Baraya,

Pangalaman ti masyarakat di kepulauan Solomon di handap ieu kalebet hikmah
anu tiasa dialap berkahna. Tatangkalan wae anu tingkatan jiwana panghandapna
ti sakabeh makhluk, bisa soak nepi ka paehna ku alatan disentak ku jelema,
sok komo deui manusa anu satemenna mibanda jiwa sensitif.

Paingan, boh ceuk agama atawa ceuk budaya titinggal karuhun, komunikasi teh
kudu dilakukeun kalayan hade, utamana, sesentak teh dipahing pisang. Dina
agama, nyoko kana Islam, aya sababaraha jenis komunikasi (ti mimiti qoulan
syadida = kalimah-kalimah atawa ucapan anu tegas, nepi ka qoulan layinnan =
kalimah atawa ucap anu lemah lembut). Tapi henteu aya anu nganjurkeun
sesentak atawa hahaok (komo sahaok kadua gaplok mah). Dina budaya Sunda aya
anu disebut "parigeuing" atawa tehnik nitah atawa ngingetkeun anu karasana
ngeunaheun ka anu narimana.

Carita di handap ieu kenging ti sobat. Wilujeng ngalenyepan.

manar

Date: 2010/1/12
Subject: Fwd: [f&f] Artikel : Berteriak = membunuh karakter
To: [email protected]

Artikel : Berteriak = membunuh karakter

  Hi, aku baru membaca artikel bagus. semoga bermanfaat n bisa memberi
inspirasi. selamat membaca...

Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui
pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di
Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal disana punya sebuah
kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk
apa? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan
akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lakukan, dengan tujuannya supaya pohon itu mati. Caranya
adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan
memanjat hingga ke atas pohon itu. Lalu, ketika sampai di atas pohon itu
bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak
sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan
berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang
terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya
mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok
dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau diperhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah
aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan
bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup seperti pohon
akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu
singkat, makhluk hidup itu akan mati.

Nah, sekarang, Yang jelas dan perlu diingat bahwa setiap kali Anda berteriak
kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda? orang dikeliling anda atau
siapapun?:

"Ayo cepat ! cepetaaaaaan !
Dasar lelet ! Kayak keong aja lu !
Bego banget sih ! Begitu aja nggak bisa dikerjakan ?
Jangan main-main disini !
Berisiiiiiiiiiik ! diem, diem,diem ! aaaaah!"

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena
Anda merasa sakit hati ?:

"suami/istri seperti kamu nggak tahu diri ! ngaca dong ngaca ! Bodoh banget
jadi laki/bini nggak bisa apa-apa ! bisanya Cuma minta,minta dan minta !
Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget siiiih !? gak makan sekolahan apa
?!"

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya :

"Goblok, soal mudah begitu aja nggak bisa ngerkain ! Kapan kamu jadi pinter
?!"

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal :

"Eh tahu nggak ?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku nggak bakal nyesel
! Ada banyak yang bisa gantiin kamu !
Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu ?"

Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel,
marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk
kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa
setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang
kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan
kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita
perlahan -lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan
hubungan Kita

Dalam kehidupan sehari-hari. Teriakan, hanya di berikan tatkala kita bicara
dengan orang yang jauh jaraknya, benar?

Nah, mengapa orang yang marah dan emosional mengunakan teriakan-teriakan
padahal jarak mereka dekat bahkan hanya bisa dihitung dalam centimeter ?
Pada realitanya, meskipun secara fisik dekat tapi sebenarnya hati begitu
jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak! Selain
itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta
mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci
atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita
ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang Jika Kita tetap ingin roh pada orang yang Kita sayangi
tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan
teriakan-teriakan. Dengan berteriak kepada orang lain ada dua kemungkinan
balasan yang Kita akan terima. Kita akan dijauhi atau Kita akan mendapatkan
teriakan balik, sebagai balasannya.
-- 

 

Kirim email ke