Ayeuna anu can jelas keur masyarakat teh..masalah Uang Rakyat...Uang Nagara..tapi sok ngarasa nyaho...padahal teu nyaho atawa teu jelas kulantaran dipiheulaan ku Pers jeung LSM..
On 12/21/09, [email protected] <[email protected]> wrote: > > > > SM mah omongan jeung laku lampahna sarua. Duka ngaran2 sejen mah. > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * "Waluya" <[email protected]> > *Date: *Mon, 21 Dec 2009 05:46:35 -0000 > *To: *<[email protected]> > *Subject: *[Urang Sunda] Fw: Oh Embak Sri ...... > > > > Nengetan beja Century, Empu eh Robert Tantular, Sri Mulyani, Boediono cape > deh, ceuk budak ayeuna mah. Tapi sanajan "cape" oge ieu aya artikel ti Putu > Setia, hatur lumayan: > > Sri Mulyani > > TempoInteraktif, Sabtu, 19 Desember 2009 | 23:56 WIB > > Putu Setia > > Kembali Romo Imam memanggil saya ke pedepokannya. "Kamu kenal Sri Mulyani?" > Ketika saya jawab tidak, Romo tampak kecewa. > > Romo lalu menyebut sejumlah nama. Kwik Kian Gie, Bambang Soesatyo, Maruarar > Sirait, Aburizal Bakrie, dan banyak lagi. "Semuanya tidak saya kenal Romo, > saya kan rakyat kecil, mana kenal tokoh besar itu," jawab saya. Dengan nada > kecewa, Romo berkata: "Kamu kurang bergaul, padahal saya ingin membicarakan > Sri Mulyani dalam kasus Bank Century." > > Saya berusaha membelokkan perbincangan. "Urusan Bank Century ruwet, kita > bicara Ibu Sri dalam kaitan Hari Ibu saja," kata saya. Romo seperti > tersinggung: "Itu keliru besar. Kasus Century masalah sederhana yang > diruwetkan karena banyak pihak memiliki target masing-masing." > > Romo menjelaskan dengan analogi rumah terbakar--padahal saya mengharapkan > analogi Profesor Kodok, seperti yang dilansir Kwik. Saat itu, kata Romo, ada > rumah terbakar di sebuah kompleks di kawasan kampung besar. Untuk memadamkan > rumah itu, perlu disemprot air dan zat kimia yang membutuhkan biaya mahal. > Uang ada, karena setiap rumah di kompleks itu sudah urunan untuk musibah tak > terduga seperti ini. Bukan uang milik kampung. > > Badan otorita kompleks mengadakan rapat darurat. Ada dua pendapat, biarkan > rumah itu terbakar sendiri, dan tak perlu biaya untuk memadamkan api. > Pendapat lain, semprot segera, toh uang ada, karena bisa berdampak sistemik, > api merambat ke rumah yang lainnya. Jika itu terjadi, bukan hanya warga > kompleks yang menanggung akibatnya, tapi juga warga kampung. Keputusan harus > diambil cepat. Berdasarkan analisis saat itu, rumah harus disemprot. Jadi > masih ada fondasinya dan dibangun rumah baru. Pemilik rumah itu nanti harus > mengembalikan uang hasil iuran itu, karena memang sifatnya bantuan > sementara. > > "Sri Mulyani mengambil keputusan itu dengan cepat," kata Romo. Kalau > sekarang ada yang mencela pengambilan keputusan itu, kata Romo, itu sangat > tak adil. Karena pencelanya berbicara saat kondisi aman tenteram. > Pengambilan keputusan cepat saat keadaan emergency sering disebut "judi yang > dibenarkan". Andaikata Sri Mulyani memutuskan membiarkan rumah itu terbakar, > lalu api merembet ke mana-mana, bayangkan celaan macam apa pula yang > diterimanya. > > "Tapi nyatanya api tak merembet, Romo," saya memotong. "Kamu ikutan tolol," > jawab Romo. "Kamu berbicara dalam konteks situasi sekarang yang aman." > > Saya diam, takut kena "semprot". Kemudian Romo bicara lagi, jika aliran > biaya menyemprot rumah itu dipersoalkan, nah, itu bagus, jangan Sri Mulyani > yang dihujat. Kan tak mungkin Ibu Sri turun langsung memeriksa, berapa > aliran uang untuk beli air, beli selang, dan sebagainya. Kalau di situ ada > korupsi, ya, tindak di situ. Juga jangan sok pahlawan kesorean, selalu > bilang: uang rakyat raib. Uang ini memang diperuntukkan bagi keadaan > emergency semacam itu untuk para anggotanya yang kemudian akan dikembalikan > lagi. Ya, kalau disebut uang negara atau uang rakyat, itu perdebatan para > kusir delman, memangnya ada organisasi silat menerbitkan uang? Semua uang, > ya, dikeluarkan negara, tapi ada "hak milik" yang melekat pada orang atau > paguyuban. > > "Kamu kenal Marsillam Simanjuntak?" tiba-tiba Romo bertanya tentang orang > lagi. "Kalau dia saya kenal, karena Marsillam orang besar yang menghormati > martabat saya sebagai orang kecil," jawab saya. "Sejauh mana kenal?" Saya > jawab: "Sampai saya mengenali suaranya di telepon meski beliau sering > bercanda. Karena itu, dalam rekaman yang kini beredar, saya yakin Sri > Mulyani berbicara dengan Marsillam, bukan Robert Tantular." > > >

