Baraya,
Ieu artikel raksukan ngojay... punten sanes bade nyaingan raksukan produk Kang 
Jalak nyaaa...
Ieu mah mung saukur babagi iber, punten deui bae teu diSundakeun & kanu kantos 
maos.

salam,
ro2

"Doping" Sepotong Baju Renang
 
GETTY IMAGES/TOM SHAW
Perenang Amerika Serikat, Michael Phelps, mengenakan baju renang Speedo LZR 
Racer pada acara peluncuran baju renang Speedo di The Gymnasium, London, 
Inggris, Februari lalu.
Senin, 11 Agustus 2008 | 03:00 WIB

Fitrisia Martisasi
Ketika Juni lalu perenang top Amerika Serikat, Michael Phelps, berlaga di 
Omaha, AS, pada nomor 100 meter gaya kupu-kupu, ia sempat berada di urutan 
kedua hingga saat membalikkan badan. Namun, pada 25 meter terakhir, Phelps 
melaju dan akhirnya memecahkan rekor dunia dengan catatan 51,04 detik.
Yang menarik, wartawan kemudian mengerubutinya dan bertanya soal baju 
renangnya, LZR Racer buatan Speedo. Padahal, yang paling dikejar Phelps 
menjelang Olimpiade Beijing 2008 adalah menggaet emas sebanyak mungkin dalam 
satu Olimpiade, mengambil alih rekor Mark Spitz dengan tujuh emas.
"Saya tak biasa ditanyai soal baju renang. Agak lucu," kata Phelps, seperti 
ditulis majalah Newsweek bulan Juni itu.

Memang, sejak diluncurkan bulan Februari lalu, LZR (baca: laser) bikin heboh. 
Malah ada yang menyebutnya sebagai "doping teknologi". Tercatat 38 rekor dunia 
dipecahkan oleh atlet yang mengenakan baju renang berteknologi mutakhir ini. 
Sementara dalam kurun waktu yang sama, mereka yang memakai pakaian kompetitor 
cuma memecahkan tiga rekor dunia.
Tentu saja, begitu rekor dunia bertumbangan, dunia renang gempar. Mereka yang 
bernaung di bawah bendera kompetitor mulai melirik LZR, bahkan ada yang 
terang-terangan mencampakkan baju renang sponsor yang mendanainya.

Perenang Jepang, Kosuke Kitajima―peraih emas 100 meter dan 200 meter gaya 
punggung di Olimpiade Athena 2004―misalnya, memilih LZR, padahal tim Jepang 
terikat kontrak dengan Mizuno. Di Belanda, peraih tiga medali emas Olimpiade, 
Pieter van den Hoogenband, berminta memakai LZR kendati sudah menjalin ikatan 
dengan Nike.

Federasi renang di berbagai negara dibuat pusing oleh produksi terbaru Speedo. 
Perenang-perenang Jerman sempat menuntut federasinya untuk memutus kontrak 
dengan Adidas. Perenang Italia, Filippo Magnini, juga ingin beralih ke LZR. 
Alasannya, Arena―yang menjadi sponsor tim renang Italia―tak kunjung bisa 
membuat baju renang yang bisa membuatnya meluncur cepat di air.

Iklan gratis
Tak semua kompetitor Speedo bisa lapang dada menerima fakta bahwa LZR punya 
kelebihan khusus. Hitungan mereka adalah bisnis, bukan pencapaian atlet. 
Pengusaha mana yang rela melihat bisnisnya tergerogoti?
Gara-gara Kitajima diperkenankan memakai LZR dan memecahkan rekor dunia 200 
meter gaya dada, misalnya, saham perusahaan Mizuno merosot 2,8 persen. 
Sementara harga saham di Goldwin―produsen yang membuat dan menjual produk 
Speedo di Jepang―melonjak 19 persen.

