Karawang sebelum menjadi Lumbung beras di Jawa
Barat,adalah sebuah daerah kerajaan yang dipenuhi rawa, semak belukar dan hutan
belantara.
Sekitar Abad ke 2 Masehi, di daerah ini pernah
berdiri kerajaan Tarumanegara dengan raja nya Purnawarman, yang merupakan putra
dara raja mulawarman di kerajaan Kutai. Bukti keberadaanya dapat dibuktikan
dengan adanya Candi jiwa (Candi Unur: Bahasa sunda) di desa Segaran, kecamatan
Batujaya.
Jauh sesudah runtuhnya kerajaan Tarumanegara pada
tahun 1632, Sultan Agung mengutus Wiraperbangsa Sari Galuh dan 1000 prajurit
Mataram beserta keluarganya untuk menempati wilayah Karawang dan menjadikannya
sebagai daerah pertanian. Tak hanya itu, karawang pun dijadikan markaspejuang
tanah air dalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan.
Tugas yang diemban Wiraperbangsa dapat dilaksanakan
dengan baik. Hasilnya bahkan sempat dilaporkan kepada Sultan Agung di Mataram.
Atas keberhasilannya itu, Wiraperbangsa dianugrahi jabatan Wedana (setingkat
Bupati) di Karawang dan mendapat Gelar Adipati Kertabumi III serta diberi
hadiah senjata berupa sebilah keris yang bernama “Karo Sinjang”. Setelah
penganugrahan dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa melanjutkan kembali tugas nya
dan melakukan perjalanan ke Karawang. Namun takdir Illahi berkata lain.
Saat singgah sementara waktu untuk menjenguk
keluarganya di Galuh. Wiraperbangsa pun meninggal. Jabatan Wiraperbangsa
sebagai Wedana di Karawang kemudian digantikan oleh anaknya yang bernama Raden
Singapebangsa yang dianugrahi Gelar Adipati Kertabumi IV memerintah di Karawang
pada tahun 1633 – 1677. Tugas Pokok Raden Singaperbangsa di awal kepemimpinannya
adalah mengusir VOC (Belanda) di Batavia.
Untuk mendukung hal itu, Raden Singaperbangsa
membangun pesawahan demi memenuhi kebutuhan Logistik Semasa perang.
Pembangunan Pusat Logistik dan pesawahan demi
memenuhi kebutuhan logistik Perang itu tersurat dalam “Piagam Pelat Kuningan
Kandang Sapi Gede” yang bunyinya sebagai berikut:
“Panget
Ingkang Piagam Kanjeng Ing Ki Rangga Gede Ing Sumedang kagadehaken ing si
Astrawardana. Mulane sun gedehi peagem, sun kongkon anggraksa kaagengan dalem
siti Nagara agung, kilen waten cipamingkis, wetan wates Cilamaya, serta kon
anunggoni lumbung isina pun pari limang tikes punjul tiga welas jait Basakala
tan anggrawahani piagem,lagi lampahipan Kyai Yudhabangsa kaping kalih ki wangsa
Taruna, ingkang potusan Kanjeng dalem ambakta tata titi yang kalih ewu; wadana
nipun Kyai Singaperbangsa, kalih ki Wirasaba kang dipunwadanahaeun ing manir.
Sasangpun katampi dipunrenahakeun Waringinpitu lan ing Tanjungpura,anggaraksa
siti NagaraGung Bongan kilen , kala nulis piagem ing dina rebo tanggal ping
sapulih sasi Mulud tahun alif. Kang anulis Piagem manira anggaprana titi”.
Terjemahan piagam tersebut dalam bahasa Indonesia
adalah sebagai berikut:
“Peringatan Piagam Raja kepada Ki Rangga Gede di
Sumedang diserahkan kepada Si Astra Wardana. Sebabnya maka saya serahi piagam
ialah karena saya berikan tugas menjaga tanah Negara agung di sebelah Timur
berbatas Cilamaya, serta saya tugaskan menunggu lumbung padi lima takes lebih
tiga belas jahit. Adapun
pandai tersebut di terima oleh Ki Singaperbangsa, Baskalatan yang menyaksikan
piagam dan kedua ki Wangsa taruna yang diutus oleh raja untuk pergi dengan
membawa 2000 keluarga. Pimpinannya adalah Kyai Singaperbangsa serta Ki
Wirasaba. Sesudah Piagam diterima, kemudian mereka ditempatkan di Waringinpitu
dan di Tanjung Pura. Tugasnya adalah menjaga tanah Negara Agung di sebelah
barat.. Piagam ini ditulis hari Rabu tanggal 10 Bulan Mulud Tahun Alif. Yang
menulis Piagam ini ialah saya, Anggaprana. Selesai.
Isi Piagam Pelat Kuningan Kandang Sapi Gede” dibuat
pada tanggal 10 Bulan mulud tahun alif atau bertepatan dengan hari Rabu Tanggal
10 rabiul Awal Awal tahun 1043 hijriah dan menurut hitungan sekarang Tanggal 14
September 1633 Masehi dan atau pada hitungan tahun Jawa/Saka adalah hari rabu
tanggal 10 Mulud 1555. Tanggal itu kemudian dijadikan sebagai “Hari jadi
Kabupaten Karawang” penetapan hari Jadi ini berdasarkan penelitian panitia
sejarah yang dibentuk dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tk II
Karawang. Letkol (Inf.) H. Husni Hamid dengan SK Nomor 170/PEM/H/SK/1968/ pada
tanggal 1 Juni 1968.
Setelah Raden Singaperbangsa meninggal dunia. Lalu
jabatan Bupati Karawang dilanjutkan pada keturunannya. Mereka itu adalah: Raden
Anom Wirasuta (Bupati Karawang II), Raden Jayanegara (Bupati Karawang III),
Raden Martanegara (Bupati Karawang IV), Raden Muhamad Soleh (Bupati Karawang V)
dan Raden Singosari (Bupati Karawang VI menjabat 2 Periode), Raden Sastradipura
putra raden Muhamad Soleh (Bupati VIII), Ujang Ajiam gelar Raden Tumenggung
Aria Sastradiningrat I putra Raden Sastradipura (Bupati Karawang XII). Hanca
euyy...
Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman
ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/