Kanu acan karawin ..........
sumangga buru buru .....




untung geus kawin !!!


On 4/19/07, waluya56 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  ceuk warta Tempo Interaktif, elmuwan Jerman geus hasil nyiptakeun
cikal bakal SPERMA tina sumsum tulang lalaki. Soal ieu teu pati
masalah, ngan nu jadi masalah, cenah AYA KAMUNGKINAN sperma oge bisa
diciptakeun tina TULANG SUMSUM AWEWE. Waduh ...lamun enya teh bisa,
teu perlu lalaki deui atuh nya, keur reproduksi jelema. Jelema engke
siga toke di Australia nu teu perlu jalu, da bikangna bisa endogan
nu bisa megar, teu kudu heula "taeun" jeung toke jalu.

Wartosna nyanggakeun:

Tulang pun Bisa Menghasilkan Sperma
Kamis, 19 April 2007 | 09:27 WIB

TEMPO Interaktif, London:

Peneliti dari Jerman telah menciptakan cikal bakal sel sperma
buatan. Profesor Karim Nayernia dan timnya dari Universitas
Göttingen And Münster dan Sekolah Kedokteran Hannover di Jerman,
berhasil membuat sel germ-cikal bakal sperma, dari sel stem di
sumsum tulang lelaki.

Nayernia dan timnya mengambil sampel sel sumsum tulang dari
sukarelawan pria. Mereka lantas mengisolasi stem sel mesensimal,
salah satu tipe sel stem di dalam sumsum.

Teori dasarnya adalah begini: sel stem adalah sel induk yang mampu
memperbaharui diri dan menciptakan jaringan beragam di dalam tubuh.
Nayernia berhasil "membujuk" sel itu untuk menghasilkan sel germ,
yang normalnya lahir dan bertumbuh di testis pria dan merupakan
rantai awal terciptanya sperma (spermatozoa).

Bujukan Nayernia yang kini bekerja di Institut Stem Sel North-east
England di Newcastle itu rupanya berhasil dan menghasilkan sel germ.
Inilah kali pertama sel reproduksi manusia dibuat secara artifisial
melalui cara tersebut.

Nayernia berharap penemuan yang telah dipaparkan pada Konferensi
Fertilitas Internasional dan dipublikasikan di jurnal Gamete Biology
jumat pekan itu, suatu hari bisa memecahkan persoalan kemandulan
lelaki muda yang disebabkan kemoterapi.

Profesor Nayernia mengatakan target mereka selanjutnya adalah
mencoba membuat sel germ itu bertumbuh menjadi sel sperma dewasa di
laboratorium: yakni sel yang sungguh-sungguh bisa membuahi. "Ini
membutuhkan tiga sampai lima tahun eksperimen lagi," katanya.

Sel stem yang disebut pula sel induk dapat hidup lebih lama, malah
ada yang bisa abadi dalam kondisi khusus di laboratorium. Bila
ilmuwan dapat membuat sperma dari sumsum tulang lelaki, maka ada
kemungkinan lelaki mandul memiliki anak lewat teknik bayi tabung.

Bagaimana dengan sumsum tulang perempuan? Nayernia mengatakan bila
pada lelaki teknik itu berhasil, maka bukan tak mungkin perempuan
pun bisa membuat spermanya sendiri dan menghasilkan anak tanpa
bantuan lelaki.

"Secara teoritis itu mungkin dan etis karena aman-aman saja," kata
Profesor Nayernia. Masalahnya, kata dia, adalah apakah sel sperma
dari perempuan itu berfungsi atau tidak.

Lagipula Nayernia memprediksi sel sperma dari perempuan hanya akan
bisa menghasilkan bayi perempuan karena mereka tak mengandung
kromosom Y, seperti yang dikandung dalam sperma lelaki. Namun saat
ini mereka belum memusatkan perhatiannya pada sperma perempuan
karena itu akan membutuhkan persetujuan tersendiri dari Otoritas
Fertilisasi Manusia dan Embriologi.

Pembuatan sel sperma dari sumsum lelaki pun sudah terganjal Undang-
Undang pemerintah Inggris yang melarang penggunaan sperma atau sel
telur buatan pada proses reproduksi.

Di sisi lain ada pula komentar miring. Profesor Harry Moore dari
Pusat Sel Stem Biologi di Universitas Sheffield mengatakan temuan
itu memang menarik. "Tapi kita mesti hati-hati
menginterpretasikannya," katanya.

Dia menyatakan perubahan sel pembentuk otot menjadi sel
prareproduksi dikenal dengan istilah trans-diferensia. Tapi
menurutnya, hampir semua pengamatan soal trans-diferensia pada sel
induk tak bisa dikonfirmasi meski diteliti seteliti-telitinya.

Jadi hasil penelitian para pakar Jerman itu, kata Moore, bisa saja
menyesatkan. "Ini memang sebuah gerak cepat, tapi masih butuh
tahunan untuk menghasilkan obat bagi kemandulan dengan teknik
semacam itu."

Profesor Moore juga memperingatkan bahwa memanipulasi sel stem untuk
menghasilkan sperma dapat menyebabkan perubahan genetik permanen
pada sperma. Alhasil, sel itu menjadi tak aman bila digunakan untuk
menangani masalah kesuburan.

Profesor Malcolm Alison dari Sekolah Kedokteran Umum dan Kedokteran
Gigi Queen Mary di London juga setali tiga uang. "Sel-sel ini belum
tentu bisa dibuat menjadi sperma yang berfungsi. Jadi kami belum
tahu apakah mereka bisa melewati "tes keasaman", yakni kemampuannya
membuahi sel telur sebagaimana sperma donor di program bayi tabung,"
katanya.

Kini Nayernia tengah mengusulkan penggunaan isi bank sumsum tulang
yang ada di Newcastle, Inggris. Mereka membutuhkan izin dari
pendonor sumsum di sana, agar bersedia menyumbangkannya untuk
penelitian. Mereka juga sedang mengupayakan restu dari komite etik
dan rumah sakit.

Dr Allan Pacey, Sekretaris Masyarakat Fertilitas Inggris mengatakan
keberhasilan para ilmuwan tersebut akan berguna dalam memahami
kondisi biologis dalam proses pembuatan membuat sperma. "Kita bisa
menelaah mengapa sesuatu menjadi salah (menjadi mandul) dan membawa
pendekatan baru dalam menangani kemandulan lelaki," katanya.

Profesor Nayernia sendiri bukanlah kali pertama meneliti sel stem
ini. Pada Juli tahun lalu, dia telah mengumumkan di jurnal
Developmental Cell bahwa dia dan timnya telah membuat sel sperma
dari sel stem embrio tikus.

Sperma yang lahir dari proses itu lalu digunakan untuk membuahi sel
telur tikus betina. Hasilnya, telah lahir tujuh bayi tikus.
Keberhasilan inilah yang mendorong Nayernia mencoba meneliti
pembuatan sel sperma artifisial.

Kirim email ke