Lamun enya tea mah industri lauk ceuyah di Jawa Barat, atuh potensial pisan 
keur diekspor. Ekspor lauk bisa dina bentuk lauk atah beku geus meunang 
mersihan, jeroanana geus dipiceun. Bis oge lauk asak atawa satengah asak jero 
kaleng geus meunang ngabungbuan, bisa bungbu tomat, bawang, asam manis, atawa 
naon bae.
Naha aya kitu ekspor lauk ti Jawa Barat? kamana dieksporna?
 
salam,
Kang Trias   
  

--- On Wed, 6/25/08, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: mh <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Urang Sunda] Lauk Cai, Euy!
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [email protected]
Date: Wednesday, June 25, 2008, 8:45 PM






"Lauk Cai" Jadi Ikon Jawa barat...

Orang tua di Tatar Sunda menyebut ikan air tawar sebagai "lauk cai".
Ikan bagi masyarakat Pasundan telah menjadi bagian kehidupan. Hal ini
dimungkinkan karena sumber daya alam di Jawa Barat pada umumnya
memiliki sumber daya air yang memadai bagi tumbuh dan berkembangnya
ikan. Keberadaan balong tetenong (kolam comberan) di seputar rumah
banyak ditemui di pelosok perkampungan.

Budaya memelihara ikan di tanah Pasundan sudah tertanam sejak para
petinggi Kerajaan Galuh - lebih kurang 300 tahun lalu mulai menggali
sebagian bantaran sungai sebagai tempat menyimpan ikan. Setelah itu,
mereka berangsur-angsur memelihara ikan di kolam atau di sawah.
Pengalaman turun-menurun memelihara ikan akhirnya tidak hanya untuk
mencukupi kebutuhan lauk keluarga saja, tetapi berubah juga menjadi
ladang usaha guna memperoleh penghasilan.

Seorang tokoh perikanan, Odjoh Ardiwinata (alm), pada 1955-1960
menerbitkan serial buku yang menceritakan seluk-beluk memelihara ikan
tempo dulu. Buku itu menjadi referensi wajib bagi lembaga- lembaga
pendidikan perikanan.

Ditemukannya berbagai cara spesifik memelihara ikan oleh masyarakat
menjadi bukti, masyarakat Pasundan memiliki keterampilan dan keahlian
budidaya ikan.

Bukti empiris lain kepiawaian masyarakat Pasundan membudidayakan ikan
juga terdapat pada buku tulisan ahli perikanan dari luar negeri,
seperti Dr Alikunhi dan Dr Chauduri (India), Dr Bardach (Israel), Dr
Huet (Perancis), atau Dr Vaas Van Oven (Belanda).

Pada 1950-an mereka pernah mengunjungi wilayah Priangan, yaitu ke
Kampung Ciseda-Cipakat- Singaparna, yang dikenal sebagai daerah
pembenihan ikan mas di Tasikmalaya. Isi buku mereka tersisipi istilah
perikanan yang berasal dari bahasa Sunda, seperti kereneng, buleng,
oblok, kakaban, panglembangan, gomblangan, panyabetan, palet,
surumbung, sistem Galunggung, sistem kantong, sistem Rancapaku dan
lain sebagainya. Peran dan fungsi peristilahan tersebut diterangkan
secara rinci berdasarkan kajian ilmiah.

Dua pakar perikanan dari Cina, Prof Choong Lin (alm) dan Prof Wu Ting
Ting, memperkenalkan penggunaan "kakaban" sebagai salah satu tempat
menempel telur ikan mas khas Jawa Barat, saat peserta pelatihan dari
NACA/FAO mengunjungi Lembaga Riset Perikanan di Guangzhou dan Wuxi. Dr
Scott dan Dr Warner, keduanya ahli genetika ikan dari Reading
University Inggris, sempat tertegun ketika memerhatikan proses
pembenihan ikan "sistem Galunggung" di Kampung Saladah-Leuwisari,
Tasikmalaya.

