Kang Dian,
   
  Naon tah saratna supados kenging sertifikat? Cekap teu upami aya info wireh 
cutatan ngeunaan angklun tos aya dina taun 1704?
   
  Kenging info ti buku Seri Sundalana ka-5 (Mencari Gerbang Pakuan dan kajian 
lainnya mengenai Budaya Sunda, 2006) kaca 99. Kieu unggelna eta info teh: 
   
  Perjalanan Abraham van Riebeeck ke Pakuan yang Kedua Kali pada Tahun 1704
   
  Perjalanan ini diberi nama “Togt over ons lant na Campoen Baroe en Pakowang” 
(Perjalanan pada tanah kita ke Kampung Baru dan Pakuan). Perjalanan ini dimulai 
pada 10 Mei 1704 dengan mengambil jalan ke Tanah Abang, Karet, “jalan Caedeel” 
(Ragunan) terus ke Seringsing dan Pondok Cina yang selanjutnya menempuh jalan 
yang sama dengan perjalanan tahun 1703. dalam perjalanan ini pun ikut serta 
istrinya dan beberapa pelayan perempuan.
   
  Pada 14 Mei ia tiba di Kedung Halang. Patut dicatat di sini, pada saat makan 
siang rombongan dihibur dengan pertunjukan angklung oleh Wargadita, kepala 
daerah Kedung Halang. Pada hari itu rombongan van Riebeck bermalam di Kampung 
Baru. Di sini pun ternyata ia dijamu dan dihibur dengan pertunjukan yang 
disebutnya “t Javaens musijq van Ratoe Padjadjaran, mitsgaders een Javaense 
marionette.”
   
  Marionette = boneka = kemungkinan wayang golek
   
  Salam,
  Asep
   


Dian Nugraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Dina ramatloka UNESCO:
http://www.unesco.org/culture/cdmusic/html_eng/indonesia.shtml
http://portal.unesco.org/culture/es/ev.php-URL_ID=19506&URL_DO=DO_PRINTPAGE&URL_SECTION=201.html

Kasebatkeun perkawis "Angklung Buhun Four pieces: Badud, Renggong, Bunics & 
Senggot Ciko" 
Ciciren yen saleresna Angklung oge parantos dipikawanoh ku UNESCO salaku bagian 
tina budaya "Java Sundanese Folk Music"

Kantun urang peryogi sertifikat UNESCO anu negeskeun hal eta. 

Salam,
Dian.


On 10/2/07, Agus Hermawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Tong heran, mun Malaysia mulung jeung ngakukeun seni adiluhung urang..
Da kumaha atuh...

Angklung Gagal Dipentaskan di Kantor Pusat UNESCO

Bandung, Kompas - Upaya menyebarluaskan seni tradisi angklung di pentas dunia 
kembali harus ditunda. Hal itu terjadi akibat pembatalan misi budaya Indonesia 
yang akan diselenggarakan dalam "Malam Indonesia" di Forum UNESCO (Organisasi 
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) di Paris, yang semula 
dijadwalkan pertengahan Oktober 2007. 

Udjo Taufik Hidayat dari Saung Angklung Udjo yang akan menjadi salah satu 
pengisi acara tersebut, Senin (1/10), mengaku kecewa setelah mengetahui 
pembatalan acara itu. Taufik mengaku sudah menanyakan alasan pembatalan acara 
itu kepada Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Ternyata, penyebabnya karena 
Presiden Indonesia tidak jadi hadir di Sidang UNESCO tersebut. Akibatnya, 
sembilan acara lainnya dianggap satu paket dan ikut dibatalkan. 

"Tapi, saya tak ingin menyalahkan siapa pun. Apalagi selama ini Presiden 
Yudhoyono dan Ibu Ani sangat perhatian dan bersemangat menghadiri acara 
tersebut. Bahkan, Ibu Ani minta agar kami menggoreskan Angklung is Indonesia 
pada angklung yang akan dibawa ke UNESCO," katanya. 

Akan tetapi, Taufik juga mengakui dirinya menyesalkan pembatalan tersebut. 
Sebab, dengan pembatalan tersebut usaha untuk memperkenalkan karya budaya 
bangsa ini harus diulang lagi dari nol. Meski demikian, ia menyatakan tidak 
akan mengendurkan semangat untuk tetap menampilkan angklung di dunia, baik 
dalam forum UNESCO maupun kesempatan lainnya. (ynt) 



                         




 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke