Ooooh Kang Yogi teh urang sunda....??!!
Abdi mah kataji ku obsesina nu hoyong ngamajukeun Indonesia. Sok sanaos anjeunna tos kenging popularitas sareng pasilitas nu kalintang saena, anjeunna teu hilap hoyong ngabaktoskeun elmu pangaweruhna pikeun kamajuan Indonesia, hususon institusi Indonesia dimana anjeunna damel.
Sok lah susuganan we seueur urang sunda-urang sunda nu sanesna, nu palalinter, nu tos gaduh popularitas sareng panganken internasional, nu teu hilap ka lemah caina....


Baktos,
OTA
*** Ono TAryono



"Dudi Herlianto" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]

05/17/2006 10:25 AM

Please respond to
[email protected]

To
"Kusnet" <[email protected]>
cc
Subject
[Urang Sunda] ITB-Helmholtz-urang Tasik





assalamu'alaikum...
 
nyanggakeun wartos, urang Tasik Dosen ITB nu meupeuskeun persamaan Helmholtz (duka naon :D) di belanda.
 
tapi iraha r&simkuring nya?
 
 
dh
---------------------------------------------
 
Republika, Senin, 15 Mei 2006

Persamaan Helmholtz Pecah di Tangan Dosen ITB

Persamaan  matematika  Helmholtz  sering  dipakai  untuk mencari titik
lokasi minyak bumi.

Dulu,  BJ  Habibie  menemukan  rumus yang mampu mempersingkat prediksi
perambatan retak. Banyak lembaga di berbagai negara memakai rumus ini,
termasuk NASA di Amerika.

Kini,  Yogi Ahmad Erlangga mengulang kesuksesan Habibie. Melalui riset
PhD-nya,  Yogi berhasil memecahkan rumus persamaan Helmholtz, Desember
2005  lalu. Selama 30 tahun terakhir, tak ada yang berhasil memecahkan
persamaan matematika Helmholtz yang sering dipakai untuk mencari titik
lokasi minyak bumi itu. Persamaan matematika itu sendiri dikenal sejak
satu abad silam.

Media  Barat  menyebut Yogi sebagai matematikawan Belanda. Padahal, ia
adalah  pria  kelahiran  Tasikmalaya, dosen Institut Teknologi Bandung
(ITB), dan saat itu sedang menempuh program PhD di Delft University of
Technology (DUT).

Keberhasilan  itu  memuluskan  jalan bagi perusahaan perminyakan untuk
memperoleh  keuntungan  yang  lebih  besar  dengan biaya lebih rendah.
Selama  ini,  industri  perminyakan sangat membutuhkan pemecahan rumus
Helmholtz  itu  agar  bisa  lebih  cepat  dan  efisien dalam melakukan
pencarian  minyak  bumi.  Setelah  Yogi memecahkan persamaan Helmholtz
yang  selama ini justru banyak dihindari oleh para ilmuwan, perusahaan
minyak  bisa  100 kali lebih cepat dalam melakukan pencarian minyak --
bila dibandingkan dengan sebelumnya.

Tak  cuma  itu,  dari  kebutuhan  hardware  pun,  industri minyak bisa
mereduksi  sekitar  60  persen  dari  hardware  yang biasanya. Sebagai
contoh, program tiga dimensi yang sebelumnya diselesaikan dengan 1.000
komputer,   dengan  dipecahkannya  rumus  Helmholtz  oleh  Yogi,  bisa
diselesaikan hanya dengan 300 komputer.

Yogi   mengungkapkan,  penelitian  mengenai  persamaan  Helmholtz  ini
dimulai   pada  Desember  2001  silam  dengan  mengajukan  diri  untuk
melakukan  riset  di  DUT.  Waktu itu, perusahaan minyak raksasa Shell
datang  ke  DUT  untuk meminta penyelesaian persamaan Helmholtz secara
matematika  numerik  yang  cepat  atau disebut robust (bisa dipakai di
semua masalah).

Selama  ini,  ungkap  Yogi, Shell selalu memiliki masalah dengan rumus
Helmholtz  dalam  menemukan sumber minyak di bumi. Persamaan Helmholtz
yang  digunakan  oleh  perusahaan minyak Belanda itu membutuhkan biaya
tinggi,  tak  cuma  dari  perhitungan  waktu  tetapi  juga  penggunaan
komputer serta memori.