Menurut perusahaan riset pasar SportsOneSource, pangsa pasar Speedo naik 7 poin 
persen, menjadi 61 persen, sementara kompetitornya, TYR Sport Inc―produsen 
pakaian renang terbesar kedua―turun 1 pon persen, menjadi 21 persen. Hal serupa 
terjadi pada Nike yang merosot 9 poin, menjadi 11 persen.
Terpukau oleh performa atlet yang mengenakan LZR, pelatih kepala tim renang AS, 
Mark Shubert, "menginstruksikan" atletnya yang ingin diikutkan ke Beijing untuk 
memakai Speedo. Padahal, di AS masing-masing atlet renang boleh mengikat 
perjanjian bisnis dengan produsen peranti olahraga mana pun.
Keruan, langkah Shubert membuat berang TYR Sport Inc. Gugatan hukum pun 
dilayangkan. Ada tiga pihak yang kena. Pertama, Warnaco, pemegang lisensi 
Speedo di Amerika Utara, yang dituding menghalangi perdagangan, melanggar 
undang-undang antimonopoli, dan melakukan kampanye iklan yang keliru. Pihak 
kedua yang digugat adalah pelatih kepala tim renang AS, Mark Shubert. Dan yang 
terakhir adalah atlet TYR, Erik Vendt, peraih emas Olimpiade yang kemudian 
beralih ke Speedo.

Bagi Speedo sendiri, kehebohan di luar adalah iklan gratis yang menjadi bahan 
bakar peningkatan penjualan. Maklum, Speedo sebetulnya juga bukan perusahaan 
raksasa. Penjualan tahunannya di AS cuma 250 juta dollar AS (Rp 2,3 triliun) 
dan di dunia 555 juta dollar AS (Rp 5,1 triliun), tak cukup besar untuk 
bermewah- mewah mengiklankan LZR di televisi menjelang Olimpiade.

Lebih ringan
Heboh soal baju renang LZR memang cukup panjang. Federasi Renang Amatir 
Internasional (FINA) pun turun tangan. Kepada harian Australia, Herald Sun, 
bulan Maret, Direktur Pelaksana FINA Cornel Marculescu meyakinkan bahwa LZR 
sudah disetujui FINA. Namun, mereka memang masih ingin mengajukan pertanyaan 
kepada produsennya tentang ketebalan bahan yang dipakai.

Baju renang LZR yang tanpa jahitan ini disebut-sebut bisa menurunkan gaya gesek 
di kolam sebesar 5 persen ketimbang produksi setahun sebelumnya. Yang menarik, 
bahan yang dipakai adalah kain yang bisa menghalau air. Washingtonpost.com 
menuliskan, Speedo mulai menciptakan LZR tahun 2005, dengan meminta sebuah 
pabrik kain kecil di Italia untuk bereksperimen dengan mengombinasikan spandex 
dan serat nilon. Hasilnya mengejutkan eksekutif Speedo, yang segera mematenkan 
dan memberinya nama LZR Pulse.

Bahan baru ini begitu ringan, 70 persen lebih enteng daripada baju renang lain. 
Namun, kompresinya 15 persen lebih baik. Praktis, bahan ini tidak menahan air. 
Baju renang Speedo yang lama, Fastskin, perlu waktu 16 jam untuk kering setelah 
dicelup satu jam dalam air. Sementara barang yang baru ini cuma butuh waktu 45 
menit.
Speedo juga mengajak para peneliti Badan Angkasa Luar AS (NASA) untuk menguji 
kain yang gaya geseknya kecil. Di dalam terowongan angin―yang biasa dipakai 
untuk mendeteksi friksi permukaan pesawat angkasa luar saat masuk kembali ke 
atmosfer Bumi―diembuskan angin berkecepatan 100 km per jam ke arah sejumlah 
baju renang. Hasilnya, kain tercepat adalah yang dilapisi dengan polyurethane, 
sejenis bahan karet yang saat melintas di air memiliki hambatan lebih kecil 
ketimbang kain tanpa lapisan.

Apa pun yang telah dicapai Speedo lewat LZR, mungkin apa yang dikatakan Britta 
Steffen, perenang Jerman yang juga mantan pemegang rekor dunia, perlu diingat. 
"Tanpa jumlah latihan yang tepat, baju renang terbaik di dunia sekali pun tak 
bakal menolong sama sekali," katanya. Jadi, bagi dia, tak ada "doping 
teknologi".
http://www.kompas.com/lipsus/olimp_read/2008/08/11/01482239/

Kirim email ke