geus...geus kang,ulah di aduk2 deui.
numantak kudu bisa ngabedakeun..mana sato mana
manusa.lalajoan wae ayeuna mah..!! geuning ka
bukti..yen ALLOH jeung ROSULna darajatna geus satarap
jeung mahlukna,anu sok ngarusak. Ceuk kuring mah ari
ALLOH teh maha welas,maha asih ka mahluk nu mana
wae.ari ROSULna ka titipan sipat ALLOH,rohman-rohimna.
numantak....kudu dipertanyakeun!! mawa2 ngaran ALLOH
jeung ROSUL,"ALLOH nu mana"? "ROSUL nu mana"?

cag.
--- Djodi Ismanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Selasa, 2008 Mei 06    Yang Sesat dan Yang Ngamuk   
>     
>   Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya
> mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah
> orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya,
> mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya
> yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu
> adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok
> Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.
> 
>   
>   Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang
> dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu?
> Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta,
> tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang
> tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh
> dan lucu
> 
>   
>   Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah
> orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya,
> orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Maha esa
> dan berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat
> imam-imam mereka yang beragitasi dengan garang di
> layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng
> Nabi Muhammad SAW.
> 
>   
>   Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi
> Muhammad SAW, mengapa mereka tampil begitu sangar,
> mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal
> pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW.
> 
>   
>   Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa
> dimengerti. Mereka hanyalah mengikuti telunjuk
> imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang
> mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan
> ciri Islam yang rahmatan lil ’aalamiin, tidak hanya
> rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri).
> Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam,
> Rasulullah SAW, adalah pemimpin yang akhlaknya
> paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan
> akhlak manusia.
> 
>   
>   Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat 
> 
>   “Ya ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina
> lillah syuhadaa-a bilqisthi…al- aayah” (Q. 5: 8). 
> 
>   
>   Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah
> kamu penegak-penegak kebenaran karena Allah dan
> saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali
> kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk
> berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih
> dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh
> Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.
> 
>   
>   Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan
> kelapang dadaan Nabi Muhammad SAW atau membaca
> firman Allah kepada beliau, 
> 
>   
>   “Fabimaa rahmatin minaLlahi linta lahum walau
> kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min
> haulika… al-aayah” (Q. 3: 159). 
> 
>   
>   Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah
> engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka.
> Sekiranya engkau kasar dan berhati kejam, niscaya
> mereka akan lari menjauhimu…”
> 
>   
>   Tak Mengerti
> 
>   Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa
> yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka tidak
> mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti
> dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang.
> Atau, sekadar membayangkan bagaimana seandainya
> mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan
> kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas
> (menang).
> 
>   
>   Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali
> -seperti kata orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah
> mereka mengira bahwa Allah senang dengan orang-orang
> yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang
> jelas Allah, menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati
> mereka yang tidak berbelas kasihan kepada orang.
> 
>   
>   Saya heran mengapa ada -atau malah tidak
> sedikit-orang yang sudah dianggap atau menganggap
> diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku
> kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan
> kelembutan Sang Rasul, pembawa Islam itu sendiri.
> Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian
> terhadap mereka yang dianggap sesat.
> 
>   
>   Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah?
> Ataukah, mereka memahami dakwah sebagai hanya ajakan
> kepada mereka yang tidak sesat saja?
> 
>   
>   Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka
> sengaja berniat membantu menciptakan citra Islam
> sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang
> diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi…
> 
>   
> 
>   
>   Djodi , 
>   www.pwsmedan.blogspot.com
>   www.djodiismanto.blogspot.com
>    
>   
>   
>   
> 
> 
> 
>        
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with
> Yahoo! Mobile.  Try it now.



      

Kirim email ke