''Shell  selama  ini  harus  menggunakan rumus Helmholtz berkali-kali.
Bahkan,  kadang-kadang  harus  ribuan  kali untuk survei hanya di satu
daerah  saja.  Itu sangat mahal dari sisi biaya, waktu dan hardware,''
ungkap Yogi kepada Republika.

Karena  itu,  sambung  pria  yang  lulus  dengan  nilai cum laude saat
menyelesaikan  pendidikan  S1  dan S2 itu, Shell meminta DUT melakukan
penelitian  yang  mengarah  pada  persamaan  Helmholtz agar bisa lebih
efisien,  cepat, dan kebutuhan hardware yang cukup kecil. Untuk proyek
penelitian tersebut, Pemerintah Belanda membiayainya karena proyek ini
dianggap  sebagai bagian dari kegiatan untuk meningkatkan perekonomian
Belanda.

Yogi   yang  memiliki  hobi  memasak,  melukis,  dan  olah  raga  itu,
memecahkan  rumus  Helmholtz setelah berkutat selama empat tahun. Yang
membuat  penelitian  itu  lama, ungkap dia, karena persamaan Helmholtz
dalam  matematika  numerik  yaitu  matematika  yang bisa diolah dengan
menggunakan komputer.

Karena  itu,  dalam  melakukan penelitian, diperlukan beberapa tahapan
yang  masing-masing  tak sebentar. Apalagi, sambung dia, persamaan ini
memang sangat sulit. Ada dua cara untuk menguraikan matematika numerik
yaitu  secara  langsung  (direct)  dan  literasi.  ''Banyak pakar yang
menghindari  penelitian untuk memecahkan rumus Helmholtz karena memang
sulit,'' kata pria kelahiran Tasikmalaya 32 tahun silam ini.

Pakar  terakhir  yang memecahkan teori Helmholtz adalah Mike Giles dan
Prof  Turkel,  berasal  dari  Swiss  dan  Israel, masing-masing dengan
caranya   sendiri.   Teori  dari  kedua  pakar  itulah  yang  kemudian
dianalisisnya  beberapa  waktu sehingga kemudian bisa dioptimalkan dan
dijadikan metode yang cukup cepat.

''Saya  punya persamaan matematika dalam bentuk diferensial. Yang saya
lakukan untuk memecahkan rumus Helmholtz itu adalah mengubah persamaan
ini menjadi persamaan linear aljabar biasa. Begitu saya dapatkan, saya
pecahkan dengan metode direct atau literasi,'' ujarnya.
metode   langsung,  papar  Yogi,  bila  dalam  perjalanannya  kemudian
menemukan  masalah  yang  besar  maka  akan  mahal dari segi waktu dan
biaya.  Namun  metode  literasi pun belum tentu bisa memperoleh solusi
atau kadang-kadang diperoleh dengan waktu yang cukup lama. Hanya, kata
dia,  yang  pasti,  dengan  metode  literasi  selalu  murah  dari segi
hardware.

''Persamaan Helmholtz ini bisa diselesaikan dengan literasi tapi kalau
dinaikkan  frekuensinya,  jadi sulit untuk dipecahkan,'' ujarnya. Yogi
memaparkan,  untuk  mengetahui  struktur daerah cekung, misalnya, yang
dilakukan  adalah  meneliti  daerah  akustik  dan kemudian dipantulkan
gelombangnya  dengan  frekuensi  tertentu.  Pantulan tersebut kemudian
direkam.  Setelah  itu, frekuensi akan dinaikkan misalnya, dari 10 Hz,
lalu naik lagi 10,2 Hz, 10,4 Hz, dan seterusnya.

Yang   kemudian   menjadi  persoalan,  ungkap  dia,  ketika  frekuensi
dinaikkan,  persamaan Helmholtz akan semakin sulit untuk diselesaikan.
Ia   memberikan  contoh,  Shell  hanya  bisa  menyelesaikan  persamaan
Helmholtz sampai dengan frekuensi 20 Hz. ''Ketika dinaikkan menjadi 30
Hz, mereka tak bisa,'' katanya.

Kemudian,  Yogi  memperoleh  metode robust yang memungkinkan persamaan
Helmholtz  untuk  dipecahkan dengan frekuensi berapa pun. ''Kita sudah
melakukan  tes  300  Hz  tidak masalah. Meskipun, sebenarnya 70 Hz pun
sudah cukup untuk pemetaan,'' ujar penggemar matematika ini.

