Anggotanya dari Berbagai Profesi WAKIL Gubernur Jawa Barat H. Dede Yusuf tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya saat mengetahui jumlah warga Sunda yang tergabung dalam Paguyuban Urang Sunda (PUSunda) -- salah satu komunitas orang Sunda yang ada di Bali-- mencapai 40.000 orang. Tak mengherankan jika jumlahnya begitu besar, karena mereka yang turut bergabung terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dan berbagai profesi.
"Biasanya, paguyuban dibentuk karena rasa kebersamaan di antara kelompok, semisal kelompok seniman, budayawan, pedagang, dan lainnya. Akan tetapi, di PUSunda ini sangat berbeda mereka yang bergabung ada dari pegawai negeri, polisi, pengusaha, pedagang, seniman, budayawan dan lainnya. Ini sangat luar biasa," ujar Dede Yusuf, saat menghadiri acara "Tepung Taun PUSunda", Minggu (20/12) di Jack Cafe Jalan Sunset Road 135 Kuta. Menurut Dede, keberadaan PUSunda di pulau yang merupakan pusat industri pariwisata ini, secara tidak langsung mampu mengangkat keberadaan masyarakat Sunda ataupun Jawa Barat yang bergerak di sektor pariwisata. "Mereka yang berprofesi sebagai seniman dan perajin mampu mengangkat potensi kerajinan yang ada di Jawa Barat, terutama dalam hal nilai nominalnya yang menjadi tiga kali lipat," ujar Dede. Memang, PUSunda sebelumnya dibangun oleh sejumlah penggagasnya sebagai wadah silaturahmi dan memupuk rasa persaudaraan antarsesama masyarakat Sunda di Bali. Tidak hanya itu, Menurut Ketua Umum PUSunda, A. Jaka, komunitas ini menjadi ajang bertukar informasi maupun transaksi pekerjaan. Karena rata-rata anggota adalah pedagang, mereka membuka sekretariat yang lokasinya di pusat perekonomian Bali. Hal ini demi mudahnya penyebaran informasi. Selain itu, Jack Cafe pun dijadikan sekretariat. Di sini secara rutin dilakukan pertemuan riung mungpulung, tepatnya setiap hari Jumat, minggu pertama tiap bulan. Di antara acara riung mungpulung terselip pertemuan ibu-ibu, seniman, dan lainnya. Bantu warga Sunda PUSunda awalnya bergerak di bidang sosial dan bertujuan membantu sesama warga Sunda di perantauan. PUSunda diupayakan dikelola dengan profesional, salah satunya dengan membentuk koperasi simpan pinjam bagi anggota. "Bahkan kami membentuk rukun khifayah, yang mengurus segala sesuatu menyangkut anggota yang sakit hingga meninggal dunia. Supaya kalau ada urang Sunda yang meninggal dunia di Bali bisa kita bantu kuburkan di sini, bukan dibawa ke Jawa Barat atau tanah kelahirannya," ujar Jaka. Untuk mempermudah warga Sunda yang belum terdata di PUSunda dibentuk kepengurusan di tiap ranting kabupaten dan kota. Mereka yang belum tercatat di PUSunda bisa langsung mengisi daftar isian di sekretariat dan data mereka nanti akan diberikan ke tiap korcam atau korcab, sesuai tempat tinggalnya. Hal tersebut dirasakan sangat perlu karena warga Sunda yang ada di Bali tidak hanya melakukan aktivitas dan mencari nafkah di kota-kota besar di Bali, tetapi juga di pelosok. "Banyak yang dilakukan orang Sunda yang memiliki keterampilan membuat kerajinan, mereka memilih Jembrana ataupun Klungkung sebagai tempat mencari nafkah dengan berbaur bersama warga sesama perajin," ujar Jaka. Mengenai keberadaan PUSunda di Bali, menurut Jaka, dirasakan sangat perlu dibentuk dengan menyesuaikan diri dan berbaur bersama warga dan toleransi terhadap adat istiadat . Prinsip "di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung" menjadi hal yang harus diperhatikan oleh anggotanya sebagaimana sifat orang Sunda yang dikenal sebagai suku yang ramah. "Sepengetahuan saya, warga Sunda di Bali ada sejak zaman kemerdekaan. Mereka datang lewat penugasan di jalur militer atau instansi pemerintahan, baru kemudian diikuti pedagang, pekerja di berbagai bidang dan kini banyak yang bergerak di bidang pariwisata -- travel maupun hotel. Banyak juga yang berjualan cendera mata. Akan tetapi, orang Sunda cukup dikenal di kalangan masyarakat umum sebagai tukang kredit keliling atau bandring. Kalau jejak sejarah keberadaan urang Sunda belum bisa dilacak seperti warga Bugis yang pelaut dan sebagainya. Tetapi faktanya, sudah banyak warga Sunda berkeluarga dengan warga Bali dan sudah punya keturunan sampai punya cucu dan cicit," ujar Jaka. Di PUSunda inilah anak, cucu dan cicit merasakan bahwa mereka masih diakui sebagai orang Sunda dan menemukan kasomeahan leluhurnya. (Retno HY/"PR")*** Web: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=118112

