dear,
punteun teu disundakeun

===============
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/17/iptek/4087660.htm

Karena itu, ketika terungkap Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengeluarkan 
biaya Rp 17, 5 miliar untuk membangun situsnya, kita pun "melongo" melihat 
angka tersebut. Jumlah ini antara lain untuk pengembangan situs Rp 2 miliar 
tahun 2006, kemudian Rp 5,5 miliar tahun 2007, dan tahun 2008 dipersiapkan Rp 
10 miliar.

================

komentar :

kejam memang bangsa ini banyak melakukan hal-hal mubazir ditengah kesengsaraan, 
kelaparan, kemiskinan dan kemelaratan warga-warganya, mereka membuang anggaran2 
yang tidak logis dan kurang urgent..... padahal buat website ngga perlu terlalu 
mahal (pengalaman pribadi sih).... mudah-mudahan website seharga 17,5 milyar 
ini bisa "all-in link" dengan seluruh departemen yang terkait misalnya 
pembuatan paspor / visa indonesia online, pemesanan ( reservasi ) seluruh akses 
pariwisata di Indonesia dari hotel sampe bajaj kalo perlu... trus dari website 
tersebut bisa "tracking" dimana lokasi saat ini si Turis (GPS) realtime jadi 
kalo nyasar di indonesia, temennya turis atau polisi sekalipun bisa liat 
langsung posisinya di website 17,5 milyar tersebut... kalo menurut logika saya 
sih itu semua "bisa!" sekali lagi bisa bahkan lebih dengan dana bermilyar2 gitu 
bayangin aja untuk "tracking data" website DHL atau UPS mungkin ngga perlu 
banyak keluar dana, mungkin pemerintah tuh harus banyak belajar dari perusahaan 
swasta gimana nge-press budget dan mengatur karyawannya yang baik dan benar... 

kirim komentar anda ke : [EMAIL PROTECTED] 

Kirim email ke