supaya saimbang, kudu aya klarifikasi ti singgih. ieu jawabanana di facebook.
catetan: singgih lulusan desain produk itb. lanceuk kelas si kuring (86). ngan si kuring mah desain interior (88) ----- Terima kasih, atas pencermatan dalam artikel tersebut. Hehe membingungkan ya? Saya sendiri bingung juga, bagaimana harga wholesale dan harga end retail dicampur dalam tulisan tersebut. Setiap kali di wawancara media, saya sering khawatir ada kesalahan penulisan fakta. Dan hal tersebut sering terjadi, oleh karena itu sekarang saya selalu meminta draft tulisan, agar saya bisa check data2 yg tertulis sesuai kenyataan dan tidak membingungkan pembaca. Dalam perdagangan international ada beberapa tingkatan harga : -Harga dari saya ke distributor disebut harga wholesale -Harga dari distributor ke retailer disebut harga distributor, distributor menjual ke Toko sekitar 2x harga wholesale -Harga Retail (harga di toko atau harga konsumen) Toko menjual harga ke konsumen 2x harga distributor. Saya menjual WR01A-2B ke distributor di USA, Jerman dan Jepang dengan harga US$ 47.5, distributor menjual ke retailer/toko 2x47.5 = 90 (bisa lbh, bisa kurang, tergantung distributor akan mengambil margin brp, tapi rata-rata distributor hanya mengambil margin 30%, karena mereka menanggung biaya pengiriman, asuransi, tax masuk). Retailer menjual dengan harga US$ 90x2= US$ 180. Di bbrp toko di luar menjual dengan harga US$ 200, ini karena harga distributor 2xlebih dari harga wholesale. Toko mengambil margin 100% karena mereka hanya menjual sedikit, dan menanggung resiko rugi jika barang tidak laku. Jadi benar saya menjual keluar negeri dengan harga lebih rendah, karena saya tidak bisa menjual langsung ke konsumen. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan nasionalis maupun tidak, karena rantai perdagangan memang spt itu. Kalau saya menjual secara online, saya bisa menjual dengan harga end retail, karena saya langsung berhubungan dengan konsumen. Jadi kalau dibandingkan harga harga end retail dalam negeri (Rp.1.25jt) dan end retail luar negeri (US$ 180 s.d US$200) masih jauh lebih mahal harga end retail luar negeri. Ketika saya menyusun harga dalam negeri, saya juga sdh memperhitungankan agar harganya lebih murah dari harga end retail di luar negeri, karena saya ingin agar bangsa sendiri bisa ikut memiliki. Namun saya juga tidak bisa menjual dengan harga wholesale, karena saya juga punya outlet di dalam negeri. Mereka juga mengambil profit dari penjualan tersebut. Selain itu, ada juga online shop yg disetup oleh rekan saya. Meski menyasar pasar dalam negeri, online shop sifatnya international, jadi saya juga menjaga harganya tidak terlalu jauh dari pasar end retail luar negeri, agar para buyer saya tidak protes. Begitulah kira2 penjelasan saya. Saya sendiri memang mendapatkan profit yg lebih besar dari dalam negeri, namun pasar dalam negeri memang tidak besar, hanya sekitar 5% dari total output produksi per bulan. Untuk pasar ASEAN, Australia dan New Zealand saya set dengan pola baru. Tidak dengan pola distributorship, namun saya langsung menjual ke Shops/Retailer, sehingga saya bisa menjual dengan harga distributor (2xharga wholesale). Selain menjual ke Retailer saya juga akan menjual langsung ke konsumen dengan harga end retail (4xharga wholesale include biaya kirim) melalui penjualan online. Sekarang ini orang dari Malaysia, Singapura, Australia dan New Zealand jika membeli langsung akan mendapat harga yg hampir sama dengan harga end retail di wilayah dunia yg lain. Sebenarnya jika pihak wartawan mau mengkonfirmasikan kembali ke nara sumber atau membuat sistem recheck data2 yg tertulis, kesalahan dan kebingungan spt dalam tulisan di Kompas bisa dihindari. Saya ingat, ketika di wawancara majalah Metropolis Magazine (USA), sebelum naik cetak ada bagian staf lain (bukan penulis) yang mengirimkan email berisi check list ttg fakta2 yang ada dalam tulisan yg bakal dimuat. Saya pikir, itu sistem yg baik sekali, karen narasumber tidak mencampuri bentuk tulisan/isi, narasumber hanya berkepentingan dengan fakta/data/pernyataan yang disampaikan dan dijadikan acuan jurnalis untuk menulis artikel. Semoga tulisan di atas cukup memberikan penjelasan. Salam, Singgih S. Kartono --- In [email protected], tantan hermansah <sariak.lay...@...> wrote: > > Basa ninggali TV. Jorojoy hayang apal naon radio kai teh. > Ti dinya, kuring bet jadi nulis kieu. > > Salam > Tantan > > > Radio Kayu; sebuah kritik > > Melihat tayangan �Kick Andy� minggu ini, saya sangat tertarik dengan > salah satu temuan Singgih S Kartono, yakni Radio Kayu. Bahkan jika > melihat penciptanya, Radio Kayu ini mencerminkan banyak hal: Spirit, > Keindahan, Pengabdian, dan (tentu saja) ekonomi. > Saya pun mencoba mencari artikel tentang Radio Kayu ini di internet. > Salah satu artikel yang saya baca adalah kompas. Laman yang saya > temukan adalah: > http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/14/01031393/singgih.radio.kayu.dan.kehidupan. > Saya pun menelusuri helai-helai kalimat yang disajikan oleh Kompas. > Artikel ini sangat inspiratif. Berikut kutipannya: > �Singgih adalah sosok yang mewakili berkembangnya kesadaran bahwa > batas negara dan daya tarik kota besar makin tak relevan sebagai > determinan berkembangnya industri kerajinan. Internet memungkinkan > Singgih memasuki pasar dunia.� > Akan tetapi ketika memasuki paragraf bawahnya, terdapat kalimat berikut: > �Radio kayu buatan Singgih bermerek Magno lebih banyak diekspor ke > Jepang, Jerman, dan AS. �Saya kirim 300-400 unit radio ke Jepang > setahun. Pasar di Jerman baru kami tembus. Harga per unit 49-56 dollar > AS, tapi di Jepang dijual 17.500 yen dan di Jerman 160-240 euro. Di > dalam negeri saya jual Rp 1,1 juta-Rp 1,3 juta per unit. Agak mahal, > karena ini benda koleksi yang personal, bukan komoditas,� katanya.� > Ada yang membuat saya tergelitik dari artikel ini, yang kemudian > menghancurkan seluruh kekaguman saya kepada Singgih sang pencipta > Radio Kayu. Mari kita lihat perjelas kata-kata berikut: > Pertama, Singgih menjual Radio Kayu di luar negeri jauh lebih murah > daripada di dalam negeri. Saya tidak mengerti motivasi di baliknya. > Mari kita hitung: Harga Radio Kayu di luar negeri hanya berkisar > antara Rp. 539.000 sampai dengan Rp. 616.000 saja (dengan asumsi > dollar Rp.11.000). Sedang di dalam negeri ia menjualnya 1,1 juta > sampai 1,3 juta per unit. Jadi Singgih menjual barangnya itu setengah > dari harga di pasar lokal. > Kedua, dilihat dari sisi alasan, Singgih mengatakan: �karena ini benda > koleksi personal, bukan komoditas� pada kalimat di atas menandakan > bahwa Singgih tidak atau sangat kurang cinta Indonesia. Bahkan dengan > kalimat itu dan praktik yang dilakukannya, menandaskan bahwa Singgih > tidak termotivasi menjadikan produknya agar dicintai bangsa ini. Sebab > dengan disparitas yang luar biasa ini, Singgih tengah menjebakkan kita > pada suatu kubangan logika lama bahwa jika ingin membeli produk bagus > nan murah, belilah di luar negeri!�seperti yang selama ini sering > dibuktikan para pelancong ke luar negeri. > Ketiga, sejatinya, Singgih sah-sah saja mengkapitalisasi hasil produk > dia guna kepentingan ekonomi bangsa ini. Terlebih lagi produknya > sangat kompetitif. Namun dengan praktiknya seperti ini, Singgih justru > tengah....entah apa sebutannya, ketika ia justru lebih besar > mengkapitalisasi dari bangsa sendiri, di mana pohon-pohon yang > dipergunakan untuk radionya itu tumbuh. > *** > Tadinya, saya berniat memiliki koleksi Radio Kayu yang sangat > �nasionalis� ini. Mendengar harga di luar, saya sudah menyiapkan > harga kira-kira sama dengan harga dollar tersebut. Sayang begitu > menemukan data di dalam negeri yang sangat �ajaib� ini, niat saya jadi > saya urungkan kembali. Jangan-jangan, harga itu belum termasuk biaya > kirim ke rumah. Sedang untuk orang luar negeri, harga itu sudah sampai > di kamar. Biarlah, saya beli produk lokal yang lain, meski bukan dari > kayu. > Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk melakukan pendiskreditan. Saudara > Singgih bisa dan sah beralasan bahwa masalah ini sudah menjadi wilayah > bisnis, atau apa saja. Tapi bagi saya, kelakukan seperti itu jelas > tidak bisa saya terima. > >

