Slogan "hirup teh perjalaan" sae pisan, kanggo pribadi2 dinamis. Tapi kumaha mun gaduh Capres bener2 Petualang disagala bidang ? naha nasib rakyat rek dikorbankeun demi petualangan ?
On 1/9/09, tantan hermansah <[email protected]> wrote: > > Dari pada mendukung capres yang slogan kampanyenya: HIDUP ADALAH > PERBUALAN", > Mending dukung Agus dengan slogannya: Hidup adalah Perjalanan. > > Salam > tantan > > > > Agustinus Wibowo > > ***Agus: Karena Hidup Ini Adalah Perjalanan...* > > * > "HIDUP ini adalah sebuah perjalanan. Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup > kita akan selesai. Begitu pula saya tidak tahu kapan petualangan saya ini > akan berakhir. Yang saya tahu, saya masih ingin terus melanjutkan > petualangan saya. Masih ada banyak tempat yang ingin saya kunjungi," ujar > Agustinus Wibowo dalam sebuah perbincangan. * > > Ketika tulisan ini dibuat, Agus, begitu biasa ia disapa, sedang menetap > sementara di Afghanistan. Ia telah hampir tiga tahun melakukan perjalanan > tanpa jeda melalu jalur darat melintasi Asia Selatan dan Tengah. Ia sedang > melakukan "misi pribadinya" keliling Asia, bagian dari cita-citanya keliling > dunia. Perjalanannya dimulai dari Stasiun Kereta Api Beijing, China pada > tanggal 31 Juli 2005. Dari negeri tirai bambu itu ia naik ke atap dunia Tibet, > menyeberang ke Nepal, turun ke India, kemudian menembus ke barat, masuk ke > Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali > Tajikistan, kemudian Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan > Turkmenistan. Ribuan kilometer yang dilaluinya ia tempuh dengan berbaga > macam alat transportasi seperti kereta api, bus, truk, hingga kuda, keledai > dan tak ketinggalan jalan kaki. > > "Saya menghindari perjalanan dengan pesawat. Perjalanan udara menghalangi > saya menyerap saripati tempat-tempat yang saya kunjungi. Menyatu dengan > budaya setempat, menjalin persahabatan dengan banyak orang di tiap tempat, > merasakan kehidupan masyarakat di suatu tempat adalah hal-hal yang tidak > mungkin saya dapatkan jika saya menggunakan pesawat terbang. Selain itu, > uang saya tidak cukup untuk tiap kali naik pesawat..hehehe..." terangnya. > > Agus adalah seorang petualang, pengembara, musafir, seorang backpaker > sejati. Bagi banyak orang, aktivitas travelling murah sebagai seorang > bakckpaker adalah hobi. Bagi Agus menjadi backpaker adalah hidupnya, > napasnya setiap hari. > > Ia memulai perjalanannya dengan bekal 2.000 dolar AS hasil tabungannya > selama kuliah di Universitas Tshinghua, Beijing, Cina. Ketika duitnya habis > ia akan menetap sementara di suatu tempat, bekerja serabutan guna > mengumpulkan duit lagi dan kembali melanjutkan perjalanan. > > "Kebetulan saya suka fotografi. Saya menjual foto-foto saya dan menulis > tentang tempat-tempat yang saya kunjungi untuk saya jual ke beberapa media > di China, Singapura dan Indonesia. Selain itu saya bekerja serabutan sebagai > apa saja untuk bertahan hidup," tuturnya. > > *** > > Agustinus Wibowo lahir di Lumajang, Jawa Timur, tahun 1981 sebagai putra > pertama pasangan Chandra Wibowo dan Widyawati. Lulus dari SMU 2 Lumajang ia > melanjutkan kuliah di Jurusan Informatika Institut Teknologi Sepuluh > November Surabaya (ITS). Hanya satu semester ia di ITS, sebelum memutuskan > pindah kuliah ke Fakultas Komputer Universitas Tshinghua, Beijing, > universitas paling ternama di daratan Tiongkok. > > Sejak kecil ia sudah menyimpan harapan untuk berkelana ke negeri-negeri > jauh. Waktu