Museum Islam Malaysia Simpan Naskah Asal RI

BANDUNG, (PR).-
Pemerintah Malaysia sedang melakukan investasi besar-besaran untuk
kebudayaan baru. Mereka berani membeli apa pun dengan biaya berapa
pun, demi pencanangan perubahan kebudayaan pada 200 tahun mendatang.

Filolog Suryadi dari Leiden University Belanda menyampaikan hal itu
saat dimintai komentarnya tentang 500 naskah dan benda-benda kuno
Cirebon, yang terancam dibeli Pemerintah Malaysia, Senin (4/8), di
Grha Sanusi Hardjadinata Unpad Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Senin
(4/8).

Saat ini, kata dia, terdapat 4.000 naskah di Islamic Art Museum
Malaysia (IMM) Kuala Lumpur. Dari jumlah tersebut, antara lain
terdapat naskah-naskah yang berasal dari Indonesia.

Suryadi termasuk salah seorang pemakalah pada "Simposium Internasional
Pernaskahan Kuna Nusantara XII" yang dihadiri 21 pemakalah luar
negeri, 20 pemakalah dalam negeri, dan 2 pembicara kunci.

Menurut dia, Pemerintah Malaysia mengubah cara berpikir (mindset)
masyarakatnya untuk perubahan budaya yang sangat besar. Perubahan cara
berpikir tersebut, merupakan gambaran besar yang bergulir di semua
bidang, bukan hanya pendidikan tetapi juga kebudayaan.

"Makanya, saya tidak heran ketika mendengar ada 500 naskah punya kita
yang akan dibeli Malaysia," ujarnya.

Hal itu terjadi karena masyarakat tidak tahu isi dan makna penting
yang terkandung di dalam naskah kuno. Selain itu, masyarakat juga
cenderung lebih berorientasi pada uang daripada nilai.

Hal sama berlaku di Pemerintah Indonesia. Menurut dia, pemerintah
tidak mempunyai visi kebudayaan bagi Indonesia masa mendatang.
Jangankan untuk tatanan kebudayaan baru, menjaga dan melestarikan
hasil kebudayaan yang ada saja sulit.

"Kita lihat saja, kalau naskah itu sampai terjual, kita bisa tahu ke
mana orientasi masyarakat dan pemerintah kita yang sebenarnya. Apakah
berorientasi pada investasi mendatang atau sebaliknya, meraup
keuntungan sesaat," ujarnya.

Sedikit peminat

Rektor Unpad Ganjar Kurnia yang membuka simposium menggantikan
Menbudpar Jero Wacik yang berhalangan hadir, mengatakan, jumlah naskah
kuno yang masih belum diidentifikasi masih sangat banyak. Sementara
para peneliti sangat sedikit.

Bahkan, menurut Ganjar, jumlah peminat yang memilih sastra daerah pun
sangat terbatas sehingga projek-projek penelitian naskah kuno yang
sempat masuk ke Unpad, tidak terlalu banyak yang dikerjakan.

Ke depan, kata Rektor, pihaknya akan mengikutsertakan mahasiswa dalam
projek-projek penelitian tersebut sehingga akan semakin banyak lagi
jumlah naskah yang diteliti dan diterjemahkan.

"Selain itu, mahasiswa pun akan mempunyai pengalaman sebagai peneliti
di samping menjalani perkuliahan seperti biasa," ujarnya.

Selain menghadirkan para pemakalah, simposium juga diisi dengan
pameran benda-benda kuno seperti lukisan di atas kertas daluang,
naskah-naskah kuno, replika batu tulis, mushaf Alquran, dan cara-cara
pembuatan kertas daluang, dan lain-lain. Simposium akan berlangsung
sampai Rabu (6/8). (A-148)***

Citation: 
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=26314

Kirim email ke