Nenek Moyang Bangsa Asia dari Asia Tenggara
Sabtu, 12 Desember 2009 | 13:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil riset terbaru deoxyribonucleic acid atau
DNA tentang asal-usul manusia Asia menunjukkan bahwa Asia Tenggara
merupakan sumber geografis utama dari populasi di Asia yang kemudian
menyebar ke utara.

"Nenek-moyang bangsa-bangsa Asia yang keluar dari Afrika sekitar
100.000 tahun lalu itu menyusuri sepanjang pesisir selatan ke arah
timur dan lebih dulu berpusat di Asia Tenggara sekitar 60.000 tahun
lalu, baru kemudian menyebar ke berbagai kawasan di utaranya di Asia,"
kata Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Dr Sangkot
Marzuki kepada pers di Jakarta, Jumat (11/12/2009).

Menurut Sangkot Marzuki, kesimpulan terbaru ini membantah teori
sebelumnya yang menyebut bahwa ada jalur majemuk migrasi nenek moyang
bangsa Asia, yakni melalui jalur utara dan jalur selatan, serta
membantah bahwa bangsa Asia Tenggara (yang berbahasa Austronesia)
berasal dari Taiwan.

Hal itu terlihat pula dari keanekaragaman genetik yang makin ke
selatan semakin tinggi, sedangkan etnik-etnik di kawasan Asia lebih
utara lebih homogen. Demikian dikatakan Sangkot yang merupakan salah
satu pemrakarsa riset tersebut.

Riset ini dilakukan oleh lebih dari 90 ilmuwan dari konsorsium
Pan-Asian SNP (Single-Nucleotide Polymorphisms) dinaungi Human Genome
Organization (Hugo) yang meneliti 73 populasi etnik Asia di 10 negara
(Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, India, China,
Korea, Jepang, dan Taiwan) dengan total sekitar 2.000 sampel.

Menurut Sangkot, kesimpulan dari riset yang memakan waktu tiga tahun
dan telah dirilis di jurnal Science pada 10 Desember 2009 berjudul
"Mapping Human Genetic Diversity in Asia" itu jauh lebih akurat
dibanding riset-riset sebelumnya yang hanya menggunakan DNA
mitokondria atau kromosom Y karena menganalisis seluruh kromosom.

Ia menolak untuk menyimpulkan secara spesifik bahwa pusat peradaban
bangsa Asia pada sekitar 60.000 tahun lalu itu ada di Indochina atau
di semenanjung Malaya karena hal itu masih memerlukan riset yang lebih
detail lagi.

"Bisa saja pusatnya sebenarnya ada di Sundaland (di laut China
Selatan) yang sudah tenggelam pada sekitar 12.000 hingga 8.000 tahun
lalu," katanya.

Menurut dia, penjelasan menyeluruh dari sejarah genetik populasi Asia
memerlukan sebuah studi lanjutan mengenai genom dengan lebih banyak
sampel dan marka yang densitasnya lebih tinggi lagi. Saat ini, dari
setiap sampel individu, 50.000 marka dianalisis.

"Fase berikutnya, kami akan lebih banyak memasukkan berbagai etnik
sehingga percabangannya akan menjadi lebih detail terlihat," katanya.

Pemetaan keanekaragaman genetik ini, tambah dia, juga sangat penting
bagi penelusuran dan penanganan berbagai penyakit genetik, seperti
hepatitis, dan talasemia.

JY

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/12/12/13074299/nenek.moyang.bangsa.asia.dari.asia.tenggara

Kirim email ke