Umumna urang Indonesia, sok reueus lamun aya urang Indonesia boga 
prestasi di luar negeri. Ngan hanjakal pisan di Dunya Islam, ampir 
teu aya ulama-ulama Indonesia nu "diaku" sacara internasional. Rata-
rata urang Islam di Indonesia nu ngacu ka ulama-ulama di luar. Tapi 
sabenerna mah aya ulama asal Banten nu boga reputasi diaku ku ulama-
ulama sejen di luar Indonesia, ulama ieu Sheikh Nawawi Al Bantani 
asal Banten. Nyanggakeun artikelna meunang ti millis tatangga:

Syeikh Nawawi Al Bantani

Para Ulama Makkah pun Berguru kepadanya
(http://finance.groups.yahoo.com/group/mediacare/message/94212)
 
Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah 
tidak perlu diragukan lagi. Melalui karya-karyanya, kira-kira 
mencapai 200-an kitab, ulama kelahiran Kampung Tanara, Serang, 
Banten, 1815 M ini telah membuktikan kepada dunia Islam akan 
ketangguhan ilmu ulama-ulama Indonesia.

Para ulama di lingkungan Masjidil Haram sangat hormat kepada 
kealimannya. Bahkan ketika Syeikh Nawawi berhasil menyelesaikan 
karyanya Tafsir Marah Labid, para ulama Mekkah serta merta 
memberikan penghormatan tertinggi kepadanya. Pada hari yang telah 
ditentukan para ulama Mekah dari berbagai penjuru dunia mengarak 
Syeikh Nawawi mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali sebagai bukti 
penghormatan mereka atas karya monumentalnya itu.

Nama Imam Nawawi begitu dominan, terutama dalam lingkungan ulama-
ulama Syafi'iyah. Beliau sangat terkenal kerana banyak karangannya 
yang dikaji pada setiap zaman dari dahulu sampai sekarang. Nama ini 
adalah milik Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu an-Nawawi yang 
dilahirkan di Nawa sebuah distrik di Damaskus Syiria pada bulan 
Muharram tahun 631 H.

Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seseorang yang bernama Nawawi 
di Tanara, Banten. Nama lengkapnya adalah Syeikh Muhammad Nawawi bin 
Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani. Anak sulung seorang 
ulama Banten, lahir pada tahun 1230 H/1814 M di Banten dan wafat di 
Mekah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi.

Ketika kecil, sempat belajar kepada ayahnya sendiri, kemudian 
memiliki kesempatan belajar ke tanah suci. Datang ke Mekah dalam 
usia 15 tahun dan meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan 
Mesir. Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Imam Nawawi 
mengembara keluar dari Mekah kerana menuntut ilmu hingga kembali 
lagi ke Mekah. Keseluruhan masa tinggal di Mekah dari mulai belajar, 
mengajar dan mengarang hingga sampai kemuncak kemasyhurannya lebih 
dari setengah abad lamanya.

Karena Syeikh Nawawi yang lahir di Banten ini juga memiliki 
kelebihan yang sangat hebat dalam dunia keulamaan melalui karya-
karya tulisnya, maka kemudian ia diberi gelar Imam Nawawi kedua 
(Nawawi ats-Tsani). Orang pertama memberi gelar ini adalah Syeikh 
Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Gelar ini akhirnya diikuti 
oleh semua orang yang menulis riwayat ulama asal dari Banten ini. 
Sekian banyak ulama dunia Islam sejak sesudah Imam Nawawi pertama, 
Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu (wafat 676 Hijrah/1277 
Masehi) hingga saat ini, belum pernah ada orang lain yang mendapat 
gelaran Imam Nawawi kedua, kecuali Syeikh Nawawi yang kelahiran 
Banten (Imam Nawawi al-Bantani).

Meskipun demikian masyhurnya nama Nawawi al-Bantani, namun Beiau 
adalah sosok pribadi yang sangat tawadhu'. Terbukti kemudian, 
meskipun Syeikh Nawawi al-Bantani diakui alim dalam semua bidang 
ilmu keislaman, namun dalam dunia tarekat para sufi, tidak pernah 
diketahui Beliau pernah membaiat seorang murid pun untuk menjadi 
pengikut thariqah. Hal ini dikarenakan, Syeikh Ahmad Khathib Sambas 
(Kalimantan), guru Thariqah Syeikh Nawawi al-Bantani, tidak 
melantiknya sebagai seorang mursyid Thariqat Qadiriyah-
Naqsyabandiyah. Sedangkan yang dilantik ialah Syeikh Abdul Karim al-
Bantani, sepupu Syeikh Nawawi al-Bantani, yang sama-sama menerima 
thariqat itu dari Syeikh Ahmad Khathib Sambas. Tidak diketahui 
secara pasti penyebab Nawawi al-Bantani tidak dibaiat sebagai 
Mursyid. Syeikh Nawawi al-Bantani sangat mematuhi peraturan, 
sehingga Beliau tidak pernah mentawajuh/ membai'ah (melantik) 
seorang pun di antara para muridnya, walaupun sangat banyak di 
antara mereka yang menginginkan untuk menjalankan amalan-amalan 
thariqah.


Guru-gurunya

Di Mekah Syeikh Nawawi al-Bantani belajar kepada beberapa ulama 
terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah 
sebagai berikut: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dimyati, 
Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin 
Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad 
Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh 
Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah 
binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-
Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh 
Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani 
dan lain-lain.


Murid-muridnya

Syeikh Nawawi al-Bantani mengajar di Masjidil Haram menggunakan 
bahasa Jawa dan Sunda ketika memberi keterangan terjemahan kitab-
kitab bahasa Arab.

Murid-muridnya yang berasal-dari Nusantara banyak sekali yang 
kemudian menjadi ulama terkenal. Di antara mereka ialah, Kiai Haji 
Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jawa Timur; Kiai Haji Raden Asnawi Kudus, 
Jawa Tengah; Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin, Banten; 
Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (Sumba, Nusa 
Tenggara); Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki, 
Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan lain-lain. Tok Kelaba al-
Fathani juga mengaku menerima satu amalan wirid dari Syeikh Abdul 
Qadir bin Mustafa al-Fathani yang diterima dari Syeikh Nawawi al-
Bantani.

Salah seorang cucunya, yang mendapat pendidikan sepenuhnya dari 
nawawi al-Bantani adalah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi 
al-Bantani (1285 H./1868 M.- 1324 H./1906 M.). Banyak pula murid 
Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad 
di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di 
antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan Perjuangan 
di Cilegon ialah Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji 
Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. 
Para ulama pejuang bangsa ini adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani 
yang dikader di Mekkah. []

 

Disadur kembali oleh Syaifullah Amin

Kirim email ke