ceuk warta Tempo Interaktif, elmuwan Jerman geus hasil nyiptakeun 
cikal bakal SPERMA tina sumsum tulang lalaki. Soal ieu teu pati 
masalah, ngan nu jadi masalah, cenah AYA KAMUNGKINAN sperma oge bisa 
diciptakeun tina TULANG SUMSUM AWEWE. Waduh ...lamun enya teh bisa, 
teu perlu lalaki deui atuh nya, keur reproduksi jelema. Jelema engke 
siga toke di Australia nu teu perlu jalu, da bikangna bisa endogan 
nu bisa megar, teu kudu heula "taeun" jeung toke jalu.

Wartosna nyanggakeun: 

Tulang pun Bisa Menghasilkan Sperma
Kamis, 19 April 2007 | 09:27 WIB 

TEMPO Interaktif, London:

Peneliti dari Jerman telah menciptakan cikal bakal sel sperma 
buatan. Profesor Karim Nayernia dan timnya dari Universitas 
Göttingen And Münster dan Sekolah Kedokteran Hannover di Jerman, 
berhasil membuat sel germ-cikal bakal sperma, dari sel stem di 
sumsum tulang lelaki. 

Nayernia dan timnya mengambil sampel sel sumsum tulang dari 
sukarelawan pria. Mereka lantas mengisolasi stem sel mesensimal, 
salah satu tipe sel stem di dalam sumsum. 

Teori dasarnya adalah begini: sel stem adalah sel induk yang mampu 
memperbaharui diri dan menciptakan jaringan beragam di dalam tubuh. 
Nayernia berhasil "membujuk" sel itu untuk menghasilkan sel germ, 
yang normalnya lahir dan bertumbuh di testis pria dan merupakan 
rantai awal terciptanya sperma (spermatozoa). 

Bujukan Nayernia yang kini bekerja di Institut Stem Sel North-east 
England di Newcastle itu rupanya berhasil dan menghasilkan sel germ. 
Inilah kali pertama sel reproduksi manusia dibuat secara artifisial 
melalui cara tersebut. 

Nayernia berharap penemuan yang telah dipaparkan pada Konferensi 
Fertilitas Internasional dan dipublikasikan di jurnal Gamete Biology 
jumat pekan itu, suatu hari bisa memecahkan persoalan kemandulan 
lelaki muda yang disebabkan kemoterapi. 

Profesor Nayernia mengatakan target mereka selanjutnya adalah 
mencoba membuat sel germ itu bertumbuh menjadi sel sperma dewasa di 
laboratorium: yakni sel yang sungguh-sungguh bisa membuahi. "Ini 
membutuhkan tiga sampai lima tahun eksperimen lagi," katanya.

Sel stem yang disebut pula sel induk dapat hidup lebih lama, malah 
ada yang bisa abadi dalam kondisi khusus di laboratorium. Bila 
ilmuwan dapat membuat sperma dari sumsum tulang lelaki, maka ada 
kemungkinan lelaki mandul memiliki anak lewat teknik bayi tabung. 

Bagaimana dengan sumsum tulang perempuan? Nayernia mengatakan bila 
pada lelaki teknik itu berhasil, maka bukan tak mungkin perempuan 
pun bisa membuat spermanya sendiri dan menghasilkan anak tanpa 
bantuan lelaki. 

"Secara teoritis itu mungkin dan etis karena aman-aman saja," kata 
Profesor Nayernia. Masalahnya, kata dia, adalah apakah sel sperma 
dari perempuan itu berfungsi atau tidak. 

Lagipula Nayernia memprediksi sel sperma dari perempuan hanya akan 
bisa menghasilkan bayi perempuan karena mereka tak mengandung 
kromosom Y, seperti yang dikandung dalam sperma lelaki. Namun saat 
ini mereka belum memusatkan perhatiannya pada sperma perempuan 
karena itu akan membutuhkan persetujuan tersendiri dari Otoritas 
Fertilisasi Manusia dan Embriologi. 

Pembuatan sel sperma dari sumsum lelaki pun sudah terganjal Undang-
Undang pemerintah Inggris yang melarang penggunaan sperma atau sel 
telur buatan pada proses reproduksi. 

Di sisi lain ada pula komentar miring. Profesor Harry Moore dari 
Pusat Sel Stem Biologi di Universitas Sheffield mengatakan temuan 
itu memang menarik. "Tapi kita mesti hati-hati 
menginterpretasikannya," katanya. 

Dia menyatakan perubahan sel pembentuk otot menjadi sel 
prareproduksi dikenal dengan istilah trans-diferensia. Tapi 
menurutnya, hampir semua pengamatan soal trans-diferensia pada sel 
induk tak bisa dikonfirmasi meski diteliti seteliti-telitinya. 

Jadi hasil penelitian para pakar Jerman itu, kata Moore, bisa saja 
menyesatkan. "Ini memang sebuah gerak cepat, tapi masih butuh 
tahunan untuk menghasilkan obat bagi kemandulan dengan teknik 
semacam itu."

Profesor Moore juga memperingatkan bahwa memanipulasi sel stem untuk 
menghasilkan sperma dapat menyebabkan perubahan genetik permanen 
pada sperma. Alhasil, sel itu menjadi tak aman bila digunakan untuk 
menangani masalah kesuburan.

Profesor Malcolm Alison dari Sekolah Kedokteran Umum dan Kedokteran 
Gigi Queen Mary di London juga setali tiga uang. "Sel-sel ini belum 
tentu bisa dibuat menjadi sperma yang berfungsi. Jadi kami belum 
tahu apakah mereka bisa melewati "tes keasaman", yakni kemampuannya 
membuahi sel telur sebagaimana sperma donor di program bayi tabung," 
katanya.

Kini Nayernia tengah mengusulkan penggunaan isi bank sumsum tulang 
yang ada di Newcastle, Inggris. Mereka membutuhkan izin dari 
pendonor sumsum di sana, agar bersedia menyumbangkannya untuk 
penelitian. Mereka juga sedang mengupayakan restu dari komite etik 
dan rumah sakit. 

Dr Allan Pacey, Sekretaris Masyarakat Fertilitas Inggris mengatakan 
keberhasilan para ilmuwan tersebut akan berguna dalam memahami 
kondisi biologis dalam proses pembuatan membuat sperma. "Kita bisa 
menelaah mengapa sesuatu menjadi salah (menjadi mandul) dan membawa 
pendekatan baru dalam menangani kemandulan lelaki," katanya. 

Profesor Nayernia sendiri bukanlah kali pertama meneliti sel stem 
ini. Pada Juli tahun lalu, dia telah mengumumkan di jurnal 
Developmental Cell bahwa dia dan timnya telah membuat sel sperma 
dari sel stem embrio tikus. 

Sperma yang lahir dari proses itu lalu digunakan untuk membuahi sel 
telur tikus betina. Hasilnya, telah lahir tujuh bayi tikus. 
Keberhasilan inilah yang mendorong Nayernia mencoba meneliti 
pembuatan sel sperma artifisial. 



Kirim email ke