Indonesia, salah sahiji Nagara di Asia nu bisa ngahasilkeun para Taipan nu 
kacida beungharna di Dunya. Biasana para Taipan ieu warga Katurunan Cina. 
Maranehna jalma tekun jeung bisa ngamanpaatkeun kaum pangawasa hiji nagara. Aya 
buku terjemahan nu ngabahas ieu, judulna teh "ASIAN GODFATHERS (Menguak Tabir 
Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa), karangan : Joe Studwell, pamedal
Alvabet. Ieu resensina tina Republika, 30 Maret 2009:


Bagaimana para taipan Cina menjadi orang terkaya? Mengapa pula mereka perlu 
memiliki budak kepala?

Oie Tjong Ham adalah orang terkaya di Indonesia yang tinggal di Semarang, Jawa 
Tengah. Pada masa kolonial dia ditunjuk sebagai Majoor bagi orang Cina 
Semarang. Dia berhasil melipatgandakan kekayaan ayahnya yang memang sudah 
sangat besar. Pola yang diterapkannya dengan metode diversifikasi bisnis.

Dia mendapatkan uang tetap dari opium lalu menggunakannya untuk membesarkan 
usaha dibidang yang lain. Beberapa di antaranya pendirian industri gula, pabrik 
penggilingan, dan juga usaha perkebunan. Oleh Joe Studwell dalam bukunya Asian
Godfathers: Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa, ia disebut 
sebagai salah satu godfather besar di Asia.

Joe menuliskan, para pemimpin usaha yang kaya-raya kebanyakan berasal dari 
Cina. Hal ini berkaitan dengan migrasi besar masyarakat Cina pada abad ke-19. 
Ada banyak catatan yang mengatakan bahwa pergolakan dari perang saudara yang 
terjadi di negara tersebut membuat sebagian besar penduduknya bermigrasi ke 
luar negeri.
Kemudian dengan dukungan teknologi perkapalan yang semakin canggih, masyarakat 
Cina ini akhirnya sampai ke beberapa daerah di Asia Tenggara, seperti Malaysia, 
Singapura, Thailand, atau Indonesia. Populasi imigran Cina paling banyak 
terdapat di Indonesia dengan jumlah sekitar 23 juta jiwa saat itu.

Kebanyakan mereka memulai usaha dengan dibantu oleh sanak kerabat yang sudah 
lebih dulu merantau ke Indonesia atau negera yang lain. Lebih khusus di 
Indonesia, posisi ekonomi mereka menjadi semakin kuat ketika kolonialisme 
Belanda menguasai negara dengan lima pulau besar itu.

Oleh Belanda, peran kunci ekonomi diserahkan kepada orang Cina. Mereka adalah 
pengumpul segala jenis pajak dan juga melakukan monopoli usaha. Seperti pajak 
penjagalan atau hak untuk mengoperasikan pasar-pasar berlisensi. Tapi, pajak
terbesar didapatkan dari manufaktur dan juga penjualan opium. Belanda juga 
memuliakan sebagian orang Cina yang loyal dengan Kolonial itu. Tidak 
mengherankan jika segelintir orang tersebut akhirnya berkembang menjadi 
godfather.

Istilah godfather, menurut Joe, memang diambil dari hasil karya Mario Puzo. 
Sebuah istilah yang merefleksikan tradisi paternalisme, kekuasaan 
laki-laki,penyendirian, dan mistik yang benar-benar menjadi kisah para taipan 
Asia. Seperti halnya yang telah dibuat oleh Mario Puzo, para godfather Asia 
juga terlibat dengan berbagai tindak kecurangan ekonomi, seperti penyelundupan 
dan
terkoneksi erat dengan perjudian. "Tapi, bukan berarti mereka adalah bos-bos 
mafia," tulis Joe.

Di Indonesia, para taipan atau godfather ini tidak mengalami masa yang indah 
pada zaman Sukarno. Beberepa aset mereka diambil-alih oleh negara. Namun, 
ketika terjadi pergolakan politik berdarah pada tahun 1965, Soeharto kembali 
membuka keran-keran ekonomi bagi mereka. Presiden kedua itu juga mampu 
menggunakan kekuatan ekonomi untuk mendukung sisi-sisi militer.

Sehingga, munculah nama Liem Sioe Liong yang sudah mengenal Soeharto pada 1950 
karena beberapa transaksi komersil. Selama perang melawan Belanda, Liem dan 
saudara-saudaranya menyediakan modal untuk tentara Republik. Dua hal inilah 
yang kemudian membuatnya dekat dengan beberapa perwira tinggi, sehingga dia 
menerima monopoli impor cengkih secara total. Tidak berhenti di situ, Liem juga 
melakukan
diversifikasi ke industri semen, gula, tepung, dan kopi. Proses ini membuktikan 
adanya imbalan hubungan antara kekuasaan politik dan pengusaha Cina.

Buku setebal 387 halaman ini tidak hanya mengulas tentang sejarah bagaimana 
para taipan Asia dapat menguasai perekonomian di wilayah Singapura, Malaysia, 
Thailand, Indonesia, Filipina, dan Hong Kong. Di bagian kedua, Joe 
mengungkapkan bagaimana seorang individu mulai melebarkan jaring-jaringnya 
untuk menjadi seorang godfather.

Pekerja Keras

Sebenarnya tidak mengherankan jika orang-orang Cina bisa mendapat sebutan 
godfather dalam perkonomian Asia. Mereka berasal dari kaum yang mau bekerja 
keras. Seperti taipan terkaya di Asia yang hidup di Hong Kong, Li Ka-Shing. Dia 
datang di Hong Kong tanpa uang sepeser pun, tetapi mampu membangun usaha yang 
besar. Dia bahkan harus meninggalkan sekolah pada umur 15 tahun karena harus
memikul tanggung jawab ekonomi keluarga.

Tapi, bukan sekadar bekerja keras, para godfather ini juga memiliki cara-cara 
tertentu untuk bisa mengakselerasi kedudukannya menjadi yang paling tinggi. 
Misal, dengan menikahi putri bosnya, seperti yang dilakukan oleh Lee Kong Chian 
dari Singapura. Setelah menikah, dia menjadi sejahtera selama tujuh tahun dengan
menjadi bendahara mertuanya yang juga merupakan atasannya. Kemudian dia mulai 
membangun perusahaanya sendiri dengan modal yang sudah didapatkannya itu.

Para godfather ini juga sangat ahli dalam menjaga kerahasiaan. Mereka bahkan 
enggan berurusan dengan media. Orang-orang seperti Quek Leng Chan dari Malaysia 
merupakan taipan yang besar, namun citranya sengaja dibuat kabur di depan 
publik. Ada pula Kwek Leng Beng, sepupunya, yang sangat berhati-hati dalam 
memilih kata-kata. Dia tidak akan mengeluarkan pernyataan kecuali yang sudah
disiapkannya.

Lalu untuk menjaga keutuhan bisnis besar yang telah didiversifikasi, mereka 
tentu menjaga sebuah aliran pokok uang yang bisa diibaratkan sebagai gunung es 
emas yang meleleh perlahan. Biasanya mereka menggunakan kekuatan monopoli atau 
oligopoli untuk memastikan uang tetap berada pada tempatnya. Seperti halnya 
Stanley Ho yang mendapatkan monopoli Makau dalam segala bentuk perjudian pada
1961, atau Liem Sioe Liong yang memegang monopoli impor cengkih di Indonesia.

Angkat Budak Kepala

Untuk menghasilkan uang yang sangat banyak tentunya seseorang harus 
menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk bekerja. Tetapi, waktu kerja para 
godfather ini berbeda dengan eksekutif besar lainnya. Mereka menjalankan 
pekerjaanya selayaknya gaya hidup, seperti bermain golf dan bertemu kolega baru 
untuk menjalin bisnis baru, atau atau pergi ke tukang pijat untuk melemaskan 
diri.

Untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan berat mereka menggunakan seseorang yang 
bisa disebut sebagai budak kepala. Orang seperti ini memiliki gaji yang sangat 
tinggi, lalu karena kedekatannya dengan godfather, orang-orang ini bisa menjadi 
sangat setia. (kim)

************************

Jelaskan Juga Sebab-Akibat

Meski penuh dengan istilah-istilah yang kurang dimengerti oleh orang awam, 
pengalaman Joe Studwell menjadi jurnalis di kawasan Asia membuatnya mampu 
mengalirkan cerita yang jelas dan rinci tentang para godfather ini. Penjelasan 
tidak hanya berhenti pada unsur sejarah, tetapi juga pada sebab akibat yang 
membuat mereka menempati posisi tinggi tersebut. Joe tidak hanya menyebutkan 
para cukong dari etnis Cina, tetapi juga para godfather asli Indonesia, seperti
Aburizal Bakrie atau keluarga Kalla. (kim)

_________________________________

DATA BUKU

Judul : ASIAN GODFATHERS (Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa)
Penulis : Joe Studwell
Genre : Ekonomi
Penerjemah : Yanto Musthofa
Editor : Julie Indahrini
Cetakan : I, Maret 2009
Ukuran : 15 x 23 cm (plus flap 8 cm)
Tebal : 432 halaman
ISBN : 978-979-3064-63-5
Harga : Rp. 85.000,-

Kirim email ke