehna sorangan Jujur tur bener ngarojong jeung
ngalaksanakeun ieu Larangan.

Punten bilih aya cariosan abdi anu nyigeung kana manah baraya sadaya,
ieu mah mung pamendak abdi anu teu bodo bodo acan dina masalah ieu.
Da ari beda pamadegan mah tos biasa sanes???

Baktos 
yosep

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of yana sugiarna
Sent: Saturday, March 11, 2006 6:45 AM
To: kusnet; sumedang larang
Subject: [Urang Sunda] neraskeun: 'RUU Porno': Arab atanapi Indonesia?

mangga nyanggangkeun,...ieu aya hiji seratan di copy ti milis tatanggi:
  Rabu, 08 Maret 2006
Opini
'RUU Porno': Arab atau Indonesia?
Goenawan Mohamad

Seorang teman saya, seorang Indonesia, ibu dari tiga anak dewasa, pernah
berkunjung ke Arab Saudi. Ia tinggal di sebuah keluarga di Riyadh. Pada
suatu hari ia ingin berjalan ke luar rumah. Sebagaimana adat di sana, ia
bersama saudaranya yang tinggal di kota itu melangkah di jalan dengan
purdah hitam lengkap. Hanya sepasang matanya yang tampak. 

Tapi ia terkejut. Di perjalanan beberapa puluh meter itu, tiba-tiba dua
mobil, penuh lelaki, mengikuti mereka, mengitari mereka. Mata para
penumpangnya nyalang memandangi dua perempuan yang seluruh tubuhnya
tertutup itu. 

"Apa ini?" tanya perempuan Indonesia itu kesal.

Cerita ini nyata--dan bisa jadi bahan ketika DPR membahas RUU "Anti
Pornografi dan Pornoaksi" (kita singkat saja: "RUU Porno"). Cerita ini
menunjukkan bahwa dengan pakaian apa pun, perempuan dapat dianggap
merangsang berahi lelaki. Tapi siapa yang salah? 


"Yang dapat membangkitkan nafsu berahi adalah haram," kata Fatwa MUI
Nomor 287 Tahun 2001. Bagi MUI, yang dianggap sebagai sumber "nafsu
berahi" adalah yang dilihat, bukan yang melihat. Yang dilihat bagi MUI
adalah benda-benda (majalah, film, buku--dan perempuan!), sedang yang
melihat adalah orang, subyek, yaitu laki-laki. 

"RUU Porno" itu, seperti fatwa MUI, jelas membawa semangat laki-laki,
dengan catatan khusus: semangat itu mengingatkan saya akan para pria
yang berada di dua mobil dalam cerita di atas. Mereka melihat
"rangsangan" di mana saja. 

Di Tanah Arab (khususnya di Arab Saudi yang dikuasai kaum Wahabi yang
keras), sikap mudah terangsang dan takut terangsang cukup merata,
berjalinan, mungkin karena sejarah sosial, keadaan iklim, dan lain-lain.
Saya tak hendak mengecam itu. 

Soalnya lain jika semangat "takut terangsang" itu diimpor (dengan
didandani di sana-sini) ke Indonesia, atas nama "Islam" atau
"moralitas".

Masalah yang ditimbulkan "RUU Porno" lebih serius ketimbang soal
bagaimana merumuskan pengertian "merangsang" itu. RUU ini sebuah ujian
bagi masa depan Indonesia: apakah Republik 17 ribu pulau ini--yang
dihuni umat beragam agama dan adat ini--akan dikuasai oleh satu nilai
seperti di Arab Saudi? Adilkah bila nilai-nilai satu golongan (apalagi
yang belum tentu merupakan mayoritas) dipaksakan ke golongan lain? 

Saya katakan nilai-nilai di balik "RUU Porno" datang dari satu golongan
"yang belum tentu merupakan mayoritas", sebab tak semua orang muslim
sepakat menerima nilai-nilai yang diilhami paham Wababbi itu. Tak semua
orang muslim Indonesia bersedia tanah airnya dijadikan sebuah varian
Arab Saudi. 

Ini pokok kebangsaan yang mendasar. "Kebangsaan" ini bukan nasionalisme
sempit yang menolak nilai-nilai asing. Bangsa ini boleh menerima
nilai-nilai Wahabi, sebagaimana juga kita menerima Konfusianisme, loncat
indah, dan musik rock. Maksud saya dengan persoalan kebangsaan adalah
kesediaan kita untuk menerima pluralisme, kebinekaan, dan juga menerima
hak untuk berbeda dalam mencipta dan berekspresi. 

Mari kita baca sepotong kalimat dalam "RUU Porno" itu:

Dalam penjelasan pasal 25 disebutkan bahwa larangan buat "pornoaksi"
(sic!) dikecualikan bagi "cara berbusana dan/atau tingkah laku yang
menjadi kebiasaan menurut adat istiadat dan/atau budaya kesukuan". Tapi
ditambahkan segera: "sepanjang berkaitan dengan pelaksanaan ritus
keagamaan atau kepercayaan". 

Artinya, orang Indonesia hanya bebas berbusana jika pakaiannya terkait
dengan "adat istiadat" dan "budaya kesukuan". Bagaimana dengan rok dan
celana pendek yang tak ada dalam "adat istiadat" dan "budaya kesukuan"? 

Tak kalah merisaukan: orang Jawa, Bali, Papua, dan lain-lain, yang
berjualan di pasar atau lari pagi di jalan, harus "berbusana" menurut
selera dan nilai-nilai "RUU Porno". Kalau tidak, mereka akan dihukum
karena berjualan di pasar dan lari pagi tidak "berkaitan dengan
pelaksanaan ritus keagamaan atau kepercayaan". 

Ada lagi ketentuan: "Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau
rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu,
puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik
bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa". 

Jika ini diterima, saya pastikan kesenian Indonesia akan macet. Para
pelukis akan waswas, sastra Indonesia akan kehilangan puisi macam
Chairil, Rendra, dan Sutardji serta novel macam Belenggu atau Saman.
Koreografi Gusmiati Suid atau Maruti akan terbungkam, dan film kita,
yang pernah melahirkan karya Teguh Karya, Arifin C. Noer, Garin Nugroho,
sampai dengan Riri Riza dan Rudi Sujarwo akan menciut ketakutan. Juga
dunia periklanan, dunia busana, dan media. 

Walhasil, silakan memilih: 


  1.. Indonesia yang kita kenal, republik dengan keragaman tak
terduga-duga, atau 

  2.. Sebuah negeri baru, hasil "RUU Porno", yang mirip gurun pasir:
kering dan monoton, kering dari kreativitas.






                
---------------------------------
 Yahoo! Mail
 Use Photomail to share photos without annoying attachments.

[Non-text portions of this message have been removed]





Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links



 




Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke