Sunda Hirup Hurip Sunda
Oleh CACA DANUWIJAYA, S.S.

    Dengan dijadikannya bahasa Sunda sebagai mata pelajaran muatan
lokal memberikan peluang kepada kita semua untuk mengetahui
kesundaannya terutama bagi guru dan siswa yang baru memulai mengenal
keetnisannya.

PEMBICARAAN mengenai Sunda hampir setiap minggu ada dalam berbagai
media cetak dan elektronik nasional maupun regional, baik mengenai
bahasa, sastra, budaya, atau bidang politik. Tentu saja ini sangat
menggembirakan. Apalagi bagi saya sebagai seorang guru honorer bahasa
Sunda. Perbincangan, tulisan, atau artikel-artikel mengenai Sunda
sangat membantu menambah wawasan dan pengetahuan kesundaan dalam
pengajaran di kelas.

Perbincangan Sunda di dalam kelas ataupun di luar kelas tentu selalu
mengundang pertanyaan, sejak kapan bahasa Sunda ada? Petunjuk apa yang
dapat dijadikan bukti bahwa Sunda banyak dipengaruhi bahasa serepan
basa deungeun (bahasa asing)? Akan musnahkah bahasa Sunda? Bagaimana
sikap orang Sunda untuk mempertahankan bahasa indung? Untuk menjawab
semua pertanyaan itu, mungkin saja tulisan ini dapat membantu para
siswa dalam belajar bahasa Sunda, terutama mengenai sejarah dan
perkembangan bahasa Sunda. Sikap para siswa yang antusias
memperlihatkan kepada kita bahwa bahasa Sunda akan selalu ada.

(M.A. Salmun, 1963) memperkirakan sebelum tahun 1600 Masehi, kata
Sunda sudah ada dengan ditemukannya prasasti dan kitab zaman Hindu
(Ciaruteun, Pasirmuara, Astana Gede); Kitab Sanghyang Siksa Kandang
Karesian ditulis dengan aksara kaganga berbahasa Sunda kuno (Undang A.
Darsa). Dengan bukti masa ini, bahasa Sunda sudah digunakan dalam
bidang kenegaraan, kesenian, dan alat komunikasi sehari-hari; tahun
1600-1800 bahasa Sunda mendapat dua pengaruh bahasa, yakni bahasa
Arab, dapat dilihat dari (Sair Syeh Abdul Kadir, Ambiya) bersamaan
dengan tersebarnya agama Islam, dan dipengaruhi bahasa Jawa/Mataram
(Wawacan Amir Hamjah, Rengganis, Batara Rama) begitu pula dengan
aksara Arab berbahasa Sunda (pegon) dan aksara Jawa berbahasa Sunda
(cacarakan); Berikutnya antara tahun 1800-1900, bahasa Sunda telah
terpengaruh bahasa Belanda. Pengaruh bahasanya dapat dilihat
dalamWawacan Panji Wulung (1876) karangan R.H. Muh Musa. Tahun 1900
perkembangan bahasa Sunda semakin hidup dengan dipengaruhi bahasa
Indonesia ditandai dengan berdirinya sekolah-sekolah pribumi,
penelitian-penelitian kebudayaan, dan bermunculan media cetak dan
penerbit (Edi S. Ekadjati dalam Kebangkitan Kembali Orang Sunda) media
cetak Papaes Nonomoan 1913; pascakemerdekaan sampai sekarang bahasa
Sunda semakin mengembangkan sayap. Kekhawatiran tentang akan musnahnya
bahasa Sunda dapat terjawab dengan semakin hidupnya bahasa Sunda.
Dengan adanya Perda Provinsi Jabar No. 5 Tahun 2003 tentang
pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah. Kondisi seperti ini,
akan selalu memperbaiki bahwa bahasa Sunda tidak akan musnah selama
orang Sunda konsisten terhadap bahasa indungnya.

Bahasa Sunda harus hirup dan hurip. Artinya, pengaruh berbahasa tidak
mungkin dapat dihindari dalam kehidupan global sehingga bahasa Sunda
menjadi bahasa yang dinamis. Fatimah Djajasudarma ("PR" 24 Feb. 2007);
bahasa, layaknya manusia mengalami siklus lahir, hidup (berkembang),
dan mati. Sesuai dengan hukum alam. Sebaliknya dari hirup-nya bahasa
Sunda harus dapat meng-hurip-kan.

Dengan dijadikannya bahasa Sunda sebagai mata pelajaran muatan lokal
telah memberikan peluang kepada kita semua untuk mengetahui
kesundaannya, terutama bagi guru dan siswa yang baru memulai mengenal
keetnisannya. Tentu dengan semakin berkembangnya penutur bahasa Sunda
dan lembaga yang mewadahinya tidak mungkin jati kasilih ku junti
(pribumi kalah oleh pendatang).***

Penulis, Guru Honorer Mata Pelajaran Muatan Lokal (Bahasa Sunda) di
SMA 1 Pangalengan.

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/13/99forumguru.htm

Kirim email ke