Aya Kang, malah kamotekaran urang Purwakarta, abon tina lauk nila, tos
diekspor (ih, atuh lain laukna nya anu diekspor teh, heueuh teu
nanaon, da sumberna tina lauk keneh). Ngan memang, anu kararitu rada
kurang ngejreng keur kalolobaan inohong di Pemda urang, jadi teu matak
narik ati, kilang bara ngarojong sangkan jadi ikon budaya, atuh
ngangkat-ngangkat anu ulukutek dina lauk, sina rada komaraan. Geus
komaraan mah piraku atuh teu gampang usahana (pan pihak bank oge sok
rada surunday-sorondoy ka nu komaraan mah). Mangga, wilujeng mulih ka
cai (maksudna ka lauk), wilujeng milarian komara...eh komaraan.

manAR


2008/6/26 trias santosa <[EMAIL PROTECTED]>:
> Lamun enya tea mah industri lauk ceuyah di Jawa Barat, atuh potensial pisan
> keur diekspor. Ekspor lauk bisa dina bentuk lauk atah beku geus meunang
> mersihan, jeroanana geus dipiceun. Bis oge lauk asak atawa satengah asak
> jero kaleng geus meunang ngabungbuan, bisa bungbu tomat, bawang, asam manis,
> atawa naon bae.
>
> Naha aya kitu ekspor lauk ti Jawa Barat? kamana dieksporna?
>
>
>
> salam,
>
> Kang Trias
>
>
>
> --- On Wed, 6/25/08, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> From: mh <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Urang Sunda] Lauk Cai, Euy!
> To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [email protected]
> Date: Wednesday, June 25, 2008, 8:45 PM
>
> "Lauk Cai" Jadi Ikon Jawa barat...
>
> Orang tua di Tatar Sunda menyebut ikan air tawar sebagai "lauk cai".
> Ikan bagi masyarakat Pasundan telah menjadi bagian kehidupan. Hal ini
> dimungkinkan karena sumber daya alam di Jawa Barat pada umumnya
> memiliki sumber daya air yang memadai bagi tumbuh dan berkembangnya
> ikan. Keberadaan balong tetenong (kolam comberan) di seputar rumah
> banyak ditemui di pelosok perkampungan.
>
> Budaya memelihara ikan di tanah Pasundan sudah tertanam sejak para
> petinggi Kerajaan Galuh - lebih kurang 300 tahun lalu mulai menggali
> sebagian bantaran sungai sebagai tempat menyimpan ikan. Setelah itu,
> mereka berangsur-angsur memelihara ikan di kolam atau di sawah.
> Pengalaman turun-menurun memelihara ikan akhirnya tidak hanya untuk
> mencukupi kebutuhan lauk keluarga saja, tetapi berubah juga menjadi
> ladang usaha guna memperoleh penghasilan.
>
> Seorang tokoh perikanan, Odjoh Ardiwinata (alm), pada 1955-1960
> menerbitkan serial buku yang menceritakan seluk-beluk memelihara ikan
> tempo dulu. Buku itu menjadi referensi wajib bagi lembaga- lembaga
> pendidikan perikanan.
>
> Ditemukannya berbagai cara spesifik memelihara ikan oleh masyarakat
> menjadi bukti, masyarakat Pasundan memiliki keterampilan dan keahlian
> budidaya ikan.
>
> Bukti empiris lain kepiawaian masyarakat Pasundan membudidayakan ikan
> juga terdapat pada buku tulisan ahli perikanan dari luar negeri,
> seperti Dr Alikunhi dan Dr Chauduri (India), Dr Bardach (Israel), Dr
> Huet (Perancis), atau Dr Vaas Van Oven (Belanda).
>
> Pada 1950-an mereka pernah mengunjungi wilayah Priangan, yaitu ke
> Kampung Ciseda-Cipakat- Singaparna, yang dikenal sebagai daerah
> pembenihan ikan mas di Tasikmalaya. Isi buku mereka tersisipi istilah
> perikanan yang berasal dari bahasa Sunda, seperti kereneng, buleng,
> oblok, kakaban, panglembangan, gomblangan, panyabetan, palet,
> surumbung, sistem Galunggung, sistem kantong, sistem Rancapaku dan
> lain sebagainya. Peran dan fungsi peristilahan tersebut diterangkan
> secara rinci berdasarkan kajian ilmiah.
>
> Dua pakar perikanan dari Cina, Prof Choong Lin (alm) dan Prof Wu Ting
> Ting, memperkenalkan penggunaan "kakaban" sebagai salah satu tempat
