Dari pada mendukung capres yang slogan kampanyenya: HIDUP ADALAH PERBUALAN",

Mending dukung Agus dengan slogannya: Hidup adalah Perjalanan.

Salam
tantan



Agustinus Wibowo

***Agus: Karena Hidup Ini Adalah Perjalanan...*

*
"HIDUP ini adalah sebuah perjalanan. Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup
kita akan selesai. Begitu pula saya tidak tahu kapan petualangan saya ini
akan berakhir. Yang saya tahu, saya masih ingin terus melanjutkan
petualangan saya. Masih ada banyak tempat yang ingin saya kunjungi," ujar
Agustinus Wibowo dalam sebuah perbincangan. *

Ketika tulisan ini dibuat, Agus, begitu biasa ia disapa, sedang menetap
sementara di Afghanistan. Ia telah hampir tiga tahun melakukan perjalanan
tanpa jeda melalu jalur darat melintasi Asia Selatan dan Tengah. Ia sedang
melakukan "misi pribadinya" keliling Asia, bagian dari cita-citanya keliling
dunia. Perjalanannya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, China pada
tanggal 31 Juli 2005. Dari negeri tirai bambu itu ia naik ke atap dunia Tibet,
menyeberang ke Nepal, turun ke India, kemudian menembus ke barat, masuk ke
Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali
Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan
Turkmenistan. Ribuan kilometer yang dilaluinya ia tempuh dengan berbaga
macam alat transportasi seperti kereta api, bus, truk, hingga kuda, keledai
dan tak ketinggalan jalan kaki.

"Saya menghindari perjalanan dengan pesawat. Perjalanan udara menghalangi
saya menyerap saripati tempat-tempat yang saya kunjungi. Menyatu dengan
budaya setempat, menjalin persahabatan dengan banyak orang di tiap tempat,
merasakan kehidupan masyarakat di suatu tempat adalah hal-hal yang tidak
mungkin saya dapatkan jika saya menggunakan pesawat terbang. Selain itu,
uang saya tidak cukup untuk tiap kali naik pesawat..hehehe..." terangnya.

Agus adalah seorang petualang, pengembara, musafir, seorang backpaker
sejati. Bagi banyak orang, aktivitas travelling murah sebagai seorang
bakckpaker adalah hobi. Bagi Agus menjadi backpaker adalah hidupnya,
napasnya setiap hari.

Ia memulai perjalanannya dengan bekal 2.000 dolar AS hasil tabungannya
selama kuliah di Universitas Tshinghua, Beijing, Cina. Ketika duitnya habis
ia akan menetap sementara di suatu tempat, bekerja serabutan guna
mengumpulkan duit lagi dan kembali melanjutkan perjalanan.

"Kebetulan saya suka fotografi. Saya menjual foto-foto saya dan menulis
tentang tempat-tempat yang saya kunjungi untuk saya jual ke beberapa media
di China, Singapura dan Indonesia. Selain itu saya bekerja serabutan sebagai
apa saja untuk bertahan hidup," tuturnya.

***

Agustinus Wibowo lahir di Lumajang, Jawa Timur, tahun 1981 sebagai putra
pertama pasangan Chandra Wibowo dan Widyawati. Lulus dari SMU 2 Lumajang ia
melanjutkan kuliah di Jurusan Informatika Institut Teknologi Sepuluh
November Surabaya (ITS). Hanya satu semester ia di ITS, sebelum memutuskan
pindah kuliah ke Fakultas Komputer Universitas Tshinghua, Beijing,
universitas paling ternama di daratan Tiongkok.

Sejak kecil ia sudah menyimpan harapan untuk berkelana ke negeri-negeri
jauh. Waktu SD gurunya pernah bertanya tentang cita-citanya. Dengan polos
dia menjawab ingin jadi turis. Gurunya bilang kalau turis itu bukan
pekerjaan, bukan cita-cita. Tapi, Agus terus menyimpan mimpi masa kecilnya
itu.

Di Lumajang ia tumbuh sebagai anak rumahan, lebih senang menghabiskan
waktunya di kamar membaca buku. Jika harus keluar rumah ia memanggil becak.
"Dulu saya ini malas banget jalan siang-siang, panas. Bahkan, untuk pergi
400 meter saja saya pasti naik becak," aku dia.

Semua itu telah berubah. Ia telah mewujudkan mimpinya menjadi seorang
"turis". Anak manis yang malas bertemu panas matahari telah menjadi anak
kehidupan yang tidur berselimut debu jalanan. "Saya berubah dari seorang
kutu buku tidak berguna menjadi seorang musafir yang tahan banting.
Perjalanan mengajarkan saya tentang warna-wani hidup, ragam budaya dan
manusia. Perjalanan ini juga memaparkan pada saya bahwa dunia tidak seindah
yang kita impikan. Hidup ini cantik sekaligus buruk rupa, bahagia sekaligus
muram, berwarna sekaligus kelabu. Saya belajar untuk tidak mengeluh dan
belajar untuk selalu bersyukur atas segala hal yang saya terima setiap
hari," ujarnya.

Semua perubahan itu dimulai pada tahun 2002. Saat itu, seorang temannya di
Tsinghua menantangnya untuk "backpack" ke Mongolia. Kebetulan pada saat yang
sama ia terinspirasi oleh seorang teman lainnya, cewek Jepang, yang pernah
keliling Asia Tenggara sendirian selama enam bulan. Ia begitu terkagum-kagum
ketika si cewek Jepang-nya itu bercerita bahwa selama perjalanan ia bertahan
hidup dan berkomunikasi menggunakan "bahasa tarzan" karena sama sekali tidak
bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa negara-negara ASEAN.

"Waktu itu saya begitu terpesona oleh cerita petualangan teman Jepang saya
ini. Petualangan yang wah, berani, dan penuh tantangan. Saya jadi bertanya
sendiri, kapan saya bisa begitu? Maka ketika ada teman yang mengajak saya
pergi ke Mongolia saya langsung mengiyakan," tuturnya.

Ternyata, Agus tidak pernah bisa menghentikan langkahnya sejak saat itu.
"Semakin sering saya travelling sebagai backpaker, semakin dalam
keingintahuan saya tentang hal-hal baru di dunia ini. Tidak hanya sebagai
penonton, tapi terlibat sepenuhnya dengan seluruh pengalaman perjumpaan
dengan masyarakat dan kebudayaannya. Dunia ini tidak seluas daun kelor. Ada
banyak kehidupan lain di luar sana dan ada banyak kebajikan yang kita tidak
pernah tahu sebelumnya," jelas Agus yang karena perjalanannya telah
menguasai bahasa Hindi, Urdu, Farsi, Rusia, Tajik, Kirghiz, Uzbek, Turki,
dan sekarang dalam proses menguasai bahasa Arab, Armenia, dan Georgia.
Selain itu, ia fasih bahasa Inggris, Mandarin, Indonesia dan tentu saja
bahasa Jawa.

Kemampuannya menguasai berbagai bahasa ini pernah membuatnya hampir
cilaka. Suatu
waktu di Afghanistan polisi setempat mencurigai dirinya sebagai seorang
teroris dari Pakistan. Tiba-tiba, tanpa sebab dan alasan, sekelompok polisi
memukulinya dengan garang. Spontan ia berteriak dan memaki. Namun sial, yang
keluar dari mulutnya adalah bahasa Urdu. "Seharusnya saya ngomong dalam
bahasa Inggris, tapi waktu itu spontan yang keluar bahasa Urdu," cerita dia.
Urdu, tak lain dan tak bukan, adalah bahasa nasional Pakistan.

Tidak cuma sekali dua kali Agus mengalami kejadian-kejadian naas seperti
itu. Seorang pengelana mau tidak mau harus berteman dengan marabahaya. Anak
mami yang bertahun-tahun hidup dalam kehangatan keluarga itu telah
berulangkali ditangkap polisi, ditahan agen rahasia, dipukul preman,
diserang perampok, dan bersahabat dengan rasa lapar. Ia pernah putus asa
karena kameranya rusak total dan uang bekalnya dicuri orang. Yang paling
buruk, karena sembarangan menginap di rumah orang ia pernah salah mampir di
rumah pelaku kriminal.

Apakah orang tuamu tidak khawatir Gus? O, tentu saja sangat khawatir. Ia
ingat betul pada perjalanan pertamanya ke Mongolia tahun 2002. Setelah tiga
minggu di Mongolia ia menelepon ke rumah dan ibunya menjerit begitu medengar
suaranya.

Tahun 2003 ia terobsesi mengunjungi Afghanistan. Mendengar nama negara itu
saja orang sudah bergidik ngeri karena bayang-bayang kekerasan perang yang
tiada henti di sana. Agus pun pergi diam-diam tanpa memberitahu orangtuanya,
menuju negeri yang identik dengan darah, Taliban, dan perang. Tapi, toh
mereka tahu juga tentang "perjalanan gelapnya" ini. Sekembalinya dari
Afghanistan, ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya.

"Tapi itu dulu, sekarang mereka sudah mulai mengerti. Ayah saya akhirnya
malah bangga memiliki putra seorang pengembara. Tapi, saya tahu di lubuk
hati yang paling dalam mereka berharap suatu saat nanti saya kembali ke
Indonesia, menetap dan hidup normal di sana. Mmmm.....bagian itu, saya belum
bisa menjawabnya saat ini," katanya.

***

Bagi Agus, pada batas tertentu, travelling tidak lagi sekadar menikmati
keindahan pantai, kesejukan udara pengunungan atau kemewahan spa di hotel
berbintang. Bagian terbaik dari travelling adalah ketika kita menemukan apa
yang disebutnya sebagai 'seni mengembara'.

"Itu adalah ketika kita tidak lagi menjadi diri kita sendiri, ketika kita
kehilangan identitas kita, masa lalu kita, ikatan norma masyarakat yang
selama ini mengikat kita, dan pada akhirnya lepas dari jerat-jerat yang
selama ini memasung jiwa kita. Kita menjadi terbuka pada kehidupan dan
menerima apa yang diajarkan oleh kehidupan pada kita. Ketika sampai pada
titik ini, kita akan melihat dunia dengan mata hati yang baru," tuturnya
bijak.

"Bahkan di negeri-negeri terpencil dan terbelakang seperti lekukan gunung
Afghanistan dan padang pasir Pakistan, ada kebijaksanaan maha tinggi yang
bisa dikisahkan orang-orang dari pedalaman yang terlupakan dunia," tambah
dia lagi.

Masih di jalanan dia sekarang, entah sampai kapan. "Cita-cita saya mencapai
Afrika Selatan dengan menempuh perjalanan darat, kalau memungkinkan seratus
persen, melintasi Kaukasus, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Barat,"
ucapnya.

Di pelosok bumi sana, ada negeri-negeri yang hampir tak pernah kita dengar.
Abkhazia, Transdniestr, Ossetia, Nagorno Karabakh. Negara-negara itulah yang
menjadi obsesi Agus. Sampai kapan perjalanan ini akan terus berlangsung?
"Tidak tahu. Saya tidak memberi batas waktu, dan biarlah perjalanan ini
mengalir begitu saja," ungkapnya.

Di Kolom Petualang di Rubrik Travel kompas.com ini Agus menyajikan secuplik
kisah perjalanannya melintasi Asia Tengah, yaitu negara-negara yang semuanya
berakhiran 'stan', mulai dari Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan,
Uzbekistan, hingga Turkmenistan. Kita mungkin merasa asing membaca kisah
tentang tempat-tempat terpencil yang tertutup gunung dan tidak pernah
disebut-sebut dalam peta dunia. Di sana Agus telah menginjakkan kakinya.
Nantikan kisah petualangannya.....

Kirim email ke