Meski Tak Sekolah Warga Baduy Bisa SMS-an dan Pakai Ponsel
Minggu, 6 Desember 2009 | 17:20 WIB

LEBAK, KOMPAS.com - Warga komunitas suku Baduy di pedalaman Kabupaten
Lebak, Banten, meski tidak mengenyam bangku sekolah namun mereka bisa
membaca, menulis, dan berhitung.

"Walaupun kami tak sekolah, tapi kami bisa menulis, membaca dan
berhitung. Bahkan bisa berkomunikasi lewat Short Message Service atau
pesan singkat dengan menggunakan handphone," kata Jali (45) Baduy
Luar, warga Kaduketug, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten
Lebak, Minggu (6/12).

Jali mengatakan, hingga saat ini masyarakat suku Baduy tidak
diperbolehkan bersekolah, karena keputusan adat yang melarang warganya
mengenyam pendidikan formal.

Keputusan adat itu, harus dipatuhi seluruh masyarakat Baduy. "Jika
mereka meninggalkan adat tentu harus keluar dari warga Baduy,"
katanya.

Dia juga mengatakan, warga Baduy sampai saat ini menolak sekolah,
namun sebagian besar mereka mampu membaca, menulis dan berhitung.

Hal tersebut terbukti dari banyaknya warga Baduy yang mempunyai
handphone dan bisa berkomunikasi lewat pesan singkat.

Warga Baduy harus belajar sendiri agar mampu membaca, menulis, dan
berhitung. Selain itu, dari pergaulan dengan masyarakat luar kawasan
Baduy.

"Saya sendiri dan tiga anak bisa membaca dari belajar sendiri setelah
bekerja di ladang," kata Jali, pengrajin produk buatan Baduy.

Dia mengaku, sejak kecil tidak sekolah namun kini mampu mengelola
usaha kerajinan yang digelutinya hingga banyak pesanan dari luar
Baduy.

Setiap hari dia mencatat jumlah pesanan dari Jakarta, Bandung dan
daerah lainnya. Bahkan, untuk mempermudah komunikasi ia menggunakan
handphone. "Saya merasa terbantu dengan alat komunikasi ini," ujarnya.

Ketua Wadah Masyarakat Baduy (Wambi), H Kasmin, mengatakan, saat ini
banyak warga Baduy yang mampu membaca, menulis dan berhitung, terlebih
adanya pendidikan nonformal yakni pusat kegiatan belajat masyarakat
(PKBM).

PKBM tersebut, selama dua tahun terakhir ini menyelenggarakan
pendidikan keaksaraan fungsional selama enam bulan yang dibiayai
pemerintah pusat, provinsi dan daerah.

"Saat ini sebagian besar warga Baduy usia 15 sampai 45 sudah melek
huruf juga mampu menggunakan handphone," katanya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Djuanda, mengaku
pemerintah hingga kini tidak mendirikan sekolah di kawasan Baduy
karena terhalang adat. "Kami menghormati keputusan larangan adat itu,"
katanya.

Namun, pihaknya tetap menyelenggarakan pendidikan nonformal dengan
kerja sama Wambi agar warga Baduy bisa membaca, menulis dan berhitung.

Apalagi, warga Baduy setiap hari berhubungan dengan masyarakat luar,
dalam kegiatan usaha perdagangan. "Saya berharap Wambi terus
memberikan pendidikan nonformal bagi warga Baduy," katanya.

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/12/06/17202511/Meski.Tak.Sekolah.Warga.Baduy.Bisa.SMS-an.dan.Pakai.Ponsel

Kirim email ke