Nengetan beja Century, Empu eh Robert Tantular, Sri Mulyani, Boediono cape deh, 
ceuk budak ayeuna mah. Tapi sanajan "cape" oge ieu aya artikel ti Putu Setia, 
hatur lumayan:


Sri Mulyani

TempoInteraktif, Sabtu, 19 Desember 2009 | 23:56 WIB

Putu Setia

Kembali Romo Imam memanggil saya ke pedepokannya. "Kamu kenal Sri Mulyani?" 
Ketika saya jawab tidak, Romo tampak kecewa.

Romo lalu menyebut sejumlah nama. Kwik Kian Gie, Bambang Soesatyo, Maruarar 
Sirait, Aburizal Bakrie, dan banyak lagi. "Semuanya tidak saya kenal Romo, saya 
kan rakyat kecil, mana kenal tokoh besar itu," jawab saya. Dengan nada kecewa, 
Romo berkata: "Kamu kurang bergaul, padahal saya ingin membicarakan Sri Mulyani 
dalam kasus Bank Century."

Saya berusaha membelokkan perbincangan. "Urusan Bank Century ruwet, kita bicara 
Ibu Sri dalam kaitan Hari Ibu saja," kata saya. Romo seperti tersinggung: "Itu 
keliru besar. Kasus Century masalah sederhana yang diruwetkan karena banyak 
pihak memiliki target masing-masing."

Romo menjelaskan dengan analogi rumah terbakar--padahal saya mengharapkan 
analogi Profesor Kodok, seperti yang dilansir Kwik. Saat itu, kata Romo, ada 
rumah terbakar di sebuah kompleks di kawasan kampung besar. Untuk memadamkan 
rumah itu, perlu disemprot air dan zat kimia yang membutuhkan biaya mahal. Uang 
ada, karena setiap rumah di kompleks itu sudah urunan untuk musibah tak terduga 
seperti ini. Bukan uang milik kampung.

Badan otorita kompleks mengadakan rapat darurat. Ada dua pendapat, biarkan 
rumah itu terbakar sendiri, dan tak perlu biaya untuk memadamkan api. Pendapat 
lain, semprot segera, toh uang ada, karena bisa berdampak sistemik, api 
merambat ke rumah yang lainnya. Jika itu terjadi, bukan hanya warga kompleks 
yang menanggung akibatnya, tapi juga warga kampung. Keputusan harus diambil 
cepat. Berdasarkan analisis saat itu, rumah harus disemprot. Jadi masih ada 
fondasinya dan dibangun rumah baru. Pemilik rumah itu nanti harus mengembalikan 
uang hasil iuran itu, karena memang sifatnya bantuan sementara.

"Sri Mulyani mengambil keputusan itu dengan cepat," kata Romo. Kalau sekarang 
ada yang mencela pengambilan keputusan itu, kata Romo, itu sangat tak adil. 
Karena pencelanya berbicara saat kondisi aman tenteram. Pengambilan keputusan 
cepat saat keadaan emergency sering disebut "judi yang dibenarkan". Andaikata 
Sri Mulyani memutuskan membiarkan rumah itu terbakar, lalu api merembet ke 
mana-mana, bayangkan celaan macam apa pula yang diterimanya.

"Tapi nyatanya api tak merembet, Romo," saya memotong. "Kamu ikutan tolol," 
jawab Romo. "Kamu berbicara dalam konteks situasi sekarang yang aman."

Saya diam, takut kena "semprot". Kemudian Romo bicara lagi, jika aliran biaya 
menyemprot rumah itu dipersoalkan, nah, itu bagus, jangan Sri Mulyani yang 
dihujat. Kan tak mungkin Ibu Sri turun langsung memeriksa, berapa aliran uang 
untuk beli air, beli selang, dan sebagainya. Kalau di situ ada korupsi, ya, 
tindak di situ. Juga jangan sok pahlawan kesorean, selalu bilang: uang rakyat 
raib. Uang ini memang diperuntukkan bagi keadaan emergency semacam itu untuk 
para anggotanya yang kemudian akan dikembalikan lagi. Ya, kalau disebut uang 
negara atau uang rakyat, itu perdebatan para kusir delman, memangnya ada 
organisasi silat menerbitkan uang? Semua uang, ya, dikeluarkan negara, tapi ada 
"hak milik" yang melekat pada orang atau paguyuban.

"Kamu kenal Marsillam Simanjuntak?" tiba-tiba Romo bertanya tentang orang lagi. 
"Kalau dia saya kenal, karena Marsillam orang besar yang menghormati martabat 
saya sebagai orang kecil," jawab saya. "Sejauh mana kenal?" Saya jawab: "Sampai 
saya mengenali suaranya di telepon meski beliau sering bercanda. Karena itu, 
dalam rekaman yang kini beredar, saya yakin Sri Mulyani berbicara dengan 
Marsillam, bukan Robert Tantular."


Kirim email ke