Tak  cuma  untuk  temukan  sumber  minyak  Menurut  Yogi, selain untuk
menemukan  sumber-sumber  minyak, keberhasilan persamaan Helmholtz ini
juga bisa diaplikasikan dalam industri lainnya yang berhubungan dengan
gelombang.  Persamaan  ini  digunakan  untuk  mendeskripsikan perilaku
gelombang  secara  umum.  Industri yang bisa mengaplikasikan rumus ini
antara lain industri radar, penerbangan, kapal selam, penyimpanan data
dalam  blue  ray  disc  (keping  DVD  super  yang  bisa memuat puluhan
gigabyte data), dan aplikasi pada laser.

Mengenai  kelanjutan  dari  penemuannya  itu,  Yogi mengatakan, karena
penelitian   ini  dilakukan  oleh  perguruan  tinggi,  maka  persamaan
Helmholtz  ini  menjadi  milik  publik. ''Biarpun dibiayai oleh Shell,
tapi  yang  melakukannya universitas, sehingga rumus ini menjadi milik
publik,'' katanya.

Ia  tidak  mematenkan  rumus  temuannya  itu.  Apalagi,  sambung  dia,
produknya itu berasal dari otak sehingga tidak perlu untuk dipatenkan.
''PT Pertamina pun sebenarnya bisa menggunakan rumus ini untuk mencari
minyak  bumi. Saya sempat diundang oleh Pertamina beberapa waktu lalu,
tapi  karena  ada  keperluan,  tidak hadir. Memang ada yang mengatakan
kalau  PT  Pertamina  tertarik  dengan  temuan  saya,  cuma masalahnya
Pertamina  memiliki software-nya atau tidak,'' ujar pria yang tak suka
publikasi ini.

Menurut Yogi, persamaan Helmholtz ini dalam proses penelitiannya sudah
dipresentasikan  di  banyak  negara di dunia. Yaitu, saat intermediate
progress  selama  Desember  2001  hingga  Desember 2005. Buku mengenai
persamaan  Helmholtz  yang  dibuatnya saat masih di Belanda pun, laris
manis.

''Tinggal  satu  (buku)  dan  saya  tak punya fotokopinya lagi,'' ujar
dosen  yang kini sibuk dengan beberapa penelitian bersama Prof Turkel.
Mengutip Turkel, Yogi mengatakan bahwa persamaan yang ditemukannya itu
masih  bisa  dikembangkan  lagi.  Namun kini, Yogi akan berkonsentrasi
pada  postgraduate research di Berlin, Jerman, yang akan memakan waktu
selama dua tahun sejak 1 Mei 2006. n

Terobsesi Memajukan Indonesia

Setelah   menjadi   terkenal   di  dunia  matematika  karena  berhasil
memecahkan  rumus  Helmholtz  yang  dikenal sangat sulit, dosen Teknik
Penerbangan ITB, Yogi Ahmad Erlangga, masih memiliki obsesi yang belum
tercapai.  Menurut  anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Mohamad
Isis  dan  Euis  Aryati  ini,  obsesi yang belum tercapai adalah ingin
melihat bangsa Indonesia maju.

Karena,  kata  dia,  saat  ini  Indonesia jauh tertinggal dibandingkan
dengan  India.  Padahal,  Indonesia dan India sama-sama sebagai negara
berkembang  dan  banyak  masyarakatnya yang miskin. ''Meskipun miskin,
tapi  India  sekarang  bisa  menjadi pusat informasi teknologi (IT) di
dunia.  Saya  ingin  Indonesia seperti India, kemiskinan bukan berarti
tidak bisa berkembang,'' ujar Yogi kepada Republika. Khusus untuk ITB,
sambung  pria  kalem  kelahiran  Tasikmalaya 8 Oktober 1974, obsesinya
adalah ingin ITB bisa lebih besar lagi.

Minimal,  ITB menjadi perguruan tinggi terbesar di Asia. Karena, kalau
hanya  terbesar  di  Indonesia  saja,  sejak dulu juga begitu. Bahkan,
sambung  dia,  pernyataan itu justru menjadi tanda tanya besar. ''Saya
pun  masih  memiliki  obsesi  pribadi.  Keinginan  saya  adalah  ingin
melakukan   penelitian   tentang  pesawat  terbang,  perminyakan,  dan
biomekanik,'' kata pemenang penghargaan VNO-NCW Scholarship dari Dutch
Chamber of Commerce itu.

( kie/aan )


--
~:ngadék sacékna, nilas saplasna:~
:.lembur deudeuh.:

http://banjarasih.blogsome.com


Komunitas Urang Sunda -->
http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS






Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke