Baraya.... munkitu,jelas-jelas eta marangkeuluk anu balucitreuk teh aya 
dua ka hoyong      ;  
       < kahiji tos alim peurcanteun ka NKRI
       <ka dua tos alim deudeuh ka rahayat INDONESIA 
       Abdi mah malah tambih cangcaya kana janji sareung misi dan visi na,nya 
ayaberkah na atuh maraneh na eleh,pan tambih ka tingali 
       eusi peujit na weulang tur weuling teh,nyariosna GENTLE MAN tapi geuning 
tue tiasa nampi kana nasib anu tos eleh....................

                   


                                                   


________________________________
From: Yuliadi <[email protected]>
T   o: [email protected]
Sent: Tuesday, April 21, 2009 10:15:47 AM
Subject: RE: [Urang Sunda] Eling ..ah...eling!

  


Maca beja dina Tempointeraktif, cenah Mega jeung Wiranto ngancam rek
ngaboikot Pemilu Presiden. Beu .... atuh ari kieu mah, lain tindakan alus,
malah bisa ngabahayakeun kastabilan Indonesia.

Ulah kitu atuh Ibu, sim Abdi alim nagara abdi jadi siga Thailand!

Megawati dan Wiranto Ancam Boikot Pemilu Presiden
Selasa, 21 April 2009 | 07:46 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Wiranto
mengancam akan memboikot pemilihan presiden jika pemerintah dan penyelenggara
pemilihan tak segera membenahi kecurangan dalam proses pemilihan legislatif.
"Kami pertimbangkan untuk tidak melakukan partisipasi dalam pemilu
presiden," kata Wiranto setelah bertandang ke rumah Megawati di kawasan
Menteng kemarin.

Wiranto menjelaskan, sejumlah partai politik saat ini menuntut pemerintah dan
Komisi Pemilihan Umum bertanggung jawab atas ketidakberesan dalam pemilu 9 April
lalu. Isi tuntutan antara lain meminta para pejabat Komisi Pemilihan Umum
mundur, mendesak adanya tindakan hukum atas dugaan kecurangan, serta melibatkan
lembaga internasional dalam pengawasan pemilihan. 

Menurut Wiranto, draf gugatan itu kini sedang dalam proses penyelesaian dan
akan segera siap dalam dua hari ke depan. "Kami khawatir, jika ini tidak
dikonkretkan, akan mencederai pemilu berikutnya," kata Wiranto.
"(Kami) pasti akan menggugat."

Sebelum menemui Megawati, kemarin Wiranto mengumpulkan perwakilan dari 21
partai politik peserta pemilu legislatif yang kecewa dan merasa dirugikan.
Pertemuan itu, katanya, adalah tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya di
kediaman Mega.

Megawati sendiri tak bisa dimintai konfirmasi karena ia tak menemui wartawan
yang menunggu di luar rumahnya. Sejumlah petinggi PDI Perjuangan juga tak dapat
dimintai tanggapan.

Anggota Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana berpendapat
pemerintah bisa mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang
sebagai persiapan jika pemilihan presiden mendatang hanya diikuti satu pasangan
calon. "Dalam kegentingan yang memaksa, itu bisa jadi jalan keluar,"
ujarnya. "Prinsipnya, tidak boleh ada kekosongan kekuasaan kepresidenan. "

Direktur Eksekutif Centre for Electoral Reform Hadar Navis Gumay menilai
ancaman boikot hanya akan merugikan kelompok Megawati dan Wiranto sendiri. Ia
ragu terhadap kemampuan para tokoh itu mengontrol dan memastikan para
pendukungnya sendiri ikut memboikot.

Kalaupun Mega dan Wiranto melakukan boikot dan mengajak semua pendukungnya,
kata Hadar, pemilihan presiden tetap akan dilanjutkan dengan syarat minimal ada
dua pasangan calon presiden. "Kalau ternyata tingkat partisipasi warga
tetap tinggi, berarti yang bermasalah hanya elitenya."

Ketua DPP Partai Demokrat Andi Mallarangeng mengaku tak ambil pusing terhadap
ancaman boikot Wiranto dan Megawati. "Semua orang memiliki hak yang sama,
dan kami tidak mau mengurusi calon presiden lain," kata juru bicara
kepresidenan ini.

Pemimpin Partai Demokrat lainnya, Ruhut Sitompul, mengatakan ancaman boikot
semacam itu hanya menunjukkan ketakutan mereka menghadapi tingginya popularitas
Susilo Bambang Yudhoyono. "Janganlah kalah sebelum berperang,"
katanya. "Sikap itu merugikan mereka sendiri, karena rakyat akan semakin
tak bersimpati kepada keduanya."

DWI RIYANTO | GUNANTO ES. | TITO SIANIPAR | TOMI ARYANTO







      

Kirim email ke