SD gurunya pernah bertanya tentang cita-citanya. Dengan polos > dia menjawab ingin jadi turis. Gurunya bilang kalau turis itu bukan > pekerjaan, bukan cita-cita. Tapi, Agus terus menyimpan mimpi masa kecilnya > itu. > > Di Lumajang ia tumbuh sebagai anak rumahan, lebih senang menghabiskan > waktunya di kamar membaca buku. Jika harus keluar rumah ia memanggil becak. > "Dulu saya ini malas banget jalan siang-siang, panas. Bahkan, untuk pergi > 400 meter saja saya pasti naik becak," aku dia. > > Semua itu telah berubah. Ia telah mewujudkan mimpinya menjadi seorang > "turis". Anak manis yang malas bertemu panas matahari telah menjadi anak > kehidupan yang tidur berselimut debu jalanan. "Saya berubah dari seorang > kutu buku tidak berguna menjadi seorang musafir yang tahan banting. > Perjalanan mengajarkan saya tentang warna-wani hidup, ragam budaya dan > manusia. Perjalanan ini juga memaparkan pada saya bahwa dunia tidak seindah > yang kita impikan. Hidup ini cantik sekaligus buruk rupa, bahagia sekaligus > muram, berwarna sekaligus kelabu. Saya belajar untuk tidak mengeluh dan > belajar untuk selalu bersyukur atas segala hal yang saya terima setiap > hari," ujarnya. > > Semua perubahan itu dimulai pada tahun 2002. Saat itu, seorang temannya di > Tsinghua menantangnya untuk "backpack" ke Mongolia. Kebetulan pada saat yang > sama ia terinspirasi oleh seorang teman lainnya, cewek Jepang, yang pernah > keliling Asia Tenggara sendirian selama enam bulan. Ia begitu terkagum-kagum > ketika si cewek Jepang-nya itu bercerita bahwa selama perjalanan ia bertahan > hidup dan berkomunikasi menggunakan "bahasa tarzan" karena sama sekali tidak > bisa bahasa Inggris, apalagi bahasa negara-negara ASEAN. > > "Waktu itu saya begitu terpesona oleh cerita petualangan teman Jepang saya > ini. Petualangan yang wah, berani, dan penuh tantangan. Saya jadi bertanya > sendiri, kapan saya bisa begitu? Maka ketika ada teman yang mengajak saya > pergi ke Mongolia saya langsung mengiyakan," tuturnya. > > Ternyata, Agus tidak pernah bisa menghentikan langkahnya sejak saat itu. > "Semakin sering saya travelling sebagai backpaker, semakin dalam > keingintahuan saya tentang hal-hal baru di dunia ini. Tidak hanya sebagai > penonton, tapi terlibat sepenuhnya dengan seluruh pengalaman perjumpaan > dengan masyarakat dan kebudayaannya. Dunia ini tidak seluas daun kelor. Ada > banyak kehidupan lain di luar sana dan ada banyak kebajikan yang kita tidak > pernah tahu sebelumnya," jelas Agus yang karena perjalanannya telah > menguasai bahasa Hindi, Urdu, Farsi, Rusia, Tajik, Kirghiz, Uzbek, Turki, > dan sekarang dalam proses menguasai bahasa Arab, Armenia, dan Georgia. > Selain itu, ia fasih bahasa Inggris, Mandarin, Indonesia dan tentu saja > bahasa Jawa. > > Kemampuannya menguasai berbagai bahasa ini pernah membuatnya hampir cilaka. > Suatu waktu di Afghanistan polisi setempat mencurigai dirinya sebagai > seorang teroris dari Pakistan. Tiba-tiba, tanpa sebab dan alasan, sekelompok > polisi memukulinya dengan garang. Spontan ia berteriak dan memaki. Namun > sial, yang keluar dari mulutnya adalah bahasa Urdu. "Seharusnya saya ngomong > dalam bahasa Inggris, tapi waktu itu spontan yang keluar bahasa Urdu," > cerita dia. Urdu, tak lain dan tak bukan, adalah bahasa nasional Pakistan. > > Tidak cuma sekali dua kali Agus mengalami kejadian-kejadian naas seperti > itu. Seorang pengelana mau tidak mau harus berteman dengan marabahaya. Anak > mami yang bertahun-tahun hidup