Keunggulan

Kepopuleran Jawa Barat membudidayakan ikan tidak disangsikan.
Munculnya teknologi kolam air deras, teknologi longyam (integrasi
antara balong dan ayam), teknologi keramba jaring apung di Waduk,
termasuk teknologi Sariban di era 1970-an, telah menambah semarak
khazanah budidaya ikan di Jawa Barat.

Namun, kini gaung lauk cai di Tanah Pasundan seolah nyaris tidak
terdengar. Pasalnya, perikanan budidaya air tawar yang berlangsung
selama ini hanya bertumpu pada cara tradisional.

Padahal, peran teknologi dalam perkembangan budidaya ikan merupakan
kunci keberhasilan. Karenanya untuk membedah potensi budidaya yang
dimiliki, para pelaku dianjurkan menggunakan kaidah-kaidah
sciencetific based, artinya peran iptek (ilmu pengetahuan dan
teknologi) harus dijadikan andalan. Apalagi dalam era globalisasi,
jangan terjebak dalam kondisi yang selamanya tradisional dan primitif.

Teknologi tradisional yang kita miliki telah menjadi inspirasi para
ahli perikanan dari luar. Mereka senantiasa mengkaji kemudian
memperbaiki kisi-kisinya. Israel berhasil mengembangkan teknologi
perkolaman intensif sehingga memiliki tingkat produktivitas kolam yang
cukup tinggi. Hungaria berhasil memanfaatkan jerami padi dan cincangan
kol guna memproduksi rotatoria (makanan larva) yang cukup signifikan.
China melesat menjadi negara yang memiliki produksi akuakultur nomor
wahid di dunia.

Dari konteks di atas, dapat diambil kesan bahwa teknologi di manapun
senantiasa harus terus dikembangkan, tidak berjalan di tempat walau
bukan berasal dari negerinya sendiri.

Peran iptek

Untuk mengembalikan gaung budidaya air tawar di Tatar Sunda, kita
harus pandai-pandai menerapkan iptek pada berbagai segmen kegiatan,
serta bagaimana inovasi teknologi itu dapat diserap para pelaku
budidaya.

Teknologi budidaya ikan telah memperlihatkan kemajuan. Aplikasi
teknologi pembenihan ikan dengan metoda artificial propagation telah
banyak diterapkan, walau pemanfaatannya tidak merata di kalangan
pembudidaya. Teknologi "manipulasi kromosom" pada sex reversal ataupun
pada proses gino/androgenesis, maupun teknologi poliploidi untuk
mendapatkan ikan "mandul", serta teknologi "implantasi" untuk
mempercepat kematangan gonad sepertinya sudah tidak ada kendala.

Namun, kenyataannya teknologi tersebut jarang ditemui pemakaiannya
dilapangan. Hal itu harus menjadi bahan renungan bersama. Terlebih
teknologi mengutak-atik DNA untuk menghasilkan "ikan transgenik" -
walau di berbagai negara telah berhasil- di negeri ini masih jauh dari
jangkauan.

Teknologi lain yang belum termanfaatkan adalah "sperma beku" (frozen
sperm). Teknologi ini sesuai dan sangat dibutuhkan untuk dikembangkan,
apalagi saat ini Jawa Barat "paceklik" induk ikan. Sebenarnya
teknologi-teknologi di atas sudah layak diaplikasikan di kalangan
pembudidaya. Ini agar lauk cai yang menjadi ikon Jawa Barat tidak
hanya menjadi "tembang kenangan", tetapi juga dapat membawa Jawa Barat
sebagai provinsi termaju.

MUHAMAD HUSEN Anggota Masyarakat Akuakultur Indonesia

Citation: http://64.203. 71.11/kompas- cetak/0604/ 20/Jabar/ 1402.htm
 














      

Kirim email ke