Nagara mana nu paling bersih tina korupsi? Cenah Denmark, terus nagara-nagara 
tatanggana Swedia jeung Selandia Baru. Naon sababna nya? Akhlak ...eh ... moral 
urang Denmark & Swedia aralus kitu, tara daek pulang-paling?  

Denmark Negara Bebas Korupsi

Senin, 28 September 2009 | 08:28 WIB

TEMPO Interaktif, Copenhagen - Lembaga Transparansi Internasional kemarin 
mengumumkan Denmark merupakan negara paling bersih dari korupsi. Kesimpulan itu 
berdasarkan laporan tahunan organisasi nonpemerintah yang giat memerangi 
korupsi tersebut setelah menggelar survei di 180 negara. Ini adalah tahun kedua 
secara berturut-turut Denmark menyandang predikat itu.

Menurut data statistik pada Indeks Persepsi Korupsi (CPI), selain Denmark, 
Swedia dan Selandia Baru merupakan negara yang pantas menyandang predikat 
"bebas korupsi" tahun ini. Sementara Denmark berada di peringkat teratas 
(paling bersih), Somalia berada di peringkat terbawah (paling korup) dari 180 
negara yang disurvei.

Selain Somalia, cap paling korup dialamatkan kepada Afganistan, Haiti, Irak, 
dan Burma. "Sangat ekstrem," demikian diungkapkan dalam laporan tahunan 
Transparansi Internasional. Laporan Transparansi Internasional juga mencatat 
bahwa selama 2008 ada sekitar 17 kasus suap internasional--dari 21 kasus pada 
2007--di Denmark.

Salah satunya adalah kasus suap pada program minyak untuk pangan (oil for food) 
di Irak, yang melibatkan tujuh perusahaan asal Denmark. Masih menurut lembaga 
yang lahir di Jerman ini, penyuapan, kartel-kartel yang menerapkan harga 
sewenang-wenang, dan kebijakan publik yang tak semestinya menciptakan 
kompetensi bisnis yang tak adil.

"Korupsi menjadi bagian dari kehidupan di seantero dunia," demikian dikatakan 
Transparansi Internasional. "Alhasil, merugikan perekonomian global hingga 
miliaran dolar Amerika Serikat saban tahun." Laporan terbaru itu juga menyebut 
konsumen di seluruh dunia membayar kelewat mahal sekitar US$ 300 miliar di 
hampir 300 kartel swasta internasional (1990-2005).

"Sekitar 20 persen perusahaan mengatakan mengalami kekalahan lantaran 
perusahaan pesaing mereka memberi uang semir," demikian disebutkan dalam 
Laporan Korupsi Dunia 2009 seperti dikutip harian Australia The Age. "Skala dan 
cakupan suap dalam bisnis kian mengejutkan." Itu belum seberapa.

Kalau ditotal, saban tahun, di sejumlah negara berkembang, politikus dan 
pejabat yang korup menerima upeti hingga US$ 20 miliar dan US$ 40 miliar. Belum 
lagi korupsi di dalam tubuh perusahaan itu sendiri, yang berujung pada ancaman 
performa dan akuntabilitas perusahaan tersebut. Transparansi mengaitkan hal ini 
dengan kolapsnya Wall Street.

"Perusahaan-perusahaan yang mengabaikan korupsi dan etika tak hanya akan 
kehilangan uang, tapi juga reputasi," kata pakar manajemen dari Universitas 
Melbourne, Howard Dick, mewanti-wanti. "Uang bisa diganti, tapi nama baik sulit 
dipulihkan kembali." Lantaran itulah, sejak 1999 Organisasi Kerja Sama Ekonomi 
dan Pembangunan menyerukan digalangnya konvensi antikorupsi.

Organisasi itu berharap konvensi antikorupsi bisa mencegah suap di kalangan 
pejabat-pejabat manakala terlibat negosiasi bisnis dengan perusahaan asing. 
Masih ingat skandal Al-Yamamah pada 2006 saat terjadi transaksi senjata militer 
multimiliar dolar antara Arab Saudi dan Inggris yang berujung pada penyelidikan 
dugaan korupsi.

Berdasarkan penelusuran Transparansi, terdapat 103 kasus suap yang melibatkan 
perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, lebih dari 40 kasus di perusahaan 
Jerman, serta 19 kasus di perusahaan Prancis dan satu perusahaan Inggris. 
Adapun perusahaan-perusahaan India, Cina, dan Brasil, menurut Transparansi, 
adalah yang paling korup saat negosiasi bisnis di luar negeri. 

Kirim email ke