hmm lieur nya mana nu bener mana nu salah , 

nu salah mah nu teu bener 
nu bener nu teu salah 
ceuk cenah ieu bener itu bener .
ceuk nu bener maneh salah
ceuk nu bener can tangtu bener
ceuk nu salah ngaku bener
ceuk nu bener moal ngaku salah

ceuk kuring mah pelm di indonesia mah, masih plagiator. Sanajan alus ge. 
Sok komo kuer hype na jurig miluan jurig, keur usumna bodor miluan bodor keur 
usumna cinta usum cinta sok.

Tah mun bisa mah memeh nyieun pelm samodel kitu teh kudu di gali heula jero2 
atawa ditalungtik heula sok komo mun leuwih ti satahun mah, beda jasa jeung 
pelm2 nu ti luar.

Muereun pelm2 samodel kitu teh waragadna kurang, sdm na kurang jadi wayahna weh 
saaya aya, atawa kejar tayang atawa oge aya unsur hayang narik parhatian kawas 
pelm Gajah Mada nu tempatna rek dijieun di bogor tea.

Tah sok kumaha atuh, ulah pa dia-dia ulah sok paiang aing, geus teu jamanna 
neangan kajayaan ku cara cepet kawas kitu patut. 
Cikan atuh mun arek nyieun model pelm kitu kudu asak2 heulakudu dirundingkeun 
bisi aya nu kasabit2 jadi weh loba nu parasea nu antukna mamawa suku engkena 
komo agama mah..

Ih sararieun sok kom rek pamilu tea. Kahade ah...

Geus ach ngacaprakna
"rek nyumput lain tinu buni, 
 da mun nyumput wae iraha katingalina. 
 Cenah geus wayahna mana atuh 
 lain hudang euy wae geus kudu nindak, 
 ulah nunggu waktuna geus sariap 
 da waktu mah moal balik deui, 
 mana atuh geura nindak 
 ulah euceuk jeung cenah 
 geus teu jamanna , 
 mun ceuk basa baturmah 
 ngalooping deui ngalooping deui ..."

Wassalam






--- On Tue, 5/5/09, Bobotoh Milan <[email protected]> wrote:

From: Bobotoh Milan <[email protected]>
Subject: Re: [bobotoh] bodohnya... bodohnya......
To: [email protected]
Date: Tuesday, 5 May, 2009, 3:42 PM











    
            
            


      
      Terlampir pernyataan resmi dari pihak Bagolakon Pictures.



Kaka Gugun


2009/5/4 Eko maung <tigers_nova@ yahoo.com>


















    
            
            


      
      
Telah terjadi peristiwa yang cukup besar efeknya terhadap imej dan cara pandang 
publik terhadap mutu barudak Bandung secara keseluruhan (termasuk didalamnya 
komunitas PERSIB). Yaitu mengenai insiden yang melibatkan para pengurus Viking 
dan tim pembuat film romeo-juliet, insiden tersebut terjadi di Paris Van Java 
pada hari jumat yang lalu. Semua bermula dari substansi film romeo-juliet yang 
sangat tendensius dan cenderung memojokkan Bandung, dari mulai mental wanita 
Bandung yang murahan hingga para bobotohnya yang barbar, sangat wajar pula jika 
barudak Bandung, termasuk para bobotoh (baca viking.red). Maka setelah 
bersepakat dengat para budayawan dan para pemerhati film, sekelompok anak-anak 
Bandung mempertanyakan kualitas dan etika serta filosofis film romeo-juliet, 
tim pembuat film (terutama sutradara dan penulis skenario) dianggap tak 
memahami secara kultural
 dan historis mengenai konflik yang dimunculkan dalam film tersebut, dan 
celakanya lagi sang sutradara yang secara territorial dan kedekatan justru 
lebih dekat dengan salah satu pihak dalam film itu, yaitu anak-anak jakmania, 
sehingga wajar jika opini dan alur cerita pun banyak dipengaruhi oleh anak-anak 
Jakarta. Namun justru film dengan segala kekurangannya ini tidak begitu menarik 
perhatian warga Bandung, tak ada antrian dan animo berlebih dari barudak 
Bandung untuk menyaksikan film ini, dan setelah seminggu setelah penayangannya 
film ini pun tetap sepi-sepi saja dari pembicaraan.


Nah disaat keadaan sudah biasa seperti ini sesungguhnya semua kegerahan yang 
dirasakan komunitas Bandung itu sebenarnya mulai menyejuk, disisi lain keadaan 
seperti ini justru tak menguntungkan bagi pihak pembuat fim, karena pada awal 
membidik isu perseteruan supporter yang salah satu kelompoknya berasal dari 
kota Bandung mereka tentu mengharapkan film ini dapat booming
 dan “menggoda” untuk mengundang minat anak-anak Bandung. Lalu entah bagaimana 
caranya tiba-tiba pertemuan antara pihak pembuat film dan komunitas Bandung 
yang berkeberatan yang rencananya dialogis terkait film tersebut tiba-tiba 
berujung ricuh, dan celakanya anak-anak Bandung seakan tidak menyadari bahwa 
mereka memakan umpan para pembuat film, seseorang berinisial U(dari tim pihak 
pembuat film) yang mengaku sebagai korban dari insiden tersebut langsung 
menyebar secara subjektif mengenai apa yang terjadi terhadap dirinya, celakanya 
lagi U adalah orang yang dikenal cerdik, licik dan cukup intelek untuk mengemas 
sebuah konflik menjadi tombak tajam untuk membunuh lawan mainnya, hampir semua 
perkataan lawan bicaranya dapat ia pelintir dan diputarbalikkan. Dengan 
retorika handal dan relasi media yang kuat (terutama di ibukota), U mulai 
menyiapkan langkah berikutnya, berita ini menyebar dengan cepat, tentunya 
seluruh kronologis pun diceritakan menurut
 versi U, respon pun bermunculan beberapa jam kemudian, seorang kawan dari 
televisi nasional pun langsung mengonfirmasi penulis mengenai insiden tersebut 
dan langsung tertarik untuk menjadikannya sebagai isu liputan, dari sini saja 
maka apa yang diinginkan U sudah mulai tercapai, yaitu film yang sebenarnya 
kurang bermutu ini menjadi pembicaraan banyak orang dan membuat banyak orang 
menjadi penasaran, ibarat seorang artis murahan dan tidak berkualitas yang 
menjadi terkenal dan diekspos media justru karena skandal-skandal diluar dunia 
akting.


Mendengar paparan dari beberapa orang kawan bahwa insiden secara fisik memang 
dipicu oleh salah seorang anak Viking, maka penulis semakin tergelitik dan 
berpendapat bahwa anak-anak Bandung telah kalah secara strategi dan kematangan, 
saat U cs yang mengandalkan taktik, retorika, argument serta otak dingin justru 
dihadapi oleh anak-anak Bandung yang temperamen, kurang cerdas, mudah emosi dan 
tak memiliki
 kemampuan untuk membaca situasi serta keadaan, hal ini diperparah disaat 
barisan intelek dan pemikir yang menyertai mereka saat pergi ke Blitz megaplex 
di PVJ justru memilih pulang lebih dahulu sebelum insiden tersebut terjadi, 
padahal diantara mereka yang pulang lebih dulu itu terdapat nama-nama barudak 
Bandung yang dikenal cerdas, serta matang dalam bertindak dan memegang forum 
serta mamanage konflik seperti ini, sebut saja Gustaff, menantu Prof. Himendra 
Wargahadibrata, direktur commonroom dan panutan bagi komunitas kreatif Bandung. 
Maka dapat dibayangkan apa yang terjadi, dengan berkorban sedikit memar dan 
pecah kacamata, kini U cs sukses memegang kendali, apa yang mereka inginkan 
tercapai, meski jujur saja bahwa film yang mereka buat memang tidak berdasar 
dan terlalu mengada-ngada serta sangat memojokkan Bandung dari sudut pandang 
yang terlalu “jakmania”, namun toh sejak jumat yang lalu film itu semakin 
banyak dibicarakan oleh
 media.

Terbayang apa yang U obral disana, setelah menjatuhkan imej mojang Bandung 
dalam film (dia pernah mengatakan bahwa cewek Bandung memang murahan, kenal jam 
12 siang maka maghribnya sudah bisa diajak tidur-meski beberapa mungkin iya, 
terutama perempuan bermental labil & grupis, namun tetap saja judgement seperti 
itu tak dapat diterima oleh masyarakat Bandung yang menjunjung adat dan budaya, 
bahkan mojang-mojang yang asli Bandung dan berdarah sunda cenderung konservatif 
dan menabukan hal-hal erotis), kemudian gambaran kasar dan barbar bobotoh 
melalui ekspresi ucapan kasar bobotoh difilm itu (pembuat film tak pernah 
mempelajari bahwa kata “anjing” yang biasa kita dengar dikota kembang 
intonasinya tidak sarkas dan sama sekali tidak beresensi menghina serta 
melecehkan orang, konteksnya cenderung akrab dan heureuy, sungguh berbeda 
dengan apa yang yang terucap dari mulut alex komang dkk difilm itu, kata 
“anjing” benar-benar
 mencerminkan sang pengucap tidak beradab dan berbudaya).

Maka kini U mungkin dapat berkata “tuh kan bener apa kata gue, sama ama yang di 
film, mereka emang preman, biasanya maen pukul, padahal udah gue ajak dialog” 
kepada orang-orang dan media diluar sana. Maka untuk kedepannya, separah apapun 
kita dipojokkan dan meski yang memojokkan kita itu adalah orang-orang busuk dan 
jahat, namun tetap untuk menyelesaikannya perlu kita pilih orang-orang yang 
tepat, orang-orang yang tak mudah terkena settingan pihak lain dan tidak lugu 
serta polos dengan ”memakan umpan”, namun kini semua telah terjadi, dihadapan 
beberapa komunitas (komunitas pecinta film, komunitas sepakbola luar Bandung, 
komunitas pemerjuang kebebasan berekspresi, komunitas media dll), yang tengah 
mereka bicarakan adalah sebuah kota dimana banyak terdapat sekolah berkualitas 
dan perguruan tinggi favorit serta banyak melahirkan pemikir serta orang-orang 
kreatif, namun ternyata para
 pemudanya dapat dengan mudah dikendalikan… padahal semua itu telah kita sikapi 
dengan benar pada awalnya, yaitu dengan bersikap……biasa saja……





      
 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




-- 
bobotohmilan. blogspot. com


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke