Saderek dulur,

Sebuah tulisan seorang anggota kontingen Garuda di Lebanon - Semoga
berkenan.
http://pralangga.org/v/articles/200701/adinda/

Artikel nu sejen ti Indonesian Peacekeepers <http://pralangga.org/> tiasa
aya di URL: http://pralangga.org
----------------------------------------

Assalamualaikum wr. Wb.

Setelah membaca surat dari sang istri, terlontarlah perasaan yang ditulis
prajurit yang juga memiliki rasa dan cinta.

Adinda, dengan apa kulukiskan perasaanmu padaku yang kau tulis dalam suratmu
yang lalu, aku tak tahu. Aku coba membandingkannya dengan burung-burung yang
bangun bernyanyi dan berkicau penuh gembira di pagi hari, tidak bisa.
Demikian juga aku coba bandingkan dengan seekor burung camar yang termenung
ketika ditinggal oleh pasangannya karena adanya angin badai yang membuatnya
terlempar ke tempat jauh, juga tidak bisa.

Dinda, dapatkah kubandingkan tulusnya hatimu seperti tulusnya hati siti
Aisyah ketika melepas suaminya nabi Muhammad ikut maju di medan tempur?.
Apapun adanya dirimu, yang jelas aku semakin bangga menjadi suamimu. Mataku
berkaca-kaca ketika menyimak suratmu kata demi kata yang menghunjam ke
sanubariku. Tak ku kira disaat-saat suasana yang sedang ku lalui seperti
ini, aku menerima sepucuk surat istimewa darimu, surat dari orang yang
sangat peduli denganku, surat yang indah lebih dari dari apapun yang pernah
kuterima dan kurasakan..

Dinda, dalam surat itu aku lihat hatimu yang berbicara, nuranimu yang
tergetar itu telah menggetarkan sanubariku. Meskipun udara di Libanon cukup
dingin menggigit tak kurasakan lagi, situasi yang rentan disana tak
menyurutkan pengabdian tugasku.

Dinda, kau punya andil yang besar dalam missi ku ini, tidak hanya memberi
dukungan moril bagiku. Sebagai salah seorang prajurit yang bertugas agar aku
berbuat sebaiknya tanpa harus ragu dengan keluarga yang ditinggalkan. Apakah
ditinggal sementara atau mungkin juga selamanya, tapi dinda, do’amu itu
Insya Allah akan dikabulkan Allah. Do’a yang dapat memberi andil untuk
keselamatan dan keberhasilan kami semua dalam tugas kemanusiaan ini, tugas
untuk membangun perdamaian, tugas untuk membangun citra bangsa.

Dinda, tak kau hiraukan hiruk pikuknya orang disekitarmu memikirkan
kebahagiaan melalui materi yang cukup dan suami yang selalu berada
disisinya, tapi kau dengan tulus sebagai seorang sosok istri perajurit yang
bahagia dengan pengorbanannya. Suami yang tidak selalu ada disisimu, yang
tidak dapat menyuguhkan benda-benda yang dapat di tampilkan sejajar dengan
mereka yang bergelut dengan hartanya dan menyuguhkan perhiasan yang pantas
yang biasa dipakai oleh wanita sepertimu...
Dinda, pantas aku bersujud syukur pada Allah, diberi pasangan isteri yang
sholehah sepertimu, yang selalu memagariku dari keterlenaan dan kelalaian.
Isteri yang menyayangiku sepenuh hati dengan didasari Ridho Ilahi. Aku
merasa mendapatkan isteri yang melebihi dari apa yang pernah aku harapkan.

Dinda, kini aku sadar, selama ini aku kira aku orang yang sangat hebat,
orang yang unggul dalam segala hal, tapi kini aku merasa ternyata sebenarnya
aku bukanlah suami seperti yang kau harapkan, tapi dengan ketulusanmu dan
dengan kebersihan hatimu serta wawasanmu membuat aku menjadi suami yang
bertekad untuk mengisi hari-hariku bersamamu dan anak-anak kita menjadi
keluarga yang baik yang pantas ditampilkan di panggung kehormatan dikemudian
hari.

Aku bertekad ingin menjadi suami yang dapat menjadi contoh diantara prajurit
yang sholeh, prajurit yang bersih dan prajurit yang berjuang untuk dapat
mempertanggung jawabkan perbuatannya dihadapan Allah melebihi kemampuan
dalam mempertanggung jawabkan perbuatannya dihadapan manusia. Kita ketahui
bahwa pada dasarnya manusia itu tidak mampu menjangkau apapun yang kita
kerjakan tanpa ijin Allah.

Dinda, kini aku semakin dapat memahami bahwa kau, anak-anak dan keamanan
rumah kita adalah tanggung jawabku sepenuhnya, tapi saat aku tinggalkan
pergi jauh, serta merta tanggungjawab itu terlimpahkan padamu tanpa aku
menyerahkannya padamu. Selama ini aku tak merasa bahwa sesungguhnya jika aku
meninggalkanmu berarti aku mengalihkan beban tanggungjawabku dipundakmu yang
seharusnya bukan menjadi kewajibanmu.

Dinda, dengan pengorbananmu, dengan tanggungjawab yang kau ambil, seharusnya
aku bijaksana, aku harus mampu menyayangimu jauh melebihi orang lain
menyayangi isterinya karena mereka tidak meninggalkan isterinya lama seperti
aku meninggalkanmu, seharusnya aku selalu lebih sabar dan mengalah jika
berhadapan denganmu untuk mengimbangi pengorbananmu dan kesetiaanmu padaku.
Insya Allah, hanya surga yang kelak menjadi tempatmu atas pengorbananmu.

Dinda, bagaimana kabarmu, kabar anak-anak dan rumah kita sepeninggalku,
semoga kau dapat mengurusi segalanya selama aku tinggalkan. Maafkan aku
sayang jika kesadaranku selama ini belum tinggi sehingga tak kusadari
mungkin hatimu pernah terluka karena keegoisanku. Kau juga adalah ibu dari
anak-anak kita, anak-anak yang menginginkan ibunya dihormati dan disayangi
setiap orang termasuk aku sebagai bapak mereka.

Salam sayang dariku, malam sudah larut, semoga kau dapat tidur nyenyak dan
tenang bersama anak-anak kita.
Wassalam...

*Penulis: Letkol Tit Abdul Munim
Editor : Mayor Muhammad Irawadi*

Kirim email ke