ngiringan promo lewat resensi, mugia manfaat....
Arif Ramdan,
Menulis Lintas BudayaJudul: Aceh di Mata Urang Sunda
Penulis: Arif Ramdan
Penerbit: Bandar Publishing
Tebal: 215 halaman
Cukup
menarik membaca judul buku tulisan Arif Ramdan - Aceh di Mata Urang
Sunda, menarik karena dengan mudah kita dapat menebak seputar isi yang
tidak akan jauh-jauh dengan pandangan orang Sunda terhadap Aceh. Saya
yakin bagi mereka yang selama ini menaruh perhatian terhadap
perkembangan budaya Nanggroe pasti akan membacanya, karena biasanya
orang Aceh phobia dengan analisa pakar luar yang sering tidak tepat
menggambarkan kondisi Aceh.
Saya tidak menyangka bahwa isi dari
buku ini adalah catatan keseharian berdasarkan pengamatan penulisnya,
bukan analisa secara akademis yang bertumpuk rujukan namun di ujung
seringkali salah dalam mengambil kesimpulan. Arif Ramdan ternyata
menulis apa adanya sesuai dengan yang dialaminya sehari-hari selama dia
menetap di Aceh sekaligus sebagai wartawan Serambi Indonesia.
Awalnya
memang saya sempat berpikir apa tidak terlalu berani menulis judul
seperti di atas karena apabila salah sedikit saja maka yang selanjutnya
terjadi adalah kesalahan penulis akan dilemparkan ke muka etnis Sunda
yang lain mengingat penulis mengatasnamakan etnis tersebut.
Menjadi
sangat tepat ketika penulis memulai tulisan dengan judul "Saya Sunda,
bukan Jawa!" sebagai orang yang lahir tumbuh dan menetap di Aceh
perasaan menjadi bangsa Aceh tentu melekat di dalam diri saya hingga
begitu bangga menyandang dan memperkenalkan diri sebagai Ureung Aceh.
Dan saya yakin perasaan seperti ini tentu juga dimiliki oleh semua
rakyat yang mendiami Provinsi paling barat Sumatera ini.
Perasaan
yang tumbuh bukan tanpa alasan, sejak sadar saya telah melihat
bagaimana kondisi tanah di mana saya dilahirkan. Mencekam, menakutkan,
intimidasi, pembunuhan dan senjata seakan menjadi bagian tidak
terpisahkan dari Nanggroe. Lambat laun karena terus-menerus dalam
kondisi seperti ini layaknya bangsa yang ditekan tentu akan muncul
sikap eksklusif karena kesamaan suku atau kesamaan nasib di dalam diri
penduduknya. Maka saat itu pandangan akan terarah kepada siapa yang
berkuasa dan mempunyai wewenang memerintah negeri ini, ketika bangsa
tersebut mendapati kenyataan bahwa penguasa mereka di dominasi oleh
satu suku yang sangat totaliter dan merata dalam semua lini, perasaan
marah itu akan terbentuk. Di saat saya menyaksikan kehidupan mereka
berbeda dengan kami, kota mereka jauh lebih bagus daripada kota kami,
tentu perasaan tersebut lama kelamaan akan mengkristal menjadi sikap
benci terhadap mereka.
Arif ramdan seakan mengerti benar dengan
perasaan orang-orang seperti saya maka untuk menghilangkan rasa curiga
terhadap analisanya dia kemudian memulai dengan judul seperti di atas,
sekan ingin masuk lebih dalam dan dipercayai pembaca penulis kemudian
berkisah mengapa menurutnya Sunda itu bukan Jawa. Hal ini merupakan
langkah yang sangat tepat mengingat buku ini sejak diluncurkan pertama
kali tentu akan di konsumsi dulu oleh masyarakat objek pengamatannya
yang bisa dikatakan membenci terminologi kata Jawa!