> menempel telur ikan mas khas Jawa Barat, saat peserta pelatihan dari
> NACA/FAO mengunjungi Lembaga Riset Perikanan di Guangzhou dan Wuxi. Dr
> Scott dan Dr Warner, keduanya ahli genetika ikan dari Reading
> University Inggris, sempat tertegun ketika memerhatikan proses
> pembenihan ikan "sistem Galunggung" di Kampung Saladah-Leuwisari,
> Tasikmalaya.
>
> Keunggulan
>
> Kepopuleran Jawa Barat membudidayakan ikan tidak disangsikan.
> Munculnya teknologi kolam air deras, teknologi longyam (integrasi
> antara balong dan ayam), teknologi keramba jaring apung di Waduk,
> termasuk teknologi Sariban di era 1970-an, telah menambah semarak
> khazanah budidaya ikan di Jawa Barat.
>
> Namun, kini gaung lauk cai di Tanah Pasundan seolah nyaris tidak
> terdengar. Pasalnya, perikanan budidaya air tawar yang berlangsung
> selama ini hanya bertumpu pada cara tradisional.
>
> Padahal, peran teknologi dalam perkembangan budidaya ikan merupakan
> kunci keberhasilan. Karenanya untuk membedah potensi budidaya yang
> dimiliki, para pelaku dianjurkan menggunakan kaidah-kaidah
> sciencetific based, artinya peran iptek (ilmu pengetahuan dan
> teknologi) harus dijadikan andalan. Apalagi dalam era globalisasi,
> jangan terjebak dalam kondisi yang selamanya tradisional dan primitif.
>
> Teknologi tradisional yang kita miliki telah menjadi inspirasi para
> ahli perikanan dari luar. Mereka senantiasa mengkaji kemudian
> memperbaiki kisi-kisinya. Israel berhasil mengembangkan teknologi
> perkolaman intensif sehingga memiliki tingkat produktivitas kolam yang
> cukup tinggi. Hungaria berhasil memanfaatkan jerami padi dan cincangan
> kol guna memproduksi rotatoria (makanan larva) yang cukup signifikan.
> China melesat menjadi negara yang memiliki produksi akuakultur nomor
> wahid di dunia.
>
> Dari konteks di atas, dapat diambil kesan bahwa teknologi di manapun
> senantiasa harus terus dikembangkan, tidak berjalan di tempat walau
> bukan berasal dari negerinya sendiri.
>
> Peran iptek
>
> Untuk mengembalikan gaung budidaya air tawar di Tatar Sunda, kita
> harus pandai-pandai menerapkan iptek pada berbagai segmen kegiatan,
> serta bagaimana inovasi teknologi itu dapat diserap para pelaku
> budidaya.
>
> Teknologi budidaya ikan telah memperlihatkan kemajuan. Aplikasi
> teknologi pembenihan ikan dengan metoda artificial propagation telah
> banyak diterapkan, walau pemanfaatannya tidak merata di kalangan
> pembudidaya. Teknologi "manipulasi kromosom" pada sex reversal ataupun
> pada proses gino/androgenesis, maupun teknologi poliploidi untuk
> mendapatkan ikan "mandul", serta teknologi "implantasi" untuk
> mempercepat kematangan gonad sepertinya sudah tidak ada kendala.
>
> Namun, kenyataannya teknologi tersebut jarang ditemui pemakaiannya
> dilapangan. Hal itu harus menjadi bahan renungan bersama. Terlebih
> teknologi mengutak-atik DNA untuk menghasilkan "ikan transgenik" -
> walau di berbagai negara telah berhasil- di negeri ini masih jauh dari
> jangkauan.
>
> Teknologi lain yang belum termanfaatkan adalah "sperma beku" (frozen
> sperm). Teknologi ini sesuai dan sangat dibutuhkan untuk dikembangkan,
> apalagi saat ini Jawa Barat "paceklik" induk ikan. Sebenarnya
> teknologi-teknologi di atas sudah layak diaplikasikan di kalangan
> pembudidaya. Ini agar lauk cai yang menjadi ikon Jawa Barat tidak
> hanya menjadi "tembang kenangan", tetapi juga dapat membawa Jawa Barat
> sebagai provinsi termaju.
>
> MUHAMAD HUSEN Anggota Masyarakat Akuakultur Indonesia
>
> Citation: http://64.203. 71.11/kompas- cetak/0604/ 20/Jabar/ 1402.htm
>
> 

Kirim email ke