Kumaha tah Kang Ucep...?


Pada tanggal 07/03/02, agus hermawan <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> Dina koran Kompas (Jumat, 2/3) poe ieu aya dua budak keur ngojay sataker
> kebek di  Cikaengan di Kampung Bantar Bodas, Desa Simpang, Kecamatan
> Cibalong, Kabupaten Garut. Sapatu/sendal, buku jeung baju seragamna
> diacungkeun meh teu baseuh. Unggal poe bolak-balik kudu ngojay 70 meter, rek
> indit/balik sakola..
> Matak sedih, matak watir, ceurik hate teh...
> Kumaha nya raraosan para pejabat/para pamingpin nu resep pidato jeung resep
> korupsi ninggali eta kanyataan??
>
> agushermawan
>
>
> *Sebuah Perjuangan, 70 Meter Menuju Masa Depan *
>
> *Adhitya Ramadhan*
>
> Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Pagi itu di tepi Sungai Cikaengan
> cerah. Udara pagi masih dingin menusuk kulit. Di tepi Sungai Cikaengan di
> Kampung Bantar Bodas, Desa Simpang, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut,
> Jawa barat, berkumpul sejumlah warga. Ada anak-anak, ada pula orang dewasa.
>
> Yang dewasa ada yang memakai sarung dan ada pula yang masih bertelanjang
> dada. Terlihat ada yang membawa anaknya yang masih balita. Sementara ada
> beberapa anak kecil yang memakai seragam sekolah dasar putih merah.
>
> Begitu sampai di tepi sungai, anak laki-laki yang berseragam SD itu kemudian
> menanggalkan seragamnya dan langsung menyeberangi Sungai Cikaengan yang
> lebarnya 70 meter pada kondisi air normal. Seragam putih merah, sandal
> jepit, tas, buku, dan topi mereka pegang dengan tangan kanan, sementara
> tangan kirinya untuk berenang.
>
> Anak-anak perempuan kebanyakan masih memakai pakaian sehari-hari. Mereka
> biasanya diseberangkan oleh orangtuanya atau siapa pun yang kebetulan ada di
> tepian sungai.
>
> Beberapa di antara mereka ada yang belum mandi. Biasanya, sekalian
> menyeberang sungai sekalian mereka mandi.
>
> Sungai Cikaengan yang bermuara ke laut selatan itu memisahkan Kecamatan
> Cibalong, Garut, dengan Desa Campakasari, Kecamatan Bojonggambir,
> Tasikmalaya. Mereka sekolah di SDN Karyasari yang letaknya terpencil di
> Kabupaten Tasikmalaya.
>
> Letak Desa Campakasari sekitar 100 kilometer dari pusat kota Tasikmalaya dan
> 45 kilometer dari Kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan
> Kecamatan Bojonggambir.
>
> Untuk mencapai SDN Karyasari dari Kantor UPTD Pendidikan perlu waktu sekitar
> dua jam dengan ojek, dengan ongkos Rp 60.000 sekali jalan. Itu pun kalau
> tidak hujan. Jika hujan, ongkos pun semakin tinggi dan waktu tempuh bisa
> bertambah lama.
>
> Pada kondisi normal, kedalaman air Sungai Cikaengan setinggi dada hingga
> leher orang dewasa. Pada kondisi ini, biasanya anak laki-laki dapat
> menyeberang sendiri, sedangkan anak perempuan diseberangkan dengan
> berpegangan pada tangan orangtua mereka.
>
> Kadang-kadang jika kedalaman air mencapai leher orang dewasa, anak-anak
> diseberangkan dengan digendong di pundak orang dewasa yang menyeberangkan.
>
> Begitu sampai di seberang, di Desa Campakasari, anak laki-laki itu langsung
> memakai kembali seragamnya. Anak perempuan berganti pakaian di sebuah gubuk
> di ladang, tidak jauh dari sungai. Baju mereka yang basah dijemur di dekat
> SDN Karyasari.
>
> Setelah itu, mereka masuk sekolah seperti anak-anak yang lain, yang tidak
> harus menyeberangi sungai.
>
> Setelah lonceng pulang berbunyi, anak-anak tadi kembali berganti "seragam".
> Baju seragam sekolah ditanggalkan dan "seragam" untuk menyeberang sungai
> yang tadi dijemur dipakai kembali. Mereka berjalan beriringan menuju sungai.
>
>
> Di sana sudah menanti orangtua yang siap menyeberangkan anak-anaknya.
> Kalaupun orangtuanya tidak ada karena masih di kebun, biasanya mereka
> dibantu diseberangkan oleh siapa saja yang kebetulan hendak menyeberang
> sungai.
>
> Aktivitas rutin menyeberangi sungai tersebut dilakukan oleh sekitar 20 siswa
> SDN Karyasari yang terletak di Desa Campakasari, Kabupaten Tasikmalaya. SDN
> Karyasari adalah SD terdekat dari Desa Simpang. Memang ada madrasah
> ibtidaiyah, tetapi jaraknya tiga kilometer dengan kondisi jalan yang hancur.
> Akibatnya, ketika air sungai pasang, anak-anak tadi terpaksa tidak sekolah
> karena air sungai meluap. Lebarnya bisa mencapai 100 meter dengan kedalaman
> lebih dari dua meter.
>
> Jika air naik sewaktu anak- anak pulang sekolah, mereka terpaksa menginap di
> sekolah atau di rumah saudaranya. Air sungai biasanya baru surut sekitar
> satu minggu. Selama itu juga mereka harus terus berada di sekolah atau rumah
> saudara dengan hanya berbekal seragam sekolah dan "seragam" menyeberang.
>
> Resti (12), siswa kelas VI SDN Karyasari, mengatakan, memang rasanya sungguh
> membosankan setiap hari harus menyeberang sungai. Namun, itu mau tidak mau
> tetap dia lakukan karena ia ingin mendapat ilmu pengetahuan di sekolah.
> "Saya ingin tetap meneruskan sekolah biar nanti bisa jadi guru," ujarnya
> mantap.
>
> Meskipun sudah bosan setiap hari menyeberangkan anak- anak, tokoh masyarakat
> dari Desa Simpang, H Toto Subhatori mengatakan, anak-anak tetap harus pergi
> ke sekolah. "Pendidikan sangat penting bagi masa depan anak-anak. Kami ingin
> anak-anak kami yang di kampung ini tidak ketinggalan dari anak-anak kota
> dalam hal pendidikan. Itu sebabnya, walau bosan dan kesal, mereka harus
> tetap kami antar," tutur Toto.
>
> Masyarakat sempat beberapa kali membeli perahu sebagai alat penyeberangan,
> tetapi terbawa arus ketika air pasang tiba. Akhirnya masyarakat bosan dan
> lelah harus mengeluarkan uang berulang kali untuk membeli perahu.
>
> Tidak adanya jembatan yang menghubungkan Desa Simpang dengan Desa
> Campakasari amat berpengaruh terhadap angka putus sekolah di daerah
> setempat. Menurut Toto, masih banyak anak-anak di desanya yang tidak sekolah
> karena merasa lelah jika harus menyeberang sungai setiap hari menuju
> sekolah. Tidak jarang, anak-anak berhenti sekolah karena alasan yang sama.
>
> "Coba saja ada jembatan, pasti banyak yang sekolah, apalagi SDN Karyasari
> bagian dari sekolah satu atap dengan SMP," kata Wawan Burhanudin, Kepala SDN
> Karyasari.
>
> Menurut Wawan, seharusnya pemerintah memberi perhatian lebih pada sekolah
> terpencil karena memiliki peran yang tidak kecil pada program wajib belajar
> sembilan tahun.
>
> Wawan mengakui, bantuan multimedia, seperti komputer, proyektor, televisi,
> dan alat musik, memang diberikan pemerintah pusat. Namun, semua itu tidak
> beroperasi optimal akibat belum adanya aliran listrik ke sekolah tersebut.
> Oleh karena itu, kata Wawan, sebaiknya pembangunan pendidikan di daerah
> terpencil melibatkan sektor lain yang saling terkait.
>
> Peningkatan mutu pendidikan juga harus dibarengi pembangunan infrastruktur.
> Misalnya, jembatan yang selama ini diharapkan warga Desa Simpang tentu
> bukanlah tanggung jawab Departemen Pendidikan Nasional.
>
> Kepala Seksi Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya Ahmad
> Juhana menuturkan, di Tasikmalaya ada 114 sekolah terpencil. Biasanya,
> infrastruktur ke sekolah tersebut rusak parah bahkan hancur dan belum ada
> aliran listrik. Masyarakat di sekitar sekolah pun identik dengan masyarakat
> ekonomi lemah dan tertinggal.
>
> "Kemampuan pemerintah sangat terbatas untuk menangani sekolah terpencil.
> Oleh karena itu, perlu kerja sama dengan pihak ketiga," kata Ahmad Juhana.
>
> Keberadaan sekolah di daerah terpencil jelas ikut menyukseskan program wajib
> belajar sembilan tahun. Menjadi kewajiban pemerintah untuk memberi perhatian
> lebih kepada mereka. Sekolah di daerah terpencil tak dapat dilihat sebelah
> mata.
>

Kirim email ke