Untuk
memperkuat objektivitas dari tulisannya Arif Ramdan di bagian lain
bukunya juga menyertakan tulisan yang menjelaskan kepada pembaca bahwa
dia layak di percaya karena tidak hanya tinggal di Aceh namun juga
menikah dengan orang Aceh sehingga itu juga menjadi pendukung bagi
pandangannya terhadap rakyat Aceh. Tidak lupa penulis juga menyertakan
tulisan bahwa dirinya kini telah di karuniai buah hati dari hasil
pernikahannya dengan Ureung Aceh (Yordani) sehingga makin mepertegas
sisi dari percampuran budaya yang dimilikinya.
Kesan lain yang
membuat saya suka adalah ketika kehidupan Aceh dipotret dari sisi
syariatnya yang mengental dalam adat, sehingga tulisan-tulisan dalam
buku ini tidak hanya sekadar membahas budaya yang antropologis namun
juga berisi penjelasan-penjelasan dari pandangan Islam yang membuat
uraiannya tidak hanya terkesan pengamatan tapi juga berisi penjelasan
dan analisa. Hal-hal yang menurut penulis tidak sesuai dengan pandangan
Islam kemudian dengan sangat santun diluruskan. Seperti pembahasan
dalam judul Perabon Aceh, walaupun dalam kasus ini penjelasannya sangat
subjektif karena bisa jadi hanya di lakukan oleh sekelompok orang yang
ada di Aceh, namun pelurusan dari aspek syariah memang patut di berikan
apresiasi di sebabkan jarangnya orang menganalisa sebuah kejadian
langsung dari sudut ke Islaman.
Kekurangan dalam buku ini yaitu
terlalu banyak bagan cerita yang berulang-ulang, seperti topik-topik
bahasan yang menyangkut proses reintegrasi. Kemudian stigmatisasi buruk
seperti dalam uraian "Tipu Aceh" hendaknya tidak di jadikan pembahasan
utama apalagi menjadi satu judul di mana penulis sepertinya terlalu
mengeneralisir persoalan dengan mengaitkan antara sejarah penipuan yang
dilakukan oleh Teuku Umar dengan keputusan GAM untuk berdamai hingga
seolah-olah terkesan bahwa bangsa Aceh adalah penipu. Menurut saya
stigmatisasi seperti ini perlahan-lahan harus di hapus dari catatan
sejarah.
Terlepas dari itu semua menurut saya buku ini sangat
layak di baca dan mampu menjadi referensi bagi perkembangan khasanah
sosial masyarakat, apalagi kemudian buku ini juga memuat tulisan Ampuh
Devayan di akhir yang saya rasa sangat penting karena berfungsi sebagai
rangkuman sekaligus penyeimbang dari apa yang telah di lihat oleh Arif
Ramdan selama 5 tahun ia berada di Aceh.
Buku ini kedepan bisa
di jadikan sebagai perkenalan awal bagi mereka yang ingin mengetahui
lebih dalam tentang Aceh, terlebih bagi mereka yang selama ini
memandang Aceh secara negatif dengan alasan buku ini bukan di tulis
oleh orang Aceh, lebih lanjut juga mengajarkan kita akan budaya oral
seperti lazimnya kita lakukan di warung kopi sudah selayaknya di catat
untuk kemudian di buku kan karena kelak akan menjadi arsip sejarah,
coba bayangkan orang di luar saja menulis tentang Aceh lalu mengapa
kita tidak tertarik untuk menulis juga dari sudut pandang geutanyoe
selaku masyarakatnya.
Akhirul kalam terlepas dari pro dan kontra
mengenai analisa buku ini, saya selaku pribadi salut kepada Arif
Ramdan yang telah berusaha menceritakan Aceh ke luar melalui usaha
menulis perpaduan antara dua budaya yaitu Sunda dan Aceh, maka tidak
terlalu berlebihan kiranya bila saya mengatakan bahwa dia telah menulis
lintas budaya.
Ferza Koetaraja
Mahasiswa Unsyiah Banda Aceh