500 Naskah Kuno Ditawar Malaysia

BANDUNG, (PR).-
Sekitar 500 naskah kuno dan benda pusaka seperti keris dan kujang asal
Cirebon terancam dilelang. Benda-benda kuno milik perseorangan bernama
Nyimas itu, kini ditawar Malaysia dengan harga Rp 300.000,00 untuk
setiap benda kuno.

Filolog Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Tedi Permadi,
S.S., M.Hum. didampingi Dra. Etti R.S., M. Hum. menyampaikan hal itu
kepada "PR" di sela-sela persiapan pelaksanaan "Simposium
Internasional Pernaskahan Kuna Nusantara XII" di kampus Unpad Jln.
Dipati Ukur Bandung, Minggu (3/8).

"Kabar ini sangat menohok kita. Apalagi besok (Senin ini- red.), kita
akan menggelar simposium pernaskahan kuno internasional yang akan
diikuti puluhan pemakalah dalam dan luar negeri," ujar Tedi.

Dia mengatakan, pemilik naskah kuno dan benda-benda pusaka tersebut
mengaku sudah tidak percaya kepada pemerintah kota. "Akhirnya, ada
keputusan untuk segera melelang benda-benda bersejarah itu," katanya.

Tedi memaparkan, dari sejumlah perjalanan ke berbagai daerah di Jawa
Barat, kasus serupa banyak terjadi. Hal itu akibat faktor
ketidaktahuan masyarakat terhadap isi, makna, dan manfaat yang
terkandung dalam naskah kuno. Demikian pula untuk benda-benda kuno
seperti besi rongsokan. "Ini sangat memprihatinkan. Saya pernah
menemukan sekarung naskah kuno di Cicalengka yang mestinya diamankan.
Naskah itu saya coba tawarkan ke museum, tetapi jawabannya sangat
klise, tidak ada anggaran," ucapnya menambahkan.

Tidak tersosialisasi

Ketua Panitia Simposium Etti R.S. mengatakan, simposium menghadirkan
32 pemakalah dari luar negeri, 20 pemakalah dari dalam negeri, dan 2
pembicara kunci, yakni Menbudpar Jero Wacik dan Kepala Perpustakaan
Nasional. Sementara pemakalah dari luar negeri antara lain dari Leiden
Belanda, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Kemudian
pemakalah dalam negeri, adalah filolog-filolog yang merupakan
perwakilan dari 20 perguruan tinggi.

Para filolog ini akan menyampaikan materi di antaranya iluminasi
(ragam hias) naskah "Melayu Ragam Hias Minangkabau" (Minangkabau),
naskah "Budaya Trans Lokal dalam Wayang Palembang" (Palembang), naskah
Bugis tentang "Siklus Iklim dalam pertanian" (Bugis), naskah "Ruwatan"
(Cirebon), dan berbagai naskah kuno lain dari Singapura seperti naskah
"Tanjung Tanah" yang berisi soal surat-menyurat pada masa agresi
militer Belanda.

Simposium ini, kata Etti, bertujuan untuk menyosialisasikan keberadaan
dan manfaat naskah kepada masyarakat. Simposium akan dibuka Menbudpar
Jero Wacik, Senin (4/8) dan berakhir Rabu (6/8) di Grha Sanoesi
Hardjadinata Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Kota Bandung. (A-148)***

citation: 
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=26139

Kirim email ke