Pusunda Bermula dari Rasa Iri

KOMUNITAS orang Sunda di Bali membentuk PUSunda. Pembentukan tersebut
bukan hanya sebagai ajang untuk mengikat tali silaturahmi antara
sesama orang Sunda yang merantau di Bali, tetapi juga sebagai bentuk
kepedulian dan eksistensi orang Sunda yang ada di Bali.* RETNO HY/"PR"

RASA iri terhadap komunitas daerah lain di Pulau Dewata Bali yang
memiliki wadah untuk berkumpul dan bersilaturahmi secara rutin membuat
sejumlah orang Sunda di Bali ingin membentuk komunitas. Mereka melihat
melalui wadah bisa jadi permasalahan yang dialami sesama warga satu
daerah dapat diselesaikan.

"Kami merasa iri kepada mereka (warga lain) yang begitu kompak dan
rukun membantu satu sama lainnya. Ternyata kerukunan dan kekompakan
mereka terjalin karena sudah ada wadah yang menghimpun komunitas
merek," ujar A. Jaka, Ketua Paguyuban Urang Sunda (Pusunda) di Bali.

Keinginan untuk merangkul komunitas orang Sunda yang berada di Bali,
menurut Jaka -- yang Polisi Kehormatan Daerah Bali tersebut -- bukan
semata-mata keinginan dari dirinya pribadi sebagai orang Sunda. Akan
tetapi, juga keinginan masyarakat Sunda lainnya. Keinginan tersebut
baru terealisasi di tahun 2007, tetapi baru tanggal 4 Januari 2008
secara resmi dibentuk kepengurusannya.

Berbeda dengan komunitas yang dibangun warga Minang, Batak, Madura
atau paguyuban etnis lainnya, A. Jaka bersama sejumlah penggagas
membentuk komunitas secara legal. Mereka mendaftarkan nama Pusunda di
Notaris I Md Pria Dharsana, S.H., dan bersama itu pula mereka
menetapkan Jack Cafe di Jalan Sunset Road 135 Kuta sebagai
sekretariat.

Sebenarnya, menurut Jaka, di Bali sendiri sudah ada perkumpulan warga
Sunda, seperti Mangle, ISJB, Ikatan Warga Jabar, Pamanahan, dan
sejumlah kelompok lainnya. Kebanyakan dari perkumpulan itu adalah
organisasi sosial dan silaturahmi, beberapa di antaranya sudah punya
koperasi simpan pinjam.

"Tetapi ini masih bersifat organisasi tradisi dan ruang lingkup lebih
sempit dan menyebar seperti di Denpasar, Kuta, Singaraja, dan
Jembrana. Sedangkan Pusunda bertindak sebagai pusat dari Paguyuban
Urang Sunda. Artinya, organisasi yang ada sekarang di daerah akan
berinduk ke Pusunda," ujar Jaka.

Oleh karenanya, sejumlah penggagas melakukan pendekatan dan mengadakan
pertemuan secara intens dengan para tokoh Sunda dan sesepuh paguyuban
Sunda yang sudah ada Bali. Respons dari warga Sunda yang sudah
terhimpun dalam kelompok tersebut sangat positif, apalagi dengan
kehadiran para tokoh serta sesepuh tersebut dalam struktur organisasi.

Keberadaan Pusunda dalam waktu singkat mampu mencuri perhatian
masyarakat Bali. Bukan hanya karena posisi A. Jaka sebagai Ketua
Harley Davidson Bali dan diangkat sebagai Polisi Kehormatan Daerah
Bali, tetapi karena peran serta masyarakat Sunda yang berada di Bali
dalam menjaga keamanan pasca tragedi bom Bali.

Selain itu, keberadaan Pusunda di Bali yang tersebar di enam kabupaten
dan satu kota sepakat untuk menjaga keamanan, kebersamaan, saling
hormat menghormati, serta tolong-menolong dengan sesama tanpa melihat
agama maupun golongan. Tekad ini menjadi modal orang Sunda diterima
masyarakat asli Bali maupun komunitas warga lainnya. "Semisal dalam
perayaan-perayaan keagamaan, warga (Sunda) tidak segan-segan untuk
membantu persiapan, demikian pula bila ada warga lain yang sakit,"
ujar Jaka.

Hal ini pun ditujukkan dengan kesediaan sejumlah tokoh dan pejabat
Bali menjadi warga kehormatan maupun sebagai pembina Pusunda. Di
antaranya mantan Wagub Bali, Ahim Abdurahim yang sempat menjadi Wakil
Gubenur Bali, mantan Pangdam Udayana Mayor Jenderal Supiyadin A.S.,
Wakapolda Bali Drs. Andi Chaerudin, dan sejumlah tokoh lainnya..

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Dede Yusuf, saat
menghadiri pertemuan "Tepung Taun Pusunda", Minggu (20/12) di Jack
Cafe Kuta Bali, mengatakan keberadaan warga Jawa Barat di Bali yanbg
tergabung di Pusunda bukan sekadar aset daerah yang ada di Bali,
tetapi juga sebagai tali untuk mempererat budaya Sunda dan Bali.
"Warga Jawa Barat di Bali ini tidak hanya sebagai pelaku usaha ataupun
ekonomi yang menggerakkan roda perekonomian provinsi Bali, tetapi juga
Jawa Barat. Selain itu, melalui berbagai bentuk seni budaya yang
dilakukan, mampu mempererat hubungan dan pembauran seni budaya Sunda
dan Bali," ujar Dede.

Hal yang paling menggembirakan Dede adalah berkumpulnya sekitar 40.000
warga Sunda yang ada di Bali dalam satu wadah Pusunda mampu diterima
masyarakat Bali. Hal ini menunjukkan bahwa warga Sunda dikenal dengan
keramahan serta kerukunannya. " Sungguh, keberadaan komunitas ini
sangat tidak dapat dinilai dengan uang. Ini merupakan aset yang sangat
luar biasa," ujar Dede. (Retno HY/"PR") ***

Web: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=118114

Kirim email ke