Ceuk kuring mah perkara anu dalungkeun ku Deni ieu, anu kedah janten perhatosan, nyaeta catetan ti penulisna, sareng fokus kana hiji pasualan.
Penjelasanana jentre pisan, mana inti carita, mana subyektivitas penulis, sareng mana komentator ti anu ngalungkeun pasualan. Teu sagawayah nelaah hiji pasualan tina buku sacara sistematis, runtut, fokus sareng jujur bari jeung teu aya maksud "mamatahan ngojay ka meri". Sok lah diantos deui analisis sanesna. baktos, mrachmatrawyani --- On Mon, 3/23/09, Dena <[email protected]> wrote: From: Dena <[email protected]> Subject: [Urang Sunda] Perbandingan Tilu Perang Bubat To: [email protected] Date: Monday, March 23, 2009, 6:24 AM Punten teu di Sundakeun, hapunten kanu parantos uninga. Ieu mah tamba kesel wae daripada maca buku kandel satilu-tilu. ............ ......... ......... ...... Kami tahu kami adalah Kantin Sastra, bukan Kantin Sejarah. Tapi karena perbandingan tiga Perang Bubat ini ditulis dalam fiksi sejarah, maka kami akan mengulasnya di sini. Orang Sunda dan orang Jawa harusnya tahu apa itu Perang Bubat. Perang antara pasukan Sunda dengan pasukan Majapahit di Pesanggrahan Bubat, karena kesalahpahaman. Garis bawahi ini, kesalahpahaman. Pasukan Sunda datang ke Majapahit dengan membawa Putri Dyah Pitaloka untuk menikah dengan Sang Rajasanegara Hayam Wuruk. Kemudian, di Bubat terjadi kesalahpahaman. . Yang sama di antara ketiga versi itu adalah kesalahpahaman yang menyebabkan terjadinya Perang Bubat. Tadinya, tidak ada niat sama sekali untuk berperang antara Sunda dan Majapahit. Tapi karena ada kesalahpahaman, terjadilah perang yang tragis itu. Kesalahpahaman di tiga versi ini sama: Majapahit menganggap Pitaloka sebagai putri upeti, sedangkan Sunda membela harga diri mereka sebagai negeri yang sejajar dengan Majapahit karena Sunda tidak pernah mengaku menjadi negara bawahan Majapahit. Semuanya dimulai dengan ejekan sepele yang berakhir dengan salah satu perang paling tragis dalam catatan sejarah Indonesia. Fiksi sejarah menarik untuk dinikmati, dan walaupun detail-detail sejarah di sana bisa dipakai sebagai informasi, tapi sebaiknya tidak terlalu menjadi referensi. Karena, dalam menulis sebuah sejarah menjadi fiksi, pengarang pastilah sudah memasukkan unsur-unsur subjektivitas serta original character & plot untuk menjadikannya sastra. Sebenarnya ada satu versi Perang Bubat lagi yang mungkin bisa ditambahkan, yaitu karya Tasaro dalam bukunya trilogi Pitaloka. Sayangnya, baru buku pertama saja (Pitaloka: Cahaya) yang sudah terbit, sedangkan dua buku lain (Pitaloka: Mahkota dan Pitaloka: Nirwana) belum terbit-terbit juga. Padahal, seharusnya di Pitaloka: Nirwana itulah Perang Bubat diceritakan. Kalau kita mau membahas perbedaan karakter antara tokoh2 sejarah menurut para penulis fiksi sejarah tersebut, pasti juga akan sama menariknya. Karena karakter tokoh Gajah Mada, Pitaloka, Hayam Wuruk, dll juga ditulis berbeda-beda oleh masing2 pengarang. Tapi karena post ini kami khususkan kepada perbandingan Perang Bubat, jadi mungkin sampai di sini saja. Sejarah memang akan lebih menarik untuk dibaca jika ditulis secara fiksi, tetapi jangan menjadikannya referensi. (A/N: Maaf kalau ada yang salah2 dalam post ini, sebab saya membaca Gajah Mada#4 dan Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit sudah lama. Kalau yang versi ketiga, saya cukup yakin karena bacanya baru selesai kemarin.) tina: http://shokodouofsa stra.multiply. com/journal/ item/31/Perbandi ngan_Tiga_ Perang_Bubat

