basa sundana ngan na judulna wungkul 

Alma Wardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
 Syahdan terdengarlah suara mesin mobil menderu deru, mobil2 mengkilap berjajar 
ke belakang, tiba2 berbunyi melengking suara suling dan rentakan suara angklung 
pertanda start dimulai, melajulah dengan cepatnya mobil2 balap ep wan ( F1 , 
mobil balap formula satu ) tersebut.  
 Jaja serasa tak percaya melihat nya, ada balapan F1 di kota Bandung dengan 
mengambil start di lapangan tegalega. Tak percaya akhirnya tergapai juga impian 
nya, menonton langsung balapan mobil tersebut yg selama ini hanya bisa ia lihat 
di TV.
 
 Yah itulah kerjaan utama Jaja di rumahnya, setelah ia telah gagal melamar 
kerja ke mana2, cintanya pun ditolak si Neneng pujaan hatinya. Sekalian 
refreshing dan nggak ada kerjaan, akhirnya nonton TV saja lah kerjaan nya, 
khususnya acara olahraga seperti balap mobil dan sepakbola. Nonton nya pun 
nggak sembarangan, bukan acara lokal tapi acara2 olahraga nun jauh di eropa 
sana, walau nganggur Jaja masih punya gengsi.
 
 Tapi Jaja, sungguh kaget kalau ternyata balap F1 sampai diadakan pula di kota 
Bandung, yg jalan nya sempit, macet , banyak bolong2 dll. Dari koran ia dapat 
kabar justru karena itu semua, sangat menantang bagi para pembalap F-1 yg sudah 
bosan dg track balap yg itu2 saja. Jadilah Bandung kota ketiga di dunia yg 
mengadakan balap mobil di tengah kota, setelah monte carlo dan singapura. Pihak 
pemerintah  sih senang2 saja, berarti setidaknya sudah jadi kota kelas dunia, 
keren euy.  Yah begitulah kita2 senang berbangga2 dengan hal2 yg bersifat 
simbolis, namun tak begitu peduli bagaimana bisa unggul dalam realita nya, yg 
penting gengsi dan penampilan, demikianlah salah satu karakter kemiskinan 
mentalitas.
 






 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke