Jazakallah elmuna,
insya allah bade muka heula paririmbon....
Muhamad ASKARI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wilujeng tepang deui Pak Waluya,
Hatur nuhun kana informasina. Abdi teu gaduh latar belakang anu mumpuni dina
widang astronomi. Oge rumaos simkuring di"jejelan" ti SD dugi ka PT yen bumi
mengelilingi matahari (faham heliosentris). Abdi rumaos akal sim kuring
terbatas.
Sim kuring mah moal seueur saur. Pami tos jelas hujjah sareng keteranganana
kalawan rawi informasina terpercaya, insya Allah abdi SAMI'NA WA ATHO'NA (abdi
ngadangu sareng abdi to'at).
Bilih aya tambihan informasi ti kang Dadi, wilujeng.
Salam baktos,
Muhaskar
----- Original Message ----
From: waluya56 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, December 7, 2006 12:36:06 PM
Subject: BIN BAZ, Kang Askari! --->Re: [Urang Sunda] Horseeehhhh
> From: Muhamad ASKARI
> Mangga wae eta mah teu langkung Pak Waluya ka payuna.
> Tapi punten teu saimbang eta fatwa teh komo saupami ningal latar
> belakang
> anu nulisna. Anu hiji pangkat syaikh dengan
> pemahaman salafusholeh, anu hiji deui mah duka urang mana sareng
> saha2na.
> Wallahu 'alam.
Punten nembe kabaca ayeuna, dua poe kamari kuring tas ti Sumenep
Madura, ngan lain nganjang ka Kyai Manshurat nu boga pamajikan 12
urang tea (kungsi didongengkeun didieu) ....hehehehe.
Enya, kang Askari ari soal kayakinan mah da pasti beda-beda moal
bisa dipaksakeun. Ngan perkawis pangkat Sheik salafusholeh mah
kuring teu patos apal. Ke perkawis Syaikh Abdul Aziz BIN BAZ aya
hubunganana jeung "Islamic Center BIN BAZ, Jl. Wonosari Km 10,
Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Bantul kitu?. Lembaga ieu sok
disingket ICBB. ICBB teh sigana aya hubunganana jeung YAYASAN
MAJELIS AT TUROTS AL ISLAMY Yogyakarta, da soal ICBB ieu aya dina
situs yayasan ieu (http://www.atturots .or.id/mod. php?
mod=userpage& page_id=11)
Dina situsna ieu yayasan ieu ngaku salafus shalih. Aya sababaraha
artikel nu narik kuring dina situs ieu, nu kahiji nyaeta s
oal "Ahlussunnah Tidak Menyukai Banyak Bicara dan Debat Sia-sia"
(http://www.atturots .or.id/mod. php?
mod=article& op=viewarticle& artid=5). Jadi persis nu disebat ku Kang
Dadi Karnadi.
Artikel nu kadua, soal pamandegan yen PANONPOE NU NGURILINGAN DUNYA,
LAIN SABALIKNA, judul artikelna "Bumi Mengelilingi Matahari ataukah
Sebaliknya"
(http://www.atturots .or.id/mod. php?
mod=article& op=viewarticle& artid=8). Eusi
artikel ieu kungsi ku kuring diposting di Kusnet, tapi ku kuring
dicutat deui dibagian panghandapna.
Patarosan si kuring anu boloho ieu, naha leres ari kaum "salafus
shalih", masih nganut faham GEOSENTRIS (panonpoe ngurulingan dunya)
sanes FAHAM HELIOSENTRIS (panopoe puseur)? Cik kumaha tah Kang
Askari/ Kang Dadi Karnadi atawa baraya nu sanesna nu terang
soal "Mazhab salafus shalih"?
Hatur nuhun.
Baktos,
WALUYA
Artikelna ku kuring dicutat dihandap ieu :
Tanya:
Menurut al-Qur'an dan as-Sunnah, yang benar matahari mengelilingi
bumi
ataukah sebaliknya? Jazakallahu khairan
Untuk menjawab pertanyaan ini, kami nukilkan fatwa Syaikh al-Utsamin
mengenai permasalahan tersebut, serta petunjuk Syaikh mengenai
pelajaran
geografi yang mengajarkan bahwa malam dan siang adalah akibat
peredaran bumi
mengelilingi matahari.
Syaikh al-Utsaimin berkata,
Kesimpulan pendapat kami mengenai rotasi bumi adalah bahwa dia
termasuk
perkara yang tidak ditetapkan atau ditolak oleh al-Qur'an dan as-
Sunnah.
Yang demikian karena firman Allah I dalam surat Luqman ayat 10 yang
dijadikan dalil adanya rotasi bumi, tidak menjelaskan secara nyata
tentang
hal tersebut.
"Dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi
itu tidak
menggoyangkan kamu." (QS. Luqman:10)
Sekalipun sebagian orang berdalil dengan ayat ini, (beralasan) bahwa
ungkapan "supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu" menunjukkan
bahwa bumi
bergerak. Seandainya bukan karena gunung tentu apa saja yang ada
dipermukaannya telah berguncang (menurut pendapat mereka).
Mengenai firman Allah I,
"Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap." (QS.
al-Mu'min:64)
Juga tidak meniadakan rotasi bumi secara jelas. Karena kestabilan
permukaan
bumi akibat adanya gunung-gunung telah menjadikannya (seolah-olah)
tidak
bergerak sekalipun berrotasi.
Sedangkan pendapat kami seputar revolusi bumi, kami berpegang dengan
dzahir
al-Qur'an dan as-Sunnah yang menunjukkan bahwa matahari
mengelillingi bumi
yang berakibat pada adanya malam dan siang; sampai ada dalil pasti
yang
dapat dijadikan hujjah untuk memalingkan dzahir al-Qur'an dan as-
Sunnah
kepada pendapat bahwa bumi mengelilingi matahari, dan hal itu belum
ada.
Yang wajib bagi seorang mukmin dalam perkara ini dan selainnya
adalah
berpegang dengan dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa matahari mengelilingi bumi
sehingga
berakibat pada adanya malam dan siang adalah firman Allah I,
"Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua
mereka ke
sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah
kiri."
(QS. al-Kahfi:17)
Ada empat gerakan yang disandarkan kepada matahari. Terbit, condong,
terbenam, dan menjauh.
Seandainya malam dan siang adalah dampak dari peredaran bumi
terhadap
matahari tentu firman-Nya menjadi, "Dan kamu melihat matahari jika
nampak
permukaan bumi olehnya dia condong ke gua mereka" atau (ungkapan)
lainnya.
Dan telah sah bahwa Nabi r berkata kepada Abu Dzar ketika matahari
terbenam.
"Apakah engkau tahu kemana dia pergi?" Abu Dzar menjawab, "Allah dan
rasulnya lebih mengetahui." Nabi berkata, "Sesungguhnya dia pergi
bersujud
dibawah Arsy dan meminta izin lalu diizinkan. Dan dia meminta izin
dan tidak
diizinkan. Kemudian dikatakan, kembalilah ketempat kamu muncul dan
terbenamlah dari arah baratnya."
Dalam riwayat ini dijelaskan adanya (gerakan) pergi, kembali, dan
terbit.
Hal ini menunjukkan bahwa malam dan siang terjadi akibat peredaran
matahari
mengelilingi bumi.
Mengenai apa yang dikatakan ahli falaq sekarang ini (bahwa bumi
mengelilingi
matahari), keterangannya belum mengantarkan kami sampai tingkat
yakin,
sehingga tidak dapat menolak dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah nabi
kami.
Kami sampaikan bagi pengajar pelajaran geografi, jelaskan kepada
para murid
bahwa dzahir al-Qur'an al-Karim dan as-Sunnah menjelaskan bahwa
malam dan
siang terjadi akibat dari peredaran matahari terhadap bumi, bukan
sebaliknya.
Jika para murid bertanya, mana yang harus kami ambil, apakah dzahir
al-Qur'an dan as-Sunnah atau apa yang mereka (ahli falaq) anggap
nyata bahwa
(bumi mengitari matahari)?
Jawabnya, kita mengambil dzahir al-Qur'an dan as-Sunnah, karena al-
Qur'an
adalah Kalamullah I (ucapan Allah) yang telah menciptakan segala
sesuatu,
alam beserta segala isinya dan keadaanya, geraknya, dan diamnya.
Firman-Nya
adalah sebenar-benar perkataan dan paling jelas. Dia menurunkan al-
Qur'an
sebagai penjelas segala sesuatu. Allah mengabarkan bahwa Dia
menjelaskannya
kepada hamba agar mereka tidak tersesat. Sedangkan as-Sunnah, ia
adalah
ucapan utusan Tuhan semesta alam. Makhluk yang paling tahu dengan
hukum-hukum dan perbuatan Tuhan-Nya. Tidaklah berbicara tentang hal
ini
melainkan dengan wahyu dari Allah U, karena tidak ada jalan untuk
mengetahuinya melainkan dengan wahyu.
Pandangan saya -wallahu a'lam-- akan datang satu masa dimana para
ahli falaq
abad bekangan akan saling berbantahan sebagaimana mereka berbantahan
mengenai pendapat Darwin seputar asal usul manusia.
[Majmu Fatawa Wa Rasail Fadilatusy Syaikh Muhammad Bin Shalih al-
Utsaimin
I/70-72]
---------------------------------
Any questions? Get answers on any topic at Yahoo! Answers. Try it now.
---------------------------------
Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people
who know.