dalam kehangatan keluarga itu telah > berulangkali ditangkap polisi, ditahan agen rahasia, dipukul preman, > diserang perampok, dan bersahabat dengan rasa lapar. Ia pernah putus asa > karena kameranya rusak total dan uang bekalnya dicuri orang. Yang paling > buruk, karena sembarangan menginap di rumah orang ia pernah salah mampir di > rumah pelaku kriminal. > > Apakah orang tuamu tidak khawatir Gus? O, tentu saja sangat khawatir. Ia > ingat betul pada perjalanan pertamanya ke Mongolia tahun 2002. Setelah tiga > minggu di Mongolia ia menelepon ke rumah dan ibunya menjerit begitu medengar > suaranya. > > Tahun 2003 ia terobsesi mengunjungi Afghanistan. Mendengar nama negara itu > saja orang sudah bergidik ngeri karena bayang-bayang kekerasan perang yang > tiada henti di sana. Agus pun pergi diam-diam tanpa memberitahu orangtuanya, > menuju negeri yang identik dengan darah, Taliban, dan perang. Tapi, toh > mereka tahu juga tentang "perjalanan gelapnya" ini. Sekembalinya dari > Afghanistan, ia dimarahi habis-habisan oleh ibunya. > > "Tapi itu dulu, sekarang mereka sudah mulai mengerti. Ayah saya akhirnya > malah bangga memiliki putra seorang pengembara. Tapi, saya tahu di lubuk > hati yang paling dalam mereka berharap suatu saat nanti saya kembali ke > Indonesia, menetap dan hidup normal di sana. Mmmm.....bagian itu, saya belum > bisa menjawabnya saat ini," katanya. > > *** > > Bagi Agus, pada batas tertentu, travelling tidak lagi sekadar menikmati > keindahan pantai, kesejukan udara pengunungan atau kemewahan spa di hotel > berbintang. Bagian terbaik dari travelling adalah ketika kita menemukan apa > yang disebutnya sebagai 'seni mengembara'. > > "Itu adalah ketika kita tidak lagi menjadi diri kita sendiri, ketika kita > kehilangan identitas kita, masa lalu kita, ikatan norma masyarakat yang > selama ini mengikat kita, dan pada akhirnya lepas dari jerat-jerat yang > selama ini memasung jiwa kita. Kita menjadi terbuka pada kehidupan dan > menerima apa yang diajarkan oleh kehidupan pada kita. Ketika sampai pada > titik ini, kita akan melihat dunia dengan mata hati yang baru," tuturnya > bijak. > > "Bahkan di negeri-negeri terpencil dan terbelakang seperti lekukan gunung > Afghanistan dan padang pasir Pakistan, ada kebijaksanaan maha tinggi yang > bisa dikisahkan orang-orang dari pedalaman yang terlupakan dunia," tambah > dia lagi. > > Masih di jalanan dia sekarang, entah sampai kapan. "Cita-cita saya mencapai > Afrika Selatan dengan menempuh perjalanan darat, kalau memungkinkan seratus > persen, melintasi Kaukasus, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika Barat," > ucapnya. > > Di pelosok bumi sana, ada negeri-negeri yang hampir tak pernah kita dengar. > Abkhazia, Transdniestr, Ossetia, Nagorno Karabakh. Negara-negara itulah yang > menjadi obsesi Agus. Sampai kapan perjalanan ini akan terus berlangsung? > "Tidak tahu. Saya tidak memberi batas waktu, dan biarlah perjalanan ini > mengalir begitu saja," ungkapnya. > > Di Kolom Petualang di Rubrik Travel kompas.com ini Agus menyajikan > secuplik kisah perjalanannya melintasi Asia Tengah, yaitu negara-negara yang > semuanya berakhiran 'stan', mulai dari Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, > Uzbekistan, hingga Turkmenistan. Kita mungkin merasa asing membaca kisah > tentang tempat-tempat terpencil yang tertutup gunung dan tidak pernah > disebut-sebut dalam peta dunia. Di sana Agus telah menginjakkan kakinya. > Nantikan kisah petualangannya